Pola Reproduksi Kekerasan Struktural di Institusi Tertutup: Studi Kasus pada Pesantren di Bantul, Yogyakarta
Syarifudin Tamim, Nurhadi, S.Sos., M.Si. Ph.D
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena kekerasan di institusi pendidikan berbasis asrama yang sering kali tersembunyi di balik narasi pembentukan karakter dan kedisiplinan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana pola reproduksi kekerasan struktural terbentuk dalam kehidupan sehari-hari santri di sebuah pesantren di Kabupaten Bantul yang dikategorikan sebagai institusi tertutup (total institution). Tujuan penelitian ini adalah untuk membedah mekanisme kontrol institusional yang memicu terjadinya penderitaan sistemik serta memahami bagaimana kekerasan tersebut dinormalisasi dalam lingkungan pendidikan agama.
Kerangka teori yang digunakan dalam studi ini mengintegrasikan konsep Total Institution dari Erving Goffman untuk melihat mekanisme pencerabutan jati diri serta pembentukan ulang individu dan Teori Kekerasan Struktural dari Johan Galtung guna mengidentifikasi ketidakadilan yang tertanam dalam sistem organisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan serta wawancara mendalam terhadap 14 informan yang terdiri dari santri aktif, alumni dari berbagai periode, dan pengurus pesantren.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren sebagai institusi total melakukan kontrol ketat melalui manipulasi waktu dan ruang, yang mengakibatkan hilangnya otonomi pribadi santri. Kekerasan termanifestasi dalam dua bentuk utama: kekerasan langsung berupa hukuman fisik yang keras dan kekerasan struktural yang muncul dari ketimpangan relasi kuasa serta ketiadaan saluran pengaduan yang independen. Ditemukan pula adanya siklus reproduksi kekerasan antargenerasi, di mana senioritas menjadi sarana bagi mantan korban untuk menjadi pelaku. Praktik ini mendapatkan legitimasi melalui narasi kultural dan agama, seperti nilai ta’dzim (kepatuhan) dan pencarian keberkahan, sehingga kekerasan dianggap sebagai bagian inheren dari proses belajar. Kesimpulannya, kekerasan di pesantren bukan sekadar insiden individual, melainkan masalah sistemik yang berakar pada struktur institusi.
This research is prompted by the rising prevalence of violence within boarding-based educational institutions, which is often concealed by narratives of character building and discipline. The study specifically examines the patterns of structural violence within a closed Islamic boarding school (pesantren) in Bantul, Yogyakarta. The primary objective is to analyze the formation and reproduction of structural violence in the daily lives of students and to understand the institutional mechanisms that facilitate systemic suffering.
The theoretical framework integrates Erving Goffman’s Total Institution theory to analyze the processes of mortification of the self and Johan Galtung’s Structural Violence theory to identify injustices embedded within the organizational system. Adopting a qualitative approach with a case study design, data was gathered through non-participant observation, documentation, and in-depth interviews with 14 informants, including active students, alumni from various periods, and institutional staff.
The findings reveal that the pesantren functions as a total institution by exerting absolute control over space and time, leading to the erosion of personal autonomy. Violence manifests in two primary forms: direct violence, such as caning, head shaving, and public shaming, and structural violence arising from extreme power imbalances and the absence of independent, safe complaint mechanisms. Furthermore, a cycle of reproduction was identified where seniority serves as a medium for former victims to become perpetrators. These practices are legitimized through cultural and religious narratives, such as ta’dzim (absolute obedience) and the pursuit of blessings (barokah), which frame systemic suffering as an inherent part of the spiritual learning process. The study concludes that violence in the pesantren is not merely an isolated incident but a systemic problem rooted in the institutional structure.
Kata Kunci : Kekerasan Struktural, Institusi Tertutup, Pesantren, Relasi Kuasa, Reproduksi Kekerasan.