Model Pengelolaan Migran Berbasis Awig-Awig Desa Adat (Kasus Pada Desa Adat di Kecamatan Kuta Selatan-Bali)
I Made Sarmita, Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si.,M.A; Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si.,M.Si
2026 | Disertasi | S3 Kependudukan
Migrasi merupakan salah satu komponen penting dalam
dinamika kependudukan yang membawa konsekuensi sosial, ekonomi, dan budaya bagi
daerah tujuan migrasi. Di Bali, khususnya di Kecamatan Kuta Selatan, keberadaan
migran terjadi dalam ruang sosial yang khas karena wilayah ini berada dalam
sistem desa adat yang memiliki aturan adat (awig-awig) yang mengatur
kehidupan masyarakat, termasuk migran. Pesatnya perkembangan pariwisata di
wilayah ini mendorong meningkatnya arus migrasi masuk yang menjadikan struktur
masyarakat semakin heterogen. Dalam kondisi tersebut, keberadaan awig-awig
desa adat menjadi instrumen penting dalam menjaga harmonisasi kehidupan antara
masyarakat lokal dan migran.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis
karakteristik demografi, ekonomi, dan sosial budaya migran; (2) mengembangkan
tipologi migrasi berdasarkan lama tinggal, niat migrasi selanjutnya, serta
karakteristik individu migran; (3) menganalisis proses penyesuaian diri migran
dalam kehidupan desa adat yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana
pada ranah Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan; serta (4) mengembangkan
model pengelolaan migran berbasis awig-awig desa adat yang dapat
digunakan sebagai kerangka pengelolaan migran dalam masyarakat adat.
Penelitian ini menggunakan desain survei eksploratif
dengan pendekatan campuran yang
mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan grounded
research. Populasi penelitian adalah seluruh migran yang tinggal pada
wilayah desa adat terpilih di Kecamatan Kuta Selatan yang berjumlah 2367 orang.
Sampel penelitian berjumlah 386 responden migran yang ditentukan dengan perhitungan
interpolasi dari tabel Isaac dan Michael dengan taraf kesalahan 10%, serta
dilengkapi dengan informan kunci yang terdiri atas responden terpilih dan bendesa
adat. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara mendalam, dan
dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis
kualitatif untuk merumuskan model pengelolaan migran berbasis adat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa migran di Kecamatan
Kuta Selatan memiliki keragaman karakteristik demografi, ekonomi, dan sosial
budaya yang memengaruhi pola adaptasi mereka dalam kehidupan masyarakat desa
adat. Berdasarkan analisis tipologi, migran dapat dikelompokkan ke dalam empat
tipe utama, yaitu migran permanen, potensial permanen, potensial sirkuler, dan
migran sirkuler. Dalam kehidupan desa adat, proses penyesuaian diri migran
berlangsung melalui tiga ranah utama yang merefleksikan nilai Tri Hita
Karana, yaitu penghormatan terhadap ruang sakral dan praktik keagamaan (Parhyangan),
keterlibatan dalam interaksi sosial dan kegiatan kemasyarakatan (Pawongan),
serta partisipasi dalam menjaga lingkungan fisik dan kebersihan wilayah (Palemahan).
Tingkat integrasi migran paling kuat terlihat pada ranah sosial (Pawongan),
sementara pada ranah ritual keagamaan partisipasi migran cenderung bersifat
terbatas.
Berdasarkan temuan empiris tersebut, penelitian ini mengembangkan model pengelolaan migran berbasis awig-awig desa adat yang menempatkan desa adat sebagai institusi lokal yang memiliki kapasitas dalam mengatur keberadaan migran melalui mekanisme registrasi adat, pengaturan hak dan kewajiban migran, serta penguatan partisipasi sosial dalam kehidupan desa adat. Model ini bersifat adaptif, partisipatif, dan berbasis kearifan lokal, sehingga memungkinkan terwujudnya harmonisasi hubungan antara masyarakat lokal dan migran dalam kerangka nilai-nilai budaya Bali.
Migration is one of the key components of
demographic dynamics, bringing social, economic, and cultural consequences to
destination areas. In Bali, particularly in South Kuta District, the presence
of migrants occurs within a distinctive social space, as the area is governed
by the traditional village system (desa adat), which is regulated by customary
laws (awig-awig) that structure community life, including that of migrants. The
rapid development of tourism in this region has driven an increasing influx of
migrants, resulting in a more heterogeneous social structure. Under these
conditions, the awig-awig of the traditional village play a crucial role as an
institutional mechanism in maintaining harmonious relations between local
communities and migrants.
This study aims to: (1) analyze the
demographic, economic, and socio-cultural characteristics of migrants; (2)
develop a migration typology based on length of stay, future migration
intentions, and individual migrant characteristics; (3) examine the process of
migrant adjustment within traditional village life based on the philosophy of
Tri Hita Karana, encompassing the domains of Parhyangan (spiritual), Pawongan
(social), and Palemahan (environmental); and (4) develop a model of migrant
management based on awig-awig (customary law) of the traditional village, which
can serve as a framework for managing migrants within customary communities.
This study employs an exploratory survey
design using a mixed-methods approach that combines quantitative and
qualitative techniques within a grounded research framework. The study
population consists of all migrants residing in selected traditional villages
in South Kuta District, totaling 2,367 individuals. The research sample
comprises 386 migrant respondents, determined through interpolation from the
Isaac and Michael table at a 10% margin of error, and is complemented by key
informants, including selected respondents and traditional village leaders
(bendesa adat). Data were collected through surveys, in-depth interviews, and
documentation, and subsequently analyzed using descriptive statistics and
qualitative analysis to develop a model of migrant management based on
customary institutions.
The findings indicate that migrants in South Kuta
District exhibit diverse demographic, economic, and socio-cultural
characteristics that influence their patterns of adaptation within traditional
village communities. Based on typological analysis, migrants can be classified
into four main types: permanent migrants, potentially permanent migrants,
potentially circular migrants, and circular migrants. Within the context of
traditional village life, the process of migrant adaptation occurs across three
main domains reflecting the values of Tri Hita Karana: respect for sacred
spaces and religious practices (Parhyangan), engagement in social interactions
and community activities (Pawongan), and participation in maintaining the
physical environment and territorial cleanliness (Palemahan). The highest level
of migrant integration is observed in the social domain (Pawongan), while
participation in religious rituals tends to be more limited.
Based on these empirical findings, this study develops a model of migrant management based on awig-awig (customary law) of the traditional village, positioning the traditional village as a local institution with the capacity to regulate the presence of migrants through customary registration mechanisms, the regulation of migrants’ rights and obligations, and the strengthening of social participation within village life. This model is adaptive, participatory, and grounded in local wisdom, thereby enabling the harmonization of relationships between local communities and migrants within the framework of Balinese cultural values.
Kata Kunci : Migran, Desa Adat, Awig-Awig, Penyesuaian diri, Tipologi / Migrants, Traditional Village, Awig-awig, Adjustment, Typology.