Kasus Nasi Darurat Jogja sebagai Self-Organization untuk Memberikan Layanan Publik Berbasis Modal Sosial
Wahyu Nur Haidar, Dr. Ambar Teguh Sulistiyani, M.Si.
2026 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Situasi darurat seringkali
memunculkan inisiatif solidaritas akar rumput untuk mengisi celah pelayanan
yang lambat atau tidak terjangkau oleh negara. Di Yogyakarta, Gerakan Nasi
Darurat Jogja hadir sebagai wujud self-organization dalam merespons
kebutuhan pangan masyarakat rentan dan perantau. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis operasionalisasi unsur modal sosial dalam memobilisasi sumber daya
secara mandiri oleh Nasi Darurat Jogja, serta mengidentifikasi bagaimana modal
sosial tersebut menjadi fondasi bagi independensi tata kelola gerakan dari
intervensi birokrasi negara yang kaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data lapangan diperoleh
melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan terkait, serta
dokumentasi. Analisis dilakukan secara interaktif untuk membedah dinamika
pengelolaan sumber daya dan tata kelola organisasi informal tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan dua
kesimpulan utama. Pertama, unsur-unsur modal sosial yang meliputi kepercayaan, jaringan,
dan norma bekerja secara terintegrasi sebagai infrastruktur utama penggerak
mobilisasi dana dan relawan secara mandiri. Kedua, modal sosial terbukti
menjadi fondasi yang memungkinkan Nasi Darurat Jogja mempertahankan
independensinya dari birokrasi negara. Gerakan ini mengganti mekanisme
pelaporan formal dengan akuntabilitas berbasis reputasi publik dan menciptakan
standar pelayanan yang lincah melalui aturan internal berbasis kepercayaan,
tanpa syarat administratif yang rumit. Meskipun demikian, temuan lapangan juga
menunjukkan kelemahan manajerial pada gerakan ini. Ketergantungan penuh pada
tata kelola informal dan kesukarelaan memunculkan kerentanan terhadap risiko
kecurangan, ketidakstabilan arus kas, dan pengurasan sumber daya jika volume
permintaan melonjak drastis. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal sosial
sangat efektif untuk self-organization pelayanan publik darurat skala
kecil, namun memerlukan penguatan sistem manajemen risiko agar keberlanjutan
dan reputasi gerakan tetap terjaga.
Emergency situations often trigger
grassroots solidarity initiatives to fill service gaps that are slow or
unreachable by the state. In Yogyakarta, the Nasi Darurat Jogja Movement
emerged as a form of self-organization in responding to the food needs of vulnerable
communities and migrants. This study aims to analyze the operationalization of
social capital elements in mobilizing resources independently by Nasi Darurat
Jogja, as well as to identify how this social capital serves as a foundation
for the movement's governance independence from rigid state bureaucratic
interventions. This research employs a descriptive qualitative approach with a
case study design. Field data were obtained through observation, in-depth
interviews with relevant informants, and documentation. The analysis was
conducted interactively to dissect the dynamics of resource management and the
governance of this informal organization.
The research results reveal two
main conclusions. First, the elements of social capital, which include trust,
networks, and norms function in an integrated manner as the primary
infrastructure driving the independent mobilization of funds and volunteers.
Second, social capital is proven to be the foundation that enables Nasi Darurat
Jogja to maintain its independence from the state bureaucracy. This movement
substitutes formal reporting mechanisms with public reputation-based
accountability and creates agile service standards through trust-based internal
rules, without complex administrative requirements. Nevertheless, field
findings also indicate managerial weaknesses within the movement. Full reliance
on informal governance and volunteerism creates vulnerabilities to the risks of
fraud, cash flow instability, and resource depletion if the volume of requests
surges drastically. This study demonstrates that social capital is highly
effective for the self-organization of small-scale emergency public services, yet
it requires the strengthening of risk management systems to ensure the
movement's sustainability and reputation are maintained
Kata Kunci : Modal Sosial; Self-Organization; Pelayanan Publik; Nasi Darurat Jogja; Gerakan Sosial Akar Rumput/Social Capital; Self-Organization; Public Service; Nasi Darurat Jogja; Grassroots Social Movement.