Laporkan Masalah

The Coexistence of Appraisal Resources and (Im)politeness Strategies in the TikTok, Inc. versus Garland Oral Argument

Rio Nur Rachmad, Dr. Ni Gusti Ayu Roselani, M.A.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Penggunaan bahasa di ruang persidangan memiliki makna yang multifaset dan digunakan untuk membangun argumentasi dalam konteks hukum. Penelitian ini menelaah interaksi sumber daya appraisal dan startegi ke(tidak)kesantunan dalam transkrip argumen lisan persidangan TikTok, Inc. v. Garland. Penelitian ini menggunakan kerangka sistem appraisal (Martin & White, 2005) untuk mengidentifikasi jenis-jenis sumber daya appraisal serta strategi umum ke(tidak)santunan (Leech, 2014) yang diejawantahkan oleh para partisipan. Transkrip sidang lisan diunduh dari situs resmi Mahkamah Agung Amerika Serikat. Selanjutnya, transkrip tersebut diimpor ke dalam perangkat lunak UAM Tool 3.3 dan dianotasi secara manual dengan memberi label pada kata, frasa, atau klausa yang menunjukkan subkategori appraisal berdasarkan hasil pengamatan. Peneliti kemudian menafsirkan dan mengategorikan tuturan sesuai dengan jenis maksim kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa domain sikap sebanyak 213 sumber mencakup afek, penilaian, dan apresiasi yang terpolarisasi ke dalam sumber positif dan negatif. Selain itu, subdomain heteroglos dalam keterlibatan ditemukan sebanyak 425 sumber yang mencakup ekspresi kontraksi dan ekspansi. Domain graduasi ditemukan sebanyak 102 sumber meliputi titik makna dan titik fokus. Intensifikasi dalam titik makna menandakan bahwa kedua partisipan wacana menggunakannya untuk menegaskan penekanan informasi argumentasi mereka. Penelitian ini juga mengidentifikasi delapan jenis strategi ke(tidak)kesantunan melalui penggunaan maksim, yaitu maksim kebijaksanaan (7 kemunculan), maksim kedermawanan (6 kemunculan), maksim kewajiban (10 kemunculan), maksim pujian (18 kemunculan), maksim kerendahan hati (2 kemunculan), maksim kesepakatan (47 kemunculan), maksim keengganan berpendapat (78 kemunculan) dan maksim simpati (3 kemunculan). Temuan penelitian menunjukkan bahwa sikap negatif berkaitan dengan ketidaksantunan ketika partisipan wacana melanggar maksim kesantunan. Sikap penilaian negatif menggambarkan bagaimana sumber appraisal berinteraksi dengan ketidaksantunan, terutama melalui pelanggaran maksim pujian. Partisipan wacana terkadang menyusun tuturannya untuk memaksimalkan pencelaan terhadap pihak lain, sehingga menghasilkan penilaian negatif dalam bentuk harga diri sosial (social esteem) dan sanksi sosial (social sanction). Tipe kontraksi dalam subdomain heteroglos menunjukkan keselarasan yang kuat dengan maksim kesepakatan. Ketika seorang partisipan wacana menyampaikan argumennya sekaligus membuka ruang bagi sanggahan lanjutan, hal tersebut dianggap sebagai pelanggaran terhadap maksim kesepakatan yang bertujuan untuk meminimalkan ketidaksepakatan dan memaksimalkan kesepakatan dengan penutur lain. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah kajian wacana, khususnya dalam mengeksplorasi hubungan kausal antara pola appraisal dan prinsip kesantunan dalam wacana ruang sidang.

The use of language in the courtroom consists multifaceted layers of meaning which used to construct arguments in legal setting. The study scrutinizes the coexistence of appraisal resources and (im)politeness strategies within the TikTok, Inc. v. Garland oral argument. The study employs appraisal system framework (Martin & White, 2005) to identify the type of appraisal resources and discovers the general strategy of (im)politeness (Leech, 2014) performed by the participants. The oral argument transcript was downloaded from the official website of the U.S. Supreme Court. The downloaded transcript was imported into the software UAM Tool 3.3, and then annotate manually by labelling words, phrases, or clauses that exhibit the appraisal subcategories based on the observation. The researcher interpreted and categorized the utterances according to the type of politeness maxims. The study reveals the attitude domain (213 resources) includes affect, judgement, and appreciation, polarized around positive and negative resources. Furthermore, the heterogloss subdomain of engagement (425 resources) covers expression of contraction and expansion types. The graduation domain (102 resources) includes force and focus. The intensification of force expresses more than quantification; it indicates that both discourse participants’ utterances may use it to emphasize the message of their argument. The study also found eight types of (im)politeness strategies by the use maxims, including the tact maxim (7 occurrences), generosity maxim (6 occurrences), approbation maxim (18 occurrences), modesty maxim (2 occurrences), obligation maxim (10 occurrences), agreement maxim (47 occurrences), opinion reticence maxim (78 occurrences) and sympathy maxim (3 occurrences). The study reveals that a negative attitude is linked to impoliteness when a discourse participant violates the politeness maxims. The negative judgment has particular co-existence with impoliteness, specifically the violation of the approbation maxim. The discourse participant sometimes expresses their utterance to maximize the dispraise of others, leading to negative judgments in the form of esteem and social sanctions. The contraction type of heterogloss subdomain clearly aligned with the agreement maxim. When a discourse participant delivers their argument and opens a space for a follow-up counterargument, it is considered a violation of the agreement maxim, which aims to maximize the other speaker's disagreement. The study contributes in enriching the knowledge on discourse studies, particularly on the exploration of the coexistence between appraisal resources and (im)politeness strategy in courtroom discourse.

Kata Kunci : appraisal resource, courtroom discourse, oral argument, (im)politeness strategy

  1. S2-2026-537539-abstract.pdf  
  2. S2-2026-537539-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-537539-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-537539-title.pdf