Laporkan Masalah

PREVALENSI NYERI LEHER PADA PERAJIN WAYANG KULIT DI DESA WUKIRSARI, IMOGIRI, BANTUL, D.I. YOGYAKARTA

Ratna Mustikasari, Dr. dr. Cempaka Thursina Srie Setyaningrum, Sp.N., Subsp.Ped(K); dr. Indra Sari Kusuma Harahap, Ph.D., Sp.N., Subsp.ENK(K)

2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Nyeri leher merupakan gangguan neuromuskuloskeletal dengan prediksi angka kejadian global yang terus meningkat hingga tahun 2050. Gangguan ini dapat menyebabkan limitasi fungsional dan penurunan kualitas hidup. Salah satu profesi yang berisiko tinggi mengalami nyeri leher adalah perajin wayang kulit akibat mempertahankan postur menunduk (fleksi leher) yang kurang ergonomis dan gerakan tangan repetitif dalam durasi panjang. Desa Wukirsari merupakan salah satu sentra wayang kulit terbesar, namun data kesehatan kerja pada populasi ini belum tersedia.

Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi nyeri leher pada perajin wayang kulit di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian adalah perajin wayang kulit di Desa Wukirsari yang aktif bekerja dalam satu tahun terakhir. Sampel penelitian berjumlah 45 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian meliputi kuesioner karakteristik demografi, anamnesis nyeri, Visual Analog Scale (VAS) untuk intensitas nyeri, serta pemeriksaan fisik provokatif (Tes Spurling dan Lhermitte’s sign).

Hasil: Prevalensi nyeri leher pada perajin wayang kulit ditemukan sebesar 57,8% (26 orang). Mayoritas melaporkan intensitas nyeri sedang (VAS 4-6) sebesar 33,3% (15 orang). Dominan kasus nyeri leher nonspesifik dan ditemukan 3 responden (6,7%) yang tidak mengeluhkan nyeri menjalar namun menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan fisik. Hasil analisis bivariat menunjukkan proporsi kejadian nyeri leher pada kelompok usia ?35 tahun sebesar 83,3% (p=0,182), lebih tinggi dibandingkan kelompok usia >35 tahun (53,8%). Pada variabel masa kerja, proporsi kejadian pada kelompok masa kerja 1-5 tahun (54,5%; p=0,485) lebih tinggi dibandingkan kelompok >5 tahun (38,2%). Demikian pula pada durasi kerja, kelompok dengan durasi >6 jam memiliki proporsi kejadian lebih besar (45,5%; p=0,517).

Kesimpulan: Prevalensi nyeri leher pada perajin wayang kulit di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta sebesar 57,8%.

Kata Kunci: Nyeri leher, Perajin wayang kulit, Prevalensi, Kesehatan kerja, Desa Wukirsari.

Background: Neck pain is a neuromusculoskeletal disorder with a global incidence projected to increase continuously through 2050. This disorder can cause functional limitations and reduced quality of life. One profession at high risk of experiencing neck pain is the shadow puppet (wayang kulit) artisan due to maintaining a non-ergonomic stooped posture (neck flexion) and repetitive hand movements for long durations. Wukirsari Village is one of the largest shadow puppet production centers; however, occupational health data for this population is not yet available. 

Objective: To determine the prevalence of neck pain among shadow puppet artisans in Wukirsari Village, Imogiri District, Bantul Regency, D.I. Yogyakarta.

Method: This study employed a descriptive analytic method with a cross-sectional design. The study population consisted of shadow puppet artisans in Wukirsari Village who were active within the last year. The sample comprised 45 individuals meeting the inclusion and exclusion criteria. Research instruments included demographic characteristic questionnaires, pain history taking (anamnesis), Visual Analog Scale (VAS) for pain intensity, and provocative physical examinations (Spurling’s test and Lhermitte’s sign).

Results: The prevalence of neck pain among shadow puppet artisans was found to be 57.8% (26 individuals). The majority reported moderate pain intensity (VAS 4-6) at 33.3% (15 individuals). Non-specific neck pain cases were dominant, and 3 respondents (6.7%) were found who did not complain of radiating pain but showed positive results on physical examinations. Bivariate analysis results showed that the proportion of neck pain incidence in the age group ?35 years was 83.3% (p=0.182), higher compared to the age group >35 years (53.8%). Regarding work tenure, the proportion of incidence in the 1-5 years group (54.5%; p=0.485) was higher compared to the >5 years group (38.2%). Similarly, for daily work duration, the group working >6 hours had a higher proportion of incidence (45.5%; p=0.517).

Conclusion: The prevalence of neck pain among shadow puppet artisans in Wukirsari Village, Imogiri District, Bantul, D.I. Yogyakarta is 57.8%.

Keywords: Neck pain, Shadow puppet artisan, Prevalence, Occupational health, Wukirsari Village.

Kata Kunci : Nyeri leher, Perajin wayang kulit, Prevalensi, Kesehatan kerja, Desa Wukirsari.

  1. S1-2026-502962-abstract.pdf  
  2. S1-2026-502962-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-502962-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-502962-title.pdf