Efektivitas Intervensi Multilevel Terhadap Perilaku Pencegahan Environmental Enteric Dysfunction (EED) Di Kabupaten Banyumas
Setiyowati Rahardjo, Dr Toto Sudargo, M.Kes ; Dr.dr.Titis Widowati, Sp.A(K)
2026 | Disertasi | S3 Kedokteran Umum
Latar Belakang : Stunting terutama terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan dan prevalensi stunting lebih sering terjadi pada anak usia 6-23 bulan (45,5%). Bukti global menunjukkan bahwa environmental enteric dysfunction (EED) merupakan gangguan usus halus yang bersifat sub-klinis akibat faktor lingkungan, ditandai dengan peradangan usus yang menghambat penyerapan zat gizi, dan bila berlangsung dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Belajar dari keberhasilan intervensi sebelumnya yang dilakukan di berbagai populasi, diajukan suatu intervensi kompleks dengan konsep multilevel.
Tujuan : Mengetahui efektivitas intervensi multilevel dalam meningkatkan perilaku pencegahan EED di Kabupaten Banyumas , mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan EED serta mengetahui pemahaman masyarakat tentang EED dan stunting.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen dengan desain nonrandomize pretest posttestcontrol group design. Komponen dan prosedur intervensi dirancang berdasarkan model multilevel approach to community health (MATCH). Tahap pertama yaitu melakukan need assesment dengan focus group discussion (FGD) dengan bidan desa, kader dan ibu balita untuk menentukan bahan materi intervensi. Tahap berikutnya adalah melakukan intervensi yang meliputi level organisasi (bidan desa),level masyarakat (kader posyandu), level keluarga (suami) dan level individu (ibu balita). Intervensi menggunakan ppt power point, buku saku dan leaflet dilakukan selama 6 bulan. Analisis data prettest dan posttest variabel pengetahuan, sikap, perilaku, menggunakan uji paired t-test, dan uji mann withney untuk data yang tidak berdistribusi normal. Untuk menguji efektivitas intervensi multilevel terhadap perilaku pencegahan EED dilakukan uji Ancova.
Hasil penelitian : Setelah mengontrol semua kovariat, intervensi multilevel terbukti berpengaruh signifikan dan kuat terhadap perilaku pencegahan EED dan stunting (F=42,813; p< 0>EED masih belum baik, pemahaman tentang stunting menggambarkan bahwa kejadian stunting sebagian besar dialami oleh anak-anak di lingkungan sekitar. Hasil FGD dengan kader, dijelaskan bahwa proses diagnosis stunting merupakan proses yang panjang termasuk kader sebagai salah satu pihak yang berperan.
Kesimpulan : Setelah mengontrol semua kovariat, intervensi multilevel terbukti berpengaruh signifikan dan kuat terhadap perilaku pencegahan stunting.Variabel yang berpengaruh terhadap perilaku pencegahan EED adalah peran suami dan perilaku sanitasi yang dikontrol dengan sikap ibu. Pemahaman masyarakat tentang stunting sudah cukup baik tetapi untuk pemahaman EED masih kurang
Background: Stunting primarily occurs in the first 1,000 days of life, and its prevalence is higher in children aged 6-23 months (45.5%). Global evidence indicates that environmental enteric dysfunction (EED) is a subclinical small intestine disorder caused by environmental factors, characterized by intestinal inflammation that inhibits nutrient absorption and, if persisted over the long term, can contribute to stunting. Learning from the success of previous interventions conducted in various populations, a complex intervention with a multilevel concept is proposed.
Objectives: To determine the effectiveness of multilevel interventions in improving EED prevention behaviors in Banyumas Regency, to identify factors influencing EED prevention behaviors, and to assess community understanding of EED and stunting.
Research Methods: This study used an experimental design with a non-randomized pretest-posttest control group design. The intervention components and procedures were designed based on the multilevel approach to community health (MATCH) model. The first stage was a needs assessment using focus group discussions (FGDs) with village midwives, community health workers, and mothers of toddlers to determine intervention materials. The next stage involved implementing interventions at the organizational level (village midwives), community level (integrated health post cadres), family level (husbands), and individual level (mothers of toddlers). The intervention, using PowerPoint presentations, pocket books, and leaflets, was conducted over a six-month period. Pretest and posttest data for knowledge, attitudes, and behavior variables were analyzed using paired t-tests, and Mann-Whitney tests for non-normally distributed data. An ANCVA test was used to test the effectiveness of the multilevel intervention on EED prevention behavior.
Research Results: After controlling for all covariates, the multilevel intervention proved to have a significant and strong effect on EED and stunting prevention behavior (F=42.813; p<0>
Conclusion: After controlling for all covariates, multilevel interventions proved to have a significant and strong effect on stunting prevention behavior. The variables influencing EED prevention behavior were the husband's role and sanitation behavior, which was controlled by the mother's attitude. Public understanding of stunting was quite good, but understanding of EED was still lacking.
Kata Kunci : Intervensi multilevel, perilaku pencegahan, EED, stunting / Multilevel intervention, prevention behavior, EED, stunting