Laporkan Masalah

KETERIKATAN ORANG SUNGAI PADA TEMPAT TINGGAL ASAL: KEHIDUPAN PENDUDUK KAPUAS HULU DI KOTA PONTIANAK

ANNISA DWI LESTARI, Dr. Sita Hidayah, S.Ant., MA.

2026 | Tesis | S2 Antropologi

Studi ini berangkat dari sebuah kenyataan yang seringkali luput perhatian dalam kajian migrasi dan studi perkotaan: perpindahan fisik seseorang dari satu ruang ke ruang lain tidak serta-merta memutus keterikatan emosional, kognitif, dan identitasnya dengan tempat asal. Orang sungai dari Kapuas Hulu yang bermigrasi ke kota Pontianak mengalami apa yang dapat disebut sebagai perpindahan ontologis: bukan sekedar perpindahan lokasi, melainkan perpindahan dari ruang liminal yang cair dan dinamis menuju ruang teritorial perkotaan. 

Di balik masalah keterikatan Orang Sungai dengan daerah asal tersimpan pertanyaan utama: bagaimana pertarungan wacana dan praktik tentang sungai, baik sebagai tempat maupun sebagai pengalaman yang berlangsung dalam kehidupan Orang Sungai sebagai pendatang di perkotaan. Sejalan dengan itu, penelitian menjawab tiga pertanyaan operasional: (1) bagaimana sungai sebagai tempat masa lalu dihadirkan dalam percakapan sehari-hari; (2) bagaimana pengalaman hidup di sungai membentuk relasi sosial di antara mereka yang berbagi masa lalu yang sama; dan (3) bagaimana penduduk kota memelihara ikatan dengan tempat dan aktivitas masa lalu, termasuk dalam praktik kunjungan balik dan partisipasi dalam upacara.

Desain kualitatif yang berpijak pada metode wawancara mendalam yang memberi perhatian pada bagaimana individu memaknai peristiwa-peristiwa sosial sepanjang hidupnya digunakan dalam penelitian. Subjek penelitian terdiri dari tiga kelompok generasi: generasi pertama yang lahir dan tumbuh di wilayah sungai Kapuas Hulu, generasi kedua terdiri dari migran yang dibawa ke kota sejak kanak-kanak, dan generasi ketiga mereka yang lahir di Pontianak dari orang tua berlatar belakang sungai. Informan berasal dari latar profesi beragam, mulai dari mantan bupati, dosen, tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, hingga aktivis, dan mahasiswa, yang diwawancarai secara individual maupun dalam tiga sesi diskusi kelompok. Pemilihan kasus dilakukan dengan teknik snowballing, dimulai dari seorang tokoh utama yang merepresentasikan Orang Sungai di Pontianak.

Penelitian yang berlangsung dari bulan Februari hingga April 2026 ini menemukan bahwa keterikatan Orang Sungai pada tempat asal tidak melemah ketika mereka berpindah ke kota, melainkan bertransformasi menjadi suatu mekanisme reproduksi identitas yang aktif, strategis, dan berlapis. Reproduksi identitas terwujud dalam empat manifestasi: sungai berfungsi sebagai horizon moral dan kosmologi identitas; resiliensi cair yang tampak pada kemampuan adaptasi terhadap perubahan peran di kota; solidaritas jaringan asal yang terbentuk sejak kehidupan di sungai bertransformasi menjadi sistem pendukung sosial-ekonomi-politik di perantauan; dan memori sungai di pertahankan melalui praktik mnemonik yang menubuh. Studi ini menyimpulkan bahwa perpindahan ke kota tidak menghancurkan lokalitas, melainkan mendorong terjadinya reproduksi lokalitas yang dinamis.

This study is grounded in a reality that has often been overlooked in migration and urban studies: the physical movement of individuals from one space to another does not automatically sever their emotional, cognitive, and identity-based attachments to their place of origin. The River People (Orang Sungai) from Kapuas Hulu who migrate to Pontianak experience what may be described as an ontological displacement. this is not merely a relocation from one geographic setting to another, but transition from a fluid and dynamic liminal environment to a static, land-based urban territorial order.

Underlying the River People's attachment to their homeland is a central question; how do competing discourses and practices concerning the river continue to shape the everyday lives of River People as migrants in the city? To address this question, the study examines three operational issues; (1) how the river as a place of the past is invoked in the everyday conversations of River People; (2) how riverine experiences structure social relations among those who share a common past; and (3) how urban residents maintain ties to former places and activities through return visits and participation in communal gatherings and ritual events.

This study employs a qualitative design grounded in in-depth interview method, which focuses on how individuals assign meaning to social events across the course of their lives. The research participants consist of three generational cohorts: the first generation, born and raised in the riverine regions of Kapuas Hulu; the second generation, comprising migrants who were brought to the city during childhood; and the third generation, those born in Pontianak to parents of riverine origin. Informants were drawn from diverse professional backgrounds, including a former district head, university lectures, community leaders, homemaker, activists, and university students. Data were collected through individual interviews and three group discussion sessions. Cases were selected River People community in Pontianak.

The study which carried out from February to April 2026 finds that the River People's attachment to their place of origin does not weaken after migration to the city. Instead, it is transformed into an active, strategic, and multilayered mechanism of identity reproduction. This process is manifested in four principal forms: the river serves as a moral horizon and cosmological foundation if identity; "liquid resilience" is expressed in the capacity to adapt to shifting roles and occupations in the city; solidarity networks forged during riverine life are reconstituted as systems of social, economic, and political support in the urban diaspora; and river memory is sustained through embodied mnemonic practices. The study concludes that migration to the city does destroy locality; rather, it generates a dynamic reproduction of locality within urban life. 

Kata Kunci : Keterikatan Tempat, Orang Sungai, Pembentukan Identitas, Memori Kolektif, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

  1. S2-2026-551962-abstract.pdf  
  2. S2-2026-551962-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-551962-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-551962-title.pdf