Laporkan Masalah

Interferensi Sistem Bahasa Indonesia terhadap Pembentukan Kala dalam Karangan Bahasa Jerman (Studi Kasus Mahasiswa Bahasa Jerman Tingkat Menengah Universitas Negeri Malang)

Rount Maulero, Dr. Hayatul Cholsy, M.Hum

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Interferensi bahasa adalah fenomena linguistik yang ditandai dengan masuknya unsur-unsur dari satu sistem bahasa ke dalam sistem bahasa lain, yang menghasilkan beragam sintaksis, yaitu unsur internal dalam suatu bahasa. Tujuan dari penulisan tesis ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan pola interferensi bahasa Indonesia terhadap pembentukan kala bahasa Jerman. Sumber data yang digunakan adalah hasil tulisan berupa karangan bahasa Jerman pada level menengah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang Angkatan tahun 2023. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor struktural dan non struktural penyebab interferensi bahasa Indonesia terhadap pembentukan kala bahasa Jerman oleh mahasiswa. Dalam pengumpulan data, metode yang digunakan adalah pemberian instrument soal, pengisian angket dan observasi di lapangan. Setelah dilakukan pengumpulan data, selanjutnya dilakukan proses klasifikasi data. Kemudian dilanjutkan dengan proses analisis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sintaksis dan morfologis.

Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk interferensi bahasa Indonesia terhadap pembentukan kala bahasa Jerman pada mahasiswa didominasi oleh kala lampau. Bentuk interferensi tersebut diantaranya (1) Ketidaksesuaian konjugasi verba, (2) Ketidaksesuaian pemilihan verba, (3) Ketidaksesuaian pola urutan kata, dan (4) Ketiadaan verba. Selain itu pola interferensi yang muncul diantaranya (1) Generalisasi pembentukan kala Präsens, (2) Pola urutan kata (sintaksis), dan (3) Fenomena morfologi verba. Pola interferensi tersebut menunjukkan bahwa ketidaksesuaian yang terjadi tidak bersifat acak, melainkan berpola dan berulang. Faktor penyebab interferensi ditemukan berasal dari dua sumber besar, yakni faktor struktural dan faktor non-struktural. Faktor struktural meliputi kesenjangan tipologis antara bahasa Indonesia yang non-tense dan bahasa Jerman yang tense-prominent. Faktor non-struktural diantaranya, faktor sosiolinguistik, faktor psikolinguistik, faktor pedagogis, dan faktor afektif. 

Language interference is a linguistic phenomenon characterized by the incorporation of elements from one language system into another, resulting in a wide range of syntax, an internal element within a language. The purpose of writing this thesis is to describe the forms and patterns of Indonesian language interference in the use of German tenses. The data source used is the written results in the form of intermediate-level German essays by students of the German Language Education Study Program, Faculty of Letters, State University of Malang, Class of 2023. In addition, this study also aims to explain the structural and non-structural factors causing Indonesian language interference in the students' use of German tenses. In collecting data, the methods used were administering a test instrument, filling out questionnaires, and field observation. After data collection, a data classification process was carried out. Then, it was followed by an analysis process using a qualitative descriptive method with syntactic and morphological approaches.

The results of the analysis show that the form of Indonesian language interference in the use of German tenses among students is dominated by the past tense. These forms of interference include (1) Verb conjugation mismatch, (2) Verb selection mismatch, (3) Word order pattern mismatch, and (4) Absence of verbs. In addition, the interference patterns that emerged include (1) Generalization of the use of the Präsens tense, (2) Word order patterns (syntax), and (3) Verb morphology phenomena. These interference patterns indicate that the mismatches that occur are not random, but rather patterned and repetitive. The factors causing interference were found to originate from two major sources, namely structural factors and non-structural factors. Structural factors include typological gaps between Indonesian, which is non-tense, and German, which is tense-prominent. Non-structural factors include sociolinguistic factors, psycholinguistic factors, pedagogical factors, and affective factors.

Kata Kunci : Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman, Interferensi, Kala, Menengah

  1. S2-2026-537260-abstract.pdf  
  2. S2-2026-537260-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-537260-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-537260-title.pdf