FABRIKASI DAN PENGEMBANGAN NANOFIBER BERBASIS PVA/PEO CARBON DOTS (CDs) Coffea canephora UNTUK APLIKASI PEMBALUT LUKA MODERN ANTIBAKTERI
Aliffia Widyasari Putri Arbi, Dr. Eng. Ahmad Kusumaatmaja, S.Si., M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Fisika
Kulit
merupakan bagian terluar dari tubuh sehingga rentan mengalami
kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh tekanan eksternal, trauma, maupun
luka bakar. Proses penyembuhan luka pada kulit sering mengalami kendala akibat
infeksi bakteri patogen pada luka yang dapat memperlambat proses penyembuhan
sehingga diperlukan pembalut luka yang mampu mempercepat proses penyembuhan
serta memiliki aktivitas antibakteri. Oleh sebab itu, penelitian ini dibuat
dengan tujuan untuk memfabrikasi dan mengkarakterisasi membran nanofiber
berbasis polimer polivinil alkohol (PVA) dan polietilen oksida (PEO) yang
ditambahkan carbon dots (CDs) berbahan dasar biji kopi robusta (Coffea
canephora) yang berasal dari Aceh Gayo sebagai material pembalut luka yang
memiliki aktivitas antibakteri. Nanofiber PVA/PEO/CDs difabrikasi dengan
menggunakan metode electrospinning pada beberapa variasi penambahan CDs
yaitu sebesar 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Hasil fabrikasi nanofiber kemudian
dilanjutkan dengan karakterisasi meliputi morfologi dengan menggunakan SEM,
gugus fungsi dengan FTIR, ukuran partikel CDs dengan TEM, sifat optik dengan photoluminesens
(PL), kekuatan mekanik dengan uji tarik, sifat keterbasahan dengan WCA, serta
aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia
coli menggunakan metode difusi cakram sumur. Pengujian biokompatibilitas
dilakukan dengan melibatkan hewan coba berupa mencit untuk dilakukan uji
sensitivitas kulit dan uji penyembuhan luka (wound healing). Hasil karakterisasi TEM menunjukkan bahwa CDs
yang dihasilkan berbentuk bulat dengan diameter rata-rata 17,5 ± 4 nm dan untuk
uji photoluminesens (PL) mengonfirmasi bahwa terbentuk puncak emisi pada
panjang gelombang 470 – 520 nm sebagai ciri khas CDs. Penambahan CDs pada
membran nanofiber menyebabkan penurunan diameter secara bertahap dari 153 ± 24
nm pada konsentrasi 5% hingga 100 ± 20 nm pada konsentrasi 25%. Seluruh sampel
membran nanofiber bersifat hidrofilik dibuktikan dengan pengukuran sudut kontak
yang nilainya di bawah 90o serta menunjukkan peningkatan aktivitas
antibakteri seiring dengan kenaikan konsentrasi CDs yang ditambahkan. Membran
nanofiber dengan penambahan CDs sebesar 25% menunjukkan zona hambat terbesar
terhadap Staphylococcus aureus sebesar 4,22 ± 0,92 mm dan Escherichia
coli sebesar 1,86 ± 0,63 mm. Hasil uji sensitivitas kulit juga tidak
menunjukkan adanya kemerahan (eritema) maupun
edema pada kulit mencit dan ketika uji in vivo pada proses penyembuhan
luka juga menunjukkan bahwa membran nanofiber PVA/PEO/CDs dengan konsentrasi
25% mampu mempercepat proses penyembuhan luka setara pembalut luka yang
tersedia dipasaran.
The
skin is the outermost organ of the human body and is therefore highly
susceptible to damage caused by external pressure, trauma and burns. The wound
healing process is often disrupted by pathogenic bacterial infections, which
can significantly slow down tissue recovery. Consequently, there is a growing
need for wound dressings capable of accelerating the healing process whilst
exhibiting antibacterial activity. This study aims to fabricate and
characterise a polyvinyl alcohol (PVA) and polyethylene oxide (PEO)
polymer-based nanofiber membrane incorporated with carbon dots (CDs) derived
from Robusta coffee beans (Coffea canephora) sourced from Aceh Gayo as a
material for antibacterial wound dressings. PVA/PEO/CDs nanofiber were produced
using the electrospinning method with varying concentrations of CDs, namely 5%,
10%, 15%, 20%, and 25%. The resulting nanofiber were then characterised in
terms of morphology using Scanning Electron Microscopy (SEM), functional groups
using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), particle size of CDs
using Transmission Electron Microscopy (TEM), optical properties via Photoluminescence
(PL) spectroscopy, mechanical strength via tensile testing, water content via
Water Contact Angle (WCA) measurement, and antibacterial activity against Staphylococcus
aureus and Escherichia coli using the well diffusion method.
Biocompatibility assessment was carried out using mice as test animals via skin
sensitisation and wound healing tests. TEM characterisation showed that the
synthesised CDs had a spherical morphology with an average diameter of 17.5 ± 4
nm, whilst PL analysis confirmed the formation of emission peaks at wavelengths
of 470–520 nm, which is characteristic of CDs. The incorporation of CDs into
the nanofiber membrane resulted in a gradual decrease in fibre diameter from
153 ± 24 nm at a concentration of 5% to 100 ± 20 nm at a concentration of 25%.
All nanofiber membrane samples exhibited hydrophilic behaviour, as evidenced by
contact angle measurements below 90°, and demonstrated increased antibacterial
activity with rising CD concentrations. The nanofiber membrane containing 25?s produced the largest inhibition zones against Staphylococcus aureus
and Escherichia coli, measuring 4.22 ± 0.92 mm and 1.86 ± 0.63 mm,
respectively. Skin sensitisation tests showed no signs of erythema or edema on
the skin of mice, and in vivo wound healing assessments indicated that the
PVA/PEO/CDs nanofiber membrane at a 25% concentration was capable of
accelerating the wound healing process to a level comparable to commercially
available wound dressings.
Kata Kunci : Carbon dots (CDs), nanofiber, PVA/PEO/CDs, electrospinning, pembalut luka