Pengaruh Ekstrak Biji Labu (Cucurbita moschata Duch.) Terhadap Kadar Glikogen Hati dan Hepatic Steatosis Mencit (Mus musculus Linnaeus,1758) Diabetes Tipe 2
ALFIANA FATONAH, Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Biologi
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit
metabolik kronis yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia dan resistensi
insulin. Hati berperan sebagai salah satu organ utama dalam menjaga homeostasis
glukosa melalui proses glycogenesis dan glycogenolysis. Penurunan
kadar glikogen hati berkaitan dengan peningkatan proses gluconeogenesis
dan lypogenesis yang dapat memicu terjadinya hepatic steatosis.
Hingga saat ini, terapi dan obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi DMT2
berpotensi menimbulkan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, penelitian mengenai alternatif pengobatan yang lebih aman
masih diperlukan. Ekstrak biji labu (Cucurbita moschata Duch.) yang
diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut n-heksana
diketahui mengandung senyawa aktif seperti asam lemak tak jenuh, sterol, dan
flavonoid yang berpotensi sebagai agen antidiabetes. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak biji labu (C. moschata)
terhadap kadar glikogen hati dan hepatic steatosis yang didukung oleh
parameter metabolik yaitu, kadar glukosa darah, kadar kolesterol darah, dan
fungsi hati yang diukur melalui kadar alanin aminotransferase (ALT) dan aspartat
aminotransferase (AST) pada model diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini
menggunakan 18 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu tiga
kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol terdiri atas
kontrol normal, kontrol negatif, dan kontrol positif. Sementara itu, kelompok
perlakuan diberikan ekstrak biji labu dengan dosis 100 mg/kgBB (P100), 150
mg/kgBB (P150), dan 200 mg/kgBB (P200). Model DMT2 diinduksi menggunakan high-fat
diet (HFD) dan streptozotosin dengan dosis 35 mg/kgBB. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji labu berpengaruh terhadap kadar
glikogen hati dan hepatic steatosis, serta memberikan perbaikan pada
parameter metabolik sebagai parameter pendukung. Kadar glikogen hati yang menunjukkan
peningkatan terdapat pada kelompok P200 (33,7 ± 2,5 mg/g). Sementara itu,
seluruh kelompok perlakuan menunjukkan kategori hepatic steatosis ringan
(derajat 1), dengan persentase masing-masing sebesar 5% (P100), 7% (P150), dan
5% (P200). Hasil uji tersebut didukung oleh parameter metabolik seperti, kadar
kolesterol darah menunjukkan perbaikan pada kelompok P150 pada hari ke-28, yang
ditandai dengan penurunan hingga 104,2 ± 17,0 mg/dL. Kadar glukosa darah
menunjukkan perbaikan pada kelompok P200 pada hari ke-28, dengan penurunan
mencapai 92,0 ± 17,3 mg/dL. Selain itu, hasil pengukuran fungsi hati
menunjukkan adanya perbaikan yang ditandai dengan penurunan kadar ALT pada
kelompok P200 menjadi 39,4 ± 10,7 U/L dan penurunan kadar AST menjadi 108,2 ±
34,3 U/L.
Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic
metabolic disease characterized by hyperglycemia and insulin resistance. The
liver serves as one of the primary organs in maintaining glucose homeostasis
through the processes of glycogenesis and glycogenolysis. A decrease in liver
glycogen levels is associated with increased gluconeogenesis and lipogenesis which
can trigger the development of hepatic steatosis. To date, therapies and
medications used to manage T2DM carry the potential for side effects when used
long-term. Therefore, research on safer alternative treatments is still needed.
Pumpkin seed extract (Cucurbita moschata Duch.) obtained via maceration using
n-hexane as a solvent is known to contain active compounds such as unsaturated
fatty acids, sterols, and flavonoids that have potential as antidiabetic
agents. This study aims to analyze the effect of pumpkin seed extract (C.
moschata) administration on liver glycogen levels and hepatic steatosis supported
by metabolic parameters, as blood glucose levels, blood cholesterol levels and
liver function measured by alanine aminotransferase (ALT) and aspartate
aminotransferase (AST) levels in a type 2 diabetes mellitus model. This
study used 18 male mice divided into six groups, there are three control groups
and three treatment groups. The control groups consisted of a normal control, a
negative control, and a positive control. Meanwhile, the treatment groups were
administered pumpkin seed extract at doses of 100 mg/kg body weight (P100), 150
mg/kg body weight (P150), and 200 mg/kg body weight (P200). T2DM model was
induced using a high-fat diet (HFD) and streptozotocin at a dose of 35
mg/kg. The results showed that the administration of pumpkin seed extract
affected liver glycogen levels and hepatic steatosis, as well as improving
metabolic parameters as supporting indicators. An increase in liver glycogen
levels was observed in the P200 group (33.7 ± 2.5 mg/g). Meanwhile, all
treatment groups exhibited mild hepatic steatosis (grade 1), with respective
percentages of 5% (P100), 7% (P150), and 5% (P200). These test results were
supported by metabolic parameters such as blood cholesterol levels which showed
improvement in the P150 group on day 28, marked by a decrease to 104.2 ± 17.0
mg/dL. Blood glucose levels showed improvement in the P200 group on day 28,
with a decrease to 92.0 ± 17.3 mg/dL. In addition, liver function test results
showed improvement, marked by a decrease in ALT levels in the P200 group to
39.4 ± 10.7 U/L and a decrease in AST levels to 108.2 ± 34.3 U/L.
Kata Kunci : Pumpkin Seed Extract, Type 2 Diabetes, Glycogen Levels, Hepatic steatosis