Laporkan Masalah

Partisipasi suami dalam Program Keluarga Berencana di Daerah Istimewa Yogyakarta (Analsis data SDKI 2002-2003)

Reni Widyaningsih, Prof. Drs. Kasto, M.A.; Umi Listyaningsih, S.Si., M.Si.

2006 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Kesetaraan gender merupakan isu global yang mempengaruhi hampir semua bidang kehidupan, termasuk kesempatan untuk berpartisipasi dalam keluarga berencana. Dalam mensukseskan keluarga berencana ada kecenderungan bahwa program ini diarahkan bagi kaum wanita (isteri), padahal pasangan suami isteri diharapkan memiliki wawasan dan tanggung jawab bersama dalam pemenuhan hak-hak reproduksi, pelayanan KB serta kesehatan reproduksi dan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk (1). mengetahui partisipasi suami dalam program keluarga berencana di kota dan desa, (2). Mengetahui jenis kontrasepsi yang digunakan suami, (3). Mengetahui karakteristik suami yang terkait dengan partisipasi suami dalam program keluarga berencana, (4). Mengetahui ciri isteri yang suaminya berpartisipasi dalam keluarga berencana. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa data sekunder yaitu data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dipilih secara purposive sampling dengan pertimbangan pemakaian kontrasepsi suami di DIY paling tinggi dari pada provinsi lain di Indonesia. Responden adalah pria berumur 15-54 tahun yang bersatatus kawin. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan tabel frekuensi dan tabel silang. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa secara umum partisipasi suami dalam keluarga berencana di kota lebih tinggi dari pada desa. Jenis kontrasepsi yang dipilih di kota maupun di desa adalah kondom. Di kota pemakai kondom ada kecenderungan dijumpai pada: (a) umur 40 tahun keatas, (b) jumlah anak lahir hidup 3-4 anak, (c) pendidikan SD dan (d) jenis pekerjaan tenaga usaha jasa, sedang di desa dijumpai pada (a) umur 40 tahun keatas, (b) jumlah anak lahir hidup 1-2, (c) pendidikan universitas dan (d) jenis pekerjaan professional, teknisi. Di kota dukungan suami terhadap isteri yang ber-KB terdapat pada suami yang (a) berumur 30-39 tahun, (b) jumlah anak lahir hidup 2-3, (c) pendidikan SMA dan (d) jenis pekerjaan tenaga usaha jasa, sedang di desa dijumpai pada: (a) umur 30-39 tahun, (b) jumlah anak lahir hidup 2-3, (c) pendidikan tidak sekolah, dan (d) jenis pekerjaan tenaga usaha jasa. Pemakai kondom di perkotaan ada kecenderungan dijumpai pada kelompok isteri dengan (a) pendidikan tidak sekolah dan (b) jenis pekerjaan pejabat pelaksana dan tata usaha, sedang di perdesaan dijumpai pada kelompok isteri dengan (a) pendidikan SMA dan (b) jenis pekerjaan tenaga usaha pertanian.

Gender equality represent the global issue influencing most of all life area, including the opportunity to participate in family planning program. In family planning program, there is tendency that this program is instructed for womankind (wife). though husband/wife spouse is expected to have knowledge and responsibility in reproductive rights, family planning service and reproductive health as well as family prosperity. This research aim to (1). Knowing how far husband is participation in family planning program in urban and rural, (2). Knowing the kinds of contraception that's used by the husband, (3) knowing the husband's characteristic that's catched by the husband's participation in family planning program, (4) knowing wife's characteristic whose husband participates in family planning. This research is conducted by analysing secondary data that is Indonesian Demography and Health Survey year 2002-2003. This research is conducted in Yogyakarta Special Region Province, selected by purposive sampling with the consideration that husband's participation in contraception usage is the highest among provinces in Indonesia. Respondent are man ages 15-54 which have marriage status. Data analysis in this research uses the crossed and frequency table. The research found that in general husband is participation in family planning program in rural are higher than urban. The most popular contraception used in urban and rural is condom. In urban area, there is an inclination that the condom users are founded whose husbands are: (a) age 40 year, (b) total children ever born 3-4, (c) elementary school educated, and (d) work on services area. Meanwhile, in rural area is founded whose husband's are (a) age 40 year, (b) total children ever born 1-2, (c) university educated and (d) work as professional, technician. In urban area, the characteristic of husband who support his wife to participate in family planning program are (a) age 30-39 year, (b) total children ever born 2-3, (c) senior high school educated and (d) work on services. In rural area is founded whose husband's are (a) age 30-39 year, (b) total children ever born 2-3, (c) non educated and (d) work on services. Condom user in urban can be identified in wife which characteristics are (a) non educated and (b) working in clerical. Meanwhile in rural the characteristics are (a) senior high school educated (b) working in agriculture.

Kata Kunci : kesetaraan gender, keluarga berencana, partisipasi suami,gender equality, family planning, husband's participation

  1. S1-2005-150308-abstract.pdf  
  2. S1-2005-150308-bibliography.pdf  
  3. S1-2005-150308-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2005-150308-title.pdf