Pengaruh paparan getaran tempat duduk dan lama kerja terhadap kelelahan dan kenyamanan kerja pengemudi bis Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) trayek Semarang Yogyakarta
RUSDJIJATI, Retno, Dr.dr. Lientje Setyawati Maurits, MS.,Sp.Ok
2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaPengemudi bis AKAP trayek Semarang-Yogyakarta setiap harinya bekerja selama 12 – 16 jam. Mereka bekerja dalam lingkungan yang mempunyai resiko terhadap kesehatan dan keselamatannya, salah satunya adalah paparan getaran tempat duduk yang berasal dari aktivitas mesin. Hasil pengukuran pendahuluan menunjukkan paparan getaran tempat duduk pengemudi pada saat bis berjalan dengan kecepatan 60 – 80 km/jam rata-rata adalah 2 m/dt2 . Akibatnya para pengemudi merasa tidak nyaman dalam bekerja dan cepat merasa lelah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paparan getaran tempat duduk dan lama kerja terhadap kelelahan dan kenyamanan kerja pengemudi bis. Jenis penelitiannya adalah observational dengan rancangan retrospektif. Sampel penelitian meliputi para pengemudi bis kelas ekonomi AKAP trayek Semarang-Yogyakarta dari PO Santoso dan PO Trisakti A Magelang yang melalui kriteria inklusi diperoleh 25 orang. Sampel penelitian dikelompokkan berdasarkan masa kerja, waktu kerja dan besarnya paparan getaran tempat duduk pengemudi yang diterimanya. Tingkat kelelahan kerja ditentukan dengan cara mengukur waktu reaksi pengemudi berdasarkan rangsang cahaya dengan menggunakan reaction timer L-77 . Kenyamanan kerja diukur dengan kuesioner Body Part Discomfort Scale untuk menentukan ada tidaknya keluhan musculoskeletal dan Standardized Nordic Questionnaire untuk menentukan risiko dari keluhan tersebut. Paparan getaran tempat duduk pengemudi diukur dengan menggunakan vibration meter. Juga sejumlah data pendukung seperti umur, berat badan dan tinggi badan sampel yang diperoleh melalui wawancara. Untuk mengetahui pengaruh paparan getaran tempat duduk pengemudi dan lama kerja terhadap kelelahan dan kenyamanan kerja pengemudi, digunakan analisis variansi Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata paparan getaran tempat duduk pengemudi bis adalah 2,5 m/dt2, waktu kerja 15,8 jam/hari, masa kerja 13,1 tahun dan tingkat kelelahan para pengemudi tersebut termasuk kategori ringan. Meskipun demikian tidak ada pengaruh yang bermakna antara paparan getaran (p = 0,134), masa kerja (p = 0,927) dan waktu kerja (p= 0,165) terhadap kelelahan kerja. Untuk tingkat kenyamanan kerja ternyata ada pengaruh yang bermakna antara paparan getaran, masa kerja dan waktu kerja terhadap ketidaknyamanan pada bagian leher, bahu, lengan bawah, pantat, pinggang, paha dan kaki.
Semarang-Yogyakarta intercity-interprovince bus drivers work 12 - 16 hours daily. They work in an environment that have a risk job concerning safety and healthy, ones is seat vibration from machine activation. The result of early measurements show that seat vibration was 2.0 m/sec2 when the bus run at the speed of 60 – 80 km/hours. The aim of this study was to know the effect of seat vibration and the length of working to the work fatique and comfort of the bus drivers. This study was observational with retrospective design. The sample of this study was 25 bus drivers from PO Santoso and PO Trisakti A Magelang. The sample was divided into two group according to the length of working experience, working time and also according to the magnitude of seat vibration. The fatique level was obtained by measuring reaction time of driver based on light stimulation using Reaction Timer L – 77. Working comfort is measured with the questionnaire of Body Part Discomfort Scale to determine in where there is musculoskeletal disorders or not and the Standardized Nordic Questionnaire for detecting the risk of musculoskeletal disorders. The levels of seat vibration were measured by vibration meter. To know the effectof seat vibration and length of working to have a fatique and comfort of the bus drivers was using analysis Kruskall-Wallis analysis. Research results shows that mean of seat vibration is 2,5 m/sec2 , working time is 15,8 hours/day, working experience is 13,1 years and driver’s fatique level is classified as low level. Otherwise, there is no significant difference between seat vibration (p = 0,1340), working length (p = 0,927), and working time (p = 0,165) to work fatique. There is significant difference among vibration exposures, working length and working time to work discomfort on neck, shoulder, forearm, buttocks, low back, thigh, and foot.
Kata Kunci : Kesehatan Kerja,Kelelahan,Pengemudi Bus AKAP,Getaran Tempat Duduk