Evaluasi Faktor yang Berhubungan dengan Efektivitas Terapi Imatinib pada Pasien Chronic Myeloid Leukemia (CML)
Niky Budiarti, Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati; Prof. Dr. apt. Arief Nurrochmad, M.Si, M.Sc
2026 | Tesis | S2 Mag.Farmasi Klinik
Chronic
myeloid leukemia
(CML) merupakan keganasan hematologi yang ditandai oleh translokasi kromosom 9
dan 22 yang menghasilkan gen fusi BCR–ABL1 dengan aktivitas tirosin kinase
konstitutif. Imatinib merupakan tyrosine kinase inhibitor (TKI) generasi
pertama yang digunakan sebagai terapi lini pertama pada CML. Namun, sebagian
pasien tidak mencapai respons molekuler optimal atau major molecular
response (MMR). Ketersediaan data mengenai efektivitas imatinib dan faktor
yang memengaruhinya pada populasi Indonesia masih terbatas. Penelitian ini
bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan efektivitas terapi
imatinib berdasarkan ketercapaian MMR pada pasien CML.
Penelitian
ini merupakan studi observasional analitik dengan rancangan case–control
yang dilakukan secara retrospektif di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Subjek
adalah pasien CML yang menerima terapi lini pertama imatinib dan dipilih
menggunakan teknik consecutive sampling, kemudian diklasifikasikan
menjadi kelompok kasus (tidak mencapai MMR/tidak responsif) dan kelompok
kontrol (mencapai MMR/responsif). Data dikumpulkan dari rekam medis pasien,
meliputi karakteristik demografis, klinis, serta penggunaan obat. Analisis data
dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji bivariat, dan regresi logistik
multivariat untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan efektivitas
terapi serta mengontrol variabel perancu.
Sebanyak
54 pasien dianalisis, terdiri atas 32 pasien tidak responsif dan 22 pasien
responsif berdasarkan ketercapaian MMR. Hasil analisis regresi logistik
multivariat menunjukkan bahwa kepatuhan terapi dan dosis imatinib merupakan
faktor yang berhubungan secara signifikan dengan efektivitas terapi. Pasien
yang patuh memiliki peluang mencapai MMR yang lebih tinggi dibandingkan pasien
yang tidak patuh (aOR 6,831; 95% CI 1,114–41,886; p = 0,038). Peningkatan dosis
imatinib juga berhubungan dengan peningkatan peluang tercapainya MMR (aOR 0,971;
95% CI 0,947–0,995; p = 0,020). Variabel lain tidak menunjukkan hubungan
bermakna setelah penyesuaian multivariat. Mayoritas kejadian tidak diinginkan
bersifat ringan hingga sedang, yang menunjukkan bahwa imatinib memiliki
tolerabilitas yang baik pada populasi ini. Mengoptimalkan kepatuhan terapi dan
mempertahankan dosis imatinib yang memadai dapat meningkatkan ketercapaian MMR
pada pasien CML.
Chronic
myeloid leukemia (CML) is a hematologic malignancy characterized by a
translocation between chromosomes 9 and 22, resulting in the BCR–ABL1 fusion
gene with constitutive tyrosine kinase activity. Imatinib is a first-generation
tyrosine kinase inhibitor (TKI) used as first-line therapy for CML. However,
some patients fail to achieve an optimal molecular response or major molecular
response (MMR). Data regarding the effectiveness of imatinib therapy and its
associated factors in the Indonesian population remain limited. This study
aimed to analyze factors associated with the effectiveness of imatinib therapy
based on MMR achievement in patients with CML.
This
retrospective observational analytic study with a case–control design was
conducted at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta. Subjects were patients
with CML who received first-line imatinib therapy and were selected using a
consecutive sampling technique, then classified into case (failed to achieve
MMR/non-responsive) and control (achieved MMR/responsive) groups. Data were
collected retrospectively from medical records, including demographic
characteristics, clinical profiles, and medication use. Statistical analysis
included descriptive statistics, bivariate analysis, and multivariate logistic
regression.
A total of 54 patients were analyzed, including 32 non-responsive and 22 responsive patients based on MMR achievement. Multivariate logistic regression analysis showed that treatment adherence and imatinib dose were significantly associated with treatment effectiveness. Adherent patients had a higher likelihood of achieving MMR than non-adherent patients (aOR 6.831; 95% CI 1.114–41.886; p = 0.038). A higher imatinib dose was also associated with a higher likelihood of achieving MMR (aOR 0.971; 95% CI 0.947–0.995; p = 0.020). Other variables did not show significant associations after multivariate adjustment. Most adverse events were mild to moderate, indicating that imatinib was well tolerated in this population. Optimizing treatment adherence and maintaining an adequate imatinib dose may improve MMR achievement in patients with CML.
Kata Kunci : Chronic myeloid leukemia, imatinib, respons molekuler, dosis imatinib, kejadian tidak diinginkan