Masyarakat toleran: Budaya demokrasi dan partisipasi politik :: Studi kasus perilaku politik umat Islam Jekulo Kudus pasca orde baru
TA'YUDIN, Achmad, Dr. Irwan Abdullah
2005 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku politik masyarakat Islam di Kecamatan Jekulo Kudus pada Pemilu 1999 dan 2004, di mana partai-partai Islam dengan kecenderungan religiusitas masyarakat yang tinggi menuai kekalahan telak. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Kenapa masyarakat Islam Jekulo yang mempunyai tingkat religiusitas relatif tinggi, enggan untuk memilih partai-partai politik yang mengadopsi Islam sebagai pijakan ideologinyaâ€. Pertanyaan menarik tersebut menjadi fokus penelitian ini. Ada tiga problem utama yang akan dianalisa dalam penelitian ini. Pertama, sebarapa jauh aspirasi politik umat Islam Jekulo mempengaruhi perilaku memilih mereka; kedua, seberapa jauh agama dengan pemahaman dan intitusinya mempengaruhi perilaku memilih masyarakat Islam Jekulo; ketiga, apakah tokoh agama (kiai) merupakan faktor penentu yang mempengaruhi perilaku memilih masyarakat Jekulo. Metode sample digunakan dalam penelitian ini, disamping metode kualitatif, (1) untuk memilih sampel masyarakat yang mempunyai tingkat religiusitas tinggi, dengan menggunakan teknik acak; (2) untuk memilih sample utama dari sampel masyarkat religius hasil dari sampel pertama dengan teknik penarikan secara sengaja. Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa kekalahan partai-partai Islam di kalangan masyarakat religius Jekulo adalah dikarenakan mereka semakin terbuka dan toleran dengan perbedaan agama, sehingga keinginan untuk mendominasi paham primordial lain sudah bukan menjadi orientasi politik mereka. Hal ini disebabkan oleh, pertama, semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat dan kebijakan politik rezim Orde Baru yang cukup represif terhadap politik syari’ah, menjadikan syariah Islam termarginalkan bahkan di kalangan Muslim taat, Pancasila telah menjadi common denominator bangsa. Kedua, liberalisasi pemahaman agama yang terjadi dikalangan umat pada dekade 1990-an serta moderatisasi dan pluralisasi dikalangan dua organisasi soial keagamaan terbesar yakni NU dan Muhammadiyah yang dulu menjadi penyangga partai Islam, cukup mempunyai andil dalam proses demokratisasi dan kedewasaan politik umat. Ketiga, tokoh agama dan cendiakawan Muslim yang moderat dan maraknya pemikiran liberal dikalangan NU telah mempunyai andil dalam perubahan cara pandang elite dan kiai lokal yang secara lagsung maupun tidak langsung mempunyai pengaruh besar dalam pendewasaan politik umat di daerah pedesaan, mereka tidak lagi kesulitan untuk membedakan antara wilayah agama dan wilayah politik yang terkadang dikaburkan oleh elite fundamental.
The purpose of the research is to explain the political behaviour of Islamic community (umat) in Jekulo Kudus the Central of Java in the 1999 and 2004 general election, which has shown a reality of the failure of Islamic parties in the religious communities. The raised question is “Why Islamic community in Jekulo who have a high level of virtuous were reluctant to choice the Islamic partiesâ€. This interesting question becomes focus of this study. There are three main problems that would be analyzed in this study. First, to what extend does correlation between political aspiration, and voting behaviour of Islamic communities in Jekulo towards political parties in the 1999 and 2004 general election. Second, to what extend does correlation between level of understanding for religious teaching and voting behaviour of Islamic communities in Jekulo towards political parties in the 1999 and 2004 general election. Finally, are religious local elite (kiai) a determinant factor for voting behaviour of Islamic communities in Jekulo towards political parties in the 1999 and 2004 general election? The sampling method which was used in the research, besides the qualitative method (1) to make choice the religious people of Jekulo with using the probability of random distribution; (2) to choice domain sampling taken from religious people in the first point with using the non-probability of purposive distribution. The result of this research indicates that the failure of Islamic parties in Jekulo was determined by the increase of their tolerances to the diversity of faith, so that they do not want to dominate anymore other people based on their faith and political ideology. There are some factors of this social change. First, the dominant rules of New Order regime that marginalized the politic of Islamic syariat has changed the political orientation of Islamic communities based on religious liberalization. Second, the two biggest of Islamic Organization, NU and Muhammadiyah, have changed their social orientation based on politics of tolerant. Third, the level of education and the economic gaps among communities have weakened elite domination in Islamic communities. They cannot be influenced by political elite anymore. These all indicate that Islamic community with high level of virtuous become tolerance and democratic. They can separate whether it is a political or religious thing. Both political and religious things are sometimes difficult to be separated because of elite behaviours and their interests.
Kata Kunci : Umat Islam, Jekulo Kudus, Budaya Demokrasi dan Partai Politik, Religious Comunity, The Cultur of Democracy, Political Bahaviour and Religious Tolerance.