Hubungan asupan zat gizi dengan status besi pada remaja putri SMU di Kabupaten Jayapura
TAMPUBOLON, Berliana, Prof.dr. Hamam Hadi, MS.,Sc.D
2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang : Defisiensi besi merupakan masalah malnutrisi zat gizi mikro yang paling sering terjadi baik di negara berkembang maupun negara industri . Defisiensi besi dan anemia defisiensi besi yang terjadi bisa memberikan dampak yang merugikan bagi individu yang mengalaminya. Prevalensi defisiensi besi tertinggi terjadi pada kelompok anak–anak dan wanita usia subur. Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 1995) menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri murid usia 10–14 tahun sebesar 57,1% dan pada wanita usia subur 15–44 tahun sebesar 39,5% , survey anemia remaja putri oleh Dinas Kesehatan Propinsi Papua prevalensi anemia pada remaja sebesar 60%. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan zat gizi dengan status besi pada anak remaja putri SMU di Kabupaten Jayapura Propinsi Papua. Metode :Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan Cross Sectional (Potong lintang). Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Umum (SMU) Kabupaten Jayapura. Subyek penelitian adalah remaja putri SMU yang memenuhi kriteria inklusi, besar sampel 89 orang, ditentukan dengan metode proporsional random sampling. Data asupan gizi dikumpulkan dengan cara Food Frequency Questioner (FFQ), diolah dengan Nutrisurvey. Data status besi yang diukur adalah feritin dengan metode ELISA, sedangkan hemoglobin dengan cyantmethemoglobin. Hasil yang diperoleh dilakukan analisis data untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terpengaruh digunakan uji statistik chi square dengan menggunakan software SPSS for Windows version 10,0. Hasil : Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dari 89 remaja rata–rata asupan gizi perharinya adalah protein 52,32 gram, vitamin A 727,76 RE, vitamin C 104,88 mg, asam folat 195,66 mg, Fe 8,41 mg dan zinc 5,31 mg. Kalau dibedakan rata– rata asupan protein hewani dan protein nabati (masing–masing 19,04 gram dan 33,21 gram). Kadar feritin serum rata–rata 6,74 μg/l, yang terendah 0,040 μg/l dan tertinggi 64,19 μg/l, sedang rata–rata kadar hemoglobin 12,72 g/dl, yang terendah 5,90 dan tertinggi 16,50. Dari hasil tersebut dapat terlihat bagi remaja yang kadar serum feritinnya <12 μg/l, menderita anemia 96 % dibanding yang kadar feritinnya normal =12 μg/l (4 %). Hasil tersebut juga menunjukkan ada hubungan asupan protein dengan kadar hemoglobin. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin p <0,05 dan diperoleh OR 2,67 (95 % CI 1.04 – 6,90).
Background : Iron deficiency is a nutrition case which mostly arised either in developing and developed country. Iron deficiency and anemia may harm the individu who suffered such cases. The prevalence of iron deficiency is highly happened among children and productive women. The result of household health survey shows that the prevalence of anemia among girl adolescents aged 10–14 years old is 57,1 % and woman aged 15–44 years old is 39,5 %, while anemia among girl adolescents in Papua shows 60 %. Objective : The study was proposed to know the correlation between nutrition intake and iron status among girl adolescents of senior high school in Jayapura regency, Papua Province. Study Design :This was observational with cross sectional study. The study was conducted in senior high school in Jayapura. Subjects were 89 girl adolescents who fulfil the inclusion criteria which was definited using proportional random sampling. Nutrition intake data were obtained with Food Frequency Questionare (FFQ) and processed with Nutrisurvey. Iron status data measured was feritin using ELISA, while haemoglobin using cyantmethemoglobin. Too see the correlation between dependen variables and independent variables using chi square test with SPPS for Windows version 10.0. Results : Nutrition intake of girl adolescents per day were protein 52,32 gr, vitamin A 727,76 RE, vitamin C 104,88 mg, folat acid 195,66 mg,iron 8,41 mg and zinc 5,31 mg. Animal protein and vegetable protein intake were in the average 19,04 gr and 33,21 gr. Serum feritin was in the average 6,74 μg/l, the lowest was 0,040 μg/l and the highest was 64,19 μg/l, while haemoglobin was 12,72 g/dl, the lowest was 5,90 and the highest was 16,50. From those result, it showed that adolescents whose feritin <12 μg/l suffered 96 % than those whose feritin was normal =12 μg/l (4 %). Thus, it showed that there was correlation between protein intake and haemoglobin level. Conclusion : The were significantly correlation between protein intake and haemoglobin level p <0,05 and OR 2,67 (95 % CI 1.04 – 6,90).
Kata Kunci : Gizi remaja,Asupan Zat Gizi,Status Gizi, Nutrition intake,iron status,anemia,girl adolescents