Laporkan Masalah

Makna Pernikahan pada Generasi Z Dewasa Awal: Studi Fenomenologi

Fatimah Angie Bio Jenie, Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog

2026 | Skripsi | PSIKOLOGI

Pernikahan merupakan salah satu tahap perkembangan penting dalam hidup individu. Secara tradisional, pernikahan dianggap sebagai simbol kedewasaan dan stabilitas sosial, sekaligus bentuk pencapaian yang diharapkan masyarakat. Namun, seiring dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan teknologi,  pandangan terhadap pernikahan mulai bergeser terutama di kalangan Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana Generasi Z dewasa awal menafsirkan makna pernikahan pada masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lima partisipan dipilih secara purposive dengan kriteria berusia 20–25 tahun dan berasal dari beberapa kota di Indonesia yang memiliki perguruan tinggi ternama. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan panduan semi terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan tidak lagi dimaknai sebagai kewajiban sosial yang bersifat mutlak, melainkan sebagai komitmen yang reflektif dan kontekstual, menekankan kesiapan emosional dan finansial, relasi yang egaliter, serta evaluasi terhadap kualitas hubungan.

Marriage represents an important developmental milestone in an individual’s life. Traditionally, it has been viewed as a symbol of maturity and social stability, as well as a form of achievement valued by society. However, with the rapid changes in social, economic, and technological contexts, perceptions of marriage have begun to shift–particularly among Generation Z. This study aims to explore how early adult Generation Z interprets the meaning of marriage in the present day. This study used a qualitative design with phenomenological approach. Five participants aged 20–25 were purposely selected from major Indonesian cities with prominent universities. Data were collected through in-depth semi-structured interviews. The findings indicate that marriage is no longer viewed as an absolute social obligation, but as a reflective and contextual commitment requiring emotional and financial readiness, egalitarian partnership, and evaluative consideration of relational quality. 

Kata Kunci : dewasa awal, Generasi Z, makna pernikahan

  1. S1-2026-498673-abstract.pdf  
  2. S1-2026-498673-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-498673-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-498673-title.pdf