Dealektika Muhammadiyah dan budaya lokal :: Studi atas Reorientasi Manhaj Tarjih Muhammadiyah tentang kebudayaan
SYAUGI, Dr. Alef Theria Wasim
2005 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaPenelitian ini bertujuan untuk selain mengetahui manhaj tarjih Muhammadiyah terhadap kebudayaan, juga untuk mengetahui sejauh mana dealektika Muhammadiyah dengan budaya lokal terjadi sebagai konsekuensi dari manhaj baru Muhammadiyah yang melahirkan keragaman prilaku keagamaan pengikut Muhammadiyah. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan berdasar atas adanya realitas sosial dalam gerakan Muhammadiyah yang berdimensi historis, keagamaan, dan kultural. Sebagai sebuah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif-anaistis berdasarkan studi teks, maka pengumpulan datanya dengan dokumentasi, dimana data dipilah dalam sumber primer dan sekunder yang kemudian dianalsis dengan metode sistematis-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meluasnya Muhammadiyah sampai kepelosok desa telah menyebabkan terjadinya fragmentasi kultural dalam gerakan purifikasi Muhammadiyah. Hal ini kemudian sejalan dengan adanya program dakwah kultural dan spritualisasi syari’ah yang kemudian menjadikan style dakwah Muhammadiyah bersifat akomodatif dan toleran terhadap budaya lokal. Selain itu juga dengan tiga pendekatan yaitu bayani, burhani, dan irfani sebagai bagian dari manhaj tarjih Muhammadiyah, maka idiologi purifikasi Muhammadiyah dapat berdampingan dengan pendekatan sosio-kultural. Adanya keragaman prilaku keagamaan Muhammadiyah dalam kerangka idiologi Islam murni Muhammadiyah menunjukkan adanya dealektika Muhammadiyah dengan budaya lokal
The objectives of this study are to know the manhaj tarjih (interpretation) of Muhammadiyah toward culture, and to know to what extent the dialectics of Muhammadiyah with local culture has taken place as the consequence of the new manhaj, which brought about diversity of religious behavior in Muhammadiyah followers. This study uses a qualitative approach based on the existing social reality in the Muhammadiyah movement, which has historical, religious, and cultural dimensions. Since it was literature research that uses descriptive-analytical methods based on textual study, the data collection was documentation. The data were classified into primary and secondary catagories and analyzed using a systematic-descriptive method. The results showed that the propagation of Muhammadiyah to remote areas had resulted in cultural fragmentation in its purification movement. Further, it was in line with the cultural proselytizing and the Islamic law spiritualizing programs that made its proselytizing style become accommodative in nature and was tolerant of the local culture. Moreover, with three approaches of bayani, burhani and irfani approaches as part of its manhaj tarjih, the purification ideology could go side by side with the socio-cultural approach. With the diversity of religious behavior of its followers in the pure Islamic ideological framework, it showed the dialectic with local culture.
Kata Kunci : Muhammadiyah, Budaya Lokal, Kebudayaan, Manhaj Tajrih, Manhaj tarjih, Pure Islam, Muhammadiyah, Purification.