Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk penentuan lokasi pengembangan lahan perkebunan kopi dan kakao di kecamatan Cangkringan
Rahma Rizqyani, Prof. Dr. Dulbahri; Taufik Hery Purwanto, S.Si.; M.Si
2005 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHPenelitian ini mengkaji pemanfaatan foto udara dan sistem informasi geografis (SIG) untuk menentukan lokasi pengembangan lahan perkebunan kopi dan kakao. Ada dua tujuan utama dalam penelitian ini. Tujuan pertama adalah mengetahui kemampuan foto udara untuk menyadap informasi aspek fisik dan sosial lahan yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman perkebunan kopi dan kakao. Tujuan kedua adalah menentukan lokasi yang sesuai dan lokasi yang diprioritaskan untuk pengembangan lahan perkebunan kopi dan kakao berdasarkan kondisi fisik dan sosial lahan. Penelitian dilakukan di daerah Cangkringan dengan batas administrasi kecamatan sebagai batas daerah penelitiannya. Penentuan lokasi kesesuaian lahan untuk perkebunan kopi dan kakao dilakukan dengan metode evaluasi lahan yang menggunakan foto udara sebagai sumber data, didukung dengan kerja lapangan dan data sekunder. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SIG. Lokasi pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan metode stratified random sampling berdasarkan jumlah satuan lahan dengan mempertimbangkan aspek keterwakilan unit analisis dan keterjangkauan. Penentuan kesesuaian lahan dilakukan dengan teknik pengharkatan (scoring) masing-masing karakteristik lahan. Kesesuaian lahan mewakili kecocokan fisik lahan untuk suatu macam peruntukan dan penggunaan lahan mewakili ketersediaan lahannya. Kedua faktor ini dilakukan pengharkatan untuk menentukan prioritas lokasi lahan pengembangan perkebunan kopi dan kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa foto udara dapat digunakan untuk perolehan sebagian besar informasi karakteristik lahan yang digunakan untuk evaluasi kesesuaian lahan perkebunan kopi dan kakao. Kecamatan Cangkringan sebagian besar termasuk tingkat cukup sesuai (S2) untuk pengembangan lahan perkebunan kopi yaitu sebesar 58,46% atau seluas 26,18 km² yang terdapat di Desa Argomulyo, Wukirsari, dan bagian selatan Desa Umbulharjo, Kepuharjo, dan Glagaharjo. Untuk tanaman kakao, di kecamatan ini sebagian besar termasuk kelas sesuai marjinal (S3) yaitu sebesar 76,35% atau seluas 34,19 km² yang terdapat di Desa Argomulyo, Wukirsari, dan bagian selatan Desa Umbulharjo, Kepuharjo, dan Glagaharjo. Pada prioritas lokasi pengembangan perkebunan kopi, sebagian besar merupakan prioritas III yang berlokasi di sebagian Desa Argomulyo, Wukirsari, serta bagian tengah dan utara Desa Umbulharjo, Kepuharjo, dan Glagaharjo dengan prosentase 52,88% atau seluas 23,68 km². Sebagian besar wilayah Kecamatan Cangkringan tidak diprioritaskan untuk perkebunan kakao, yaitu seluas 24,75 km² atau dengan prosentase 55,27% dari luas total daerah penelitian yang berada pada sebagian besar Desa Wukirsari, Desa Argomulyo bagian selatan, Desa Umbulharjo bagian selatan dan utara, Desa Kepuharjo bagian barat daya dan utara, serta bagian utara Desa Glagaharjo.
This research studied the application of aerial photograph and geographic information system (GIS) to establish area development of coffee and cocoa estate. There's two aims in this research. First, detect capability of aerial photograph to tap physically and socially land information that related to coffee and cocoa plant growth. Second aim is establish locate that suitable and priority area for development area for coffee and cocoa estate that base on physically and socially condition of land. This research held in Cangkringan region with administration boundary as research area boundary. Land suitable area for coffee and cocoa estate determine by land evaluation method using aerial photograph completed by field work and secondary data. Data analyst use GIS. The location of sample take in a stratified random sampling method base on count of land unit by considering a representative of analyst unit and accessibility. Land suitability establish by scoring method of every land characteristic. Land suitability representing a suitable of physically land characteristic for certain utilizing. Land use type representing land supply and economic value of land use type in present time considering with certain utilizing. Both of this factors in order to scoring to establish priority area for coffee and cocoa estate development area. Output of this research showed that aerial photograph able to gathering mostly information about land characteristic to land suitable evaluation for coffee and cocoa. Most of Cangkringan District belong to adequate suitability level (S2) to develop coffee estate that extent 58,46% of total area or 26,18 km² which occur at Desa Argomulyo, Wukirsari, and in south part of Desa Umbulharjo, Kepuharjo, and Glagaharjo. For cocoa estate, this Cangkringan district the largest level suitability is marginal suitability (S3) that extent 76,35% of total area or 34,19 km² which occur at Desa Argomulyo, Wukirsari, and in south part Desa Umbulharjo, Kepuharjo, and Glagaharjo. At priority of coffee estate land development, most of this area belong to third priority which located in part of Desa Argomulyo and Wukirsari, middle and north part of Desa Umbulharjo, Kepuharjo, and Glagaharjo with percentages 52,88% or 23,68 km². most of Cangkringan district were not prioritized for cocoa estate land development with 24,75 km² range or with percentage 55,27% of total research area which occur in most of Desa Wukirsari, south part of Desa Argomulyo, south and north part of Desa Umbulharjo, southwest and north part of Desa Kepuharjo, and north part of Desa Glagaharjo.
Kata Kunci : Pengembangan lahan,foto udara,sistem informasi geografis,Perkebunan Kakao,Cangkringan,Sleman,DIY