Perbandingan Performa Prognostik Skor SIC dan IABP SHOCK II Pasien IMA-EST Dengan Syok Kardiogenik yang Dilakukan Intervensi Koroner Perkutan
Ammar Setyawan, Budi Yuli Setianto, Firandi Saputra
2026 | Tesis-Spesialis | ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
Latar Belakang:
Syok kardiogenik pada pasien infark miokard akut elevasi segmen ST (IMA-EST)
berkaitan dengan mortalitas rumah sakit yang tinggi meskipun dengan
perkembangan intervensi koroner perkutan (IKP) dan manajemen intensif.
Stratifikasi risiko dapat membantu penentuan intensitas pemantauan, eskalasi
terapi, dan komunikasi prognostik. Skor IABP-SHOCK II banyak digunakan dengan memerlukan
parameter laboratorik dan angiografi pasca IKP, sedangkan Shock Index Creatinine
(SIC) merupakan skor sederhana berbasis
tanda vital dan fungsi ginjal yang tersedia sejak awal admisi.
Tujuan Penelitian: Membandingkan
performa prognostik skor SIC dan IABP-SHOCK II dalam memprediksi mortalitas
rumah sakit pada pasien IMA-EST dengan syok kardiogenik yang menjalani IKP
Metode Penelitian: Studi
observasional analitik dengan desain kohort retrospektif menggunakan registri
SCIENCE RS Dr. Sardjito periode Januari 2022–Desember 2025. Subjek adalah
pasien IMA-EST dengan syok kardiogenik yang menjalani IKP dan memenuhi kriteria
inklusi serta eksklusi. Luaran utama adalah mortalitas rumah sakit.
Diskriminasi dinilai menggunakan kurva ROC dan area under the curve (AUC),
perbandingan AUC menggunakan uji DeLong, kalibrasi menggunakan uji
Hosmer–Lemeshow, serta nilai guna klinis dievaluasi menggunakan decision
curve analysis (DCA)
Hasil: Dari 283 pasien yang
memenuhi kriteria awal, 28 pasien dieksklusi sehingga 255 subjek dianalisis;
mortalitas rumah sakit terjadi pada 126 pasien (49,4%). Skor SIC menunjukkan
AUC 0,650 (IK95% 0,583–0,717), sedangkan skor IABP-SHOCK II menunjukkan AUC
0,745 (IK95% 0,686–0,803). Uji DeLong menunjukkan perbedaan AUC bermakna
(selisih 0,094; p=0,024). Kedua skor memiliki kalibrasi yang baik
(Hosmer–Lemeshow: IABP-SHOCK II p=0,582; SIC p=0,364). Pada DCA, IABP-SHOCK II
memberikan manfaat lebih tinggi pada rentang ambang probabilitas luas (terutama
20–80%), sementara SIC menunjukkan manfaat pada ambang probabilitas
rendah–menengah hingga sekitar 60–65%.
Kesimpulan: Pada pasien IMA-EST
dengan syok kardiogenik, skor IABP-SHOCK II menunjukkan kemampuan diskriminasi
yang lebih tinggi dibandingkan SIC untuk memprediksi mortalitas rumah sakit.
Namun, skor SIC tetap memiliki nilai prognostik yang bermakna, menunjukkan kalibrasi
yang baik, dan dapat dipertimbangkan sebagai alat stratifikasi risiko awal yang
sederhana dan praktis terutama pada fasilitas dengan keterbatasan ketersediaan
parameter laboratorik tertentu atau data angiografi pasca-IKP.
Background: Cardiogenic shock in
patients with ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) is associated
with high in-hospital mortality despite advances in percutaneous coronary
intervention (PCI) and intensive management. Risk stratification may help determine
monitoring intensity, therapeutic escalation, and prognostic communication. The
IABP-SHOCK II score is widely used but requires laboratory parameters and
post-PCI angiographic data, whereas the Shock Index Creatinine (SIC) score is a
simpler tool based on vital signs and renal function available early at
admission.
Objective: To compare the
prognostic performance of the SIC and IABP-SHOCK II scores in predicting
in-hospital mortality among STEMI patients with cardiogenic shock undergoing
PCI.
Methods: An analytical
observational study with a retrospective cohort design was conducted using the
SCIENCE registry at Sardjito Hospital from January 2022 to December 2025.
Subjects were STEMI patients with cardiogenic shock who underwent PCI and met
the inclusion and exclusion criteria. The primary outcome was in-hospital
mortality. Discrimination was assessed using ROC curves and area under the
curve (AUC); AUCs were compared using DeLong’s test. Calibration was evaluated
using the Hosmer–Lemeshow test, and clinical utility was assessed using
decision curve analysis (DCA).
Results: Of 283 patients
meeting the initial criteria, 28 were excluded, leaving 255 subjects for
analysis; in-hospital mortality occurred in 126 patients (49.4%). The SIC score
showed an AUC of 0.650 (95%CI 0.583–0.717), whereas the IABP-SHOCK II score
showed an AUC of 0.745 (95%CI 0.686–0.803). DeLong’s test demonstrated a
significant difference in AUC (?AUC 0.094; p=0.024). Both scores showed good
calibration (Hosmer–Lemeshow: IABP-SHOCK II p=0.582; SIC p=0.364). In DCA,
IABP-SHOCK II provided higher net benefit across a broad threshold probability
range (particularly 20–80%), while SIC showed net benefit mainly at
low-to-intermediate thresholds up to approximately 60–65%.
Conclusion: In STEMI patients with cardiogenic shock, the IABP-SHOCK II score demonstrated higher discriminatory ability than SIC for predicting in-hospital mortality. Nevertheless, the SIC score retained meaningful prognostic value with good calibration and may be considered a simple and practical early risk-stratification tool, particularly in settings where certain laboratory parameters or post-PCI angiographic data are not readily available.
Kata Kunci : IMA-EST, syok kardiogenik, intervensi koroner perkutan, IABP-SHOCK II, SIC, mortalitas rumah sakit, ROC, AUC.