Ironi Kondisi Pekerja Perempuan di Tengah Masifnya Industri Garmen Asia Tenggara: Studi Kasus Indonesia dan Vietnam
Ayu Eva Sattvika Devi, Dr. Randy Wirasta N, S.I.P., M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional
Meskipun industri garmen Indonesia dan Vietnam mengalami ekspansi pesat, kesejahteraan dan martabat pekerja perempuan belum membaik. Tesis ini menganalisis mengapa industri garmen yang berorientasi ekspor gagal melindungi pekerja perempuan dan bagaimana ASEAN melanggengkan penindasan ini. Dengan menggunakan metode kualitatif dan studi kasus tipikal Indonesia dan Vietnam, penelitian ini menerapkan perspektif feminisme sosialis untuk menemukan bahwa ketahanan industri tersebut bergantung pada kapitalisme dan patriarki yang saling menguatkan. Struktur ini menganggap tugas-tugas repetitif sebagai tidak terampil, sehingga membenarkan upah rendah, sementara pekerja perempuan juga menanggung beban ganda berupa pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar. Lebih lanjut, kekerasan berbasis gender memperkuat disiplin di pabrik dan hierarki patriarki. Pada tingkat kawasan, tesis ini mengungkapkan bahwa ASEAN memfasilitasi struktur ini melalui desain kelembagaan yang mengisolasi isu gender dalam ASCC sambil memprioritaskan liberalisasi ekonomi yang buta gender dalam AEC. Hal ini gagal menantang akar struktural dari ketidaksetaraan dan membingkai pemberdayaan perempuan pada logika akumulasi kapital.
Despite rapid expansion in the Indonesian and Vietnamese garment industries, the well-being and dignity of women workers have not improved. This thesis analyzes why export-oriented garment industries fail to protect women workers and how ASEAN perpetuates this oppression. Using qualitative methods and typical case studies of Indonesia and Vietnam, this research applies a socialist feminist perspective to find that the industry's resilience relies on mutually reinforcing capitalism and patriarchy. This structure deems repetitive tasks unskilled, justifying low wages, while women workers also bear the double burden of unpaid domestic work. Furthermore, gender-based violence reinforces factory discipline and patriarchal hierarchies. At the regional level, this thesis reveals that ASEAN facilitates this structure through institutional designs that isolate gender issues in the ASCC while prioritizing gender-blind economic liberalization in the AEC. These settings fail to challenge the structural roots of inequality and frame women's empowerment within the logic of capital accumulation.
Kata Kunci : ASEAN, feminisme sosialis, Indonesia, industri garmen, patriarki kapitalis, Vietnam.