Wacana Khitan perempuan :: di Desa Pager Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan
NASHICHUDDIN, Ach, Dr. Irwan Abdullah
2005 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaPenelitian ini bertujuan untuk mendeskribsikan wacana khitan perempuan di desa Pager kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruan. Ada dua wacana yang dideskribsikan di penelitian ini, yaitu wacana teks-teks fiqih yang terdiri dari kitabkitab fiqih yang ditulis oleh ulama-ulama Syafi’iyah dan wacana konteks masyarakat di desa Pager kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruan. Pemilihan terhadap kitabkitab fiqih yang ditulis oleh ulama-ulama Syafi’iyah ini didasar pada realita masyarakat desa Pager yang tergolong kelompok muslim tradisional yang bermazhab Syafi’iyah. Selanjutnya, kedua wacana tersebut dikomparasikan untuk menemukan persamaan dan perbedaannya. Dalam penelitian ini ditemukan, bahwa tidak semua kitab-kitab fiqih yang tersebar di masyarakat memuat penjelasan tentang khitan perempuan. Penjelasan tersebut hanya ditemukan dalam kitab-kitab fiqih tingkat lanjut yang jarang disentuh oleh masyarakat awam. Dalam kitab-kitab fiqih tersebut dinyatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat khitan adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh muslim laki-laki dan perempuan. Sementara sebagian kecil ulama yang lain berpendapat wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan. Prosedur yang dianjurkan adalah memotong kulit bagian atas dari klitoris perempuan, makin sedikit yang dipotong dianggap lebih utama. Sedangkan dalam konteks masyarakat desa Pager, khitan perempuan sudah tidak dijalani lagi walaupun masih ada sebagian orang yang menganggap khitan perempuan itu hukumnya wajib atau sunnah. Pada tahun 1960an, khitan perempuan pernah membudaya di kalangan masyarakat desa Pager hal mana masih dijumpai seorang dukun khusus khitan perempuan dengan prosedur seperti yang dianjurkan dalam kitab-kitab fiqih. Setelah dukun tersebut meninggal, tradisi ini dilanjutkan oleh dukun bayi dengan prosedur yang berbeda, yaitu hanya simbolik. Dan pada saat itu animo masyarakat terhadap khitan perempuan mulai menurun. Ketika proses persalinan ditangani oleh bidan, tradisi ini hilang dengan sendirinya tanpa ada perasaan berdosa karena meninggalkannya, sebab mereka menganggap bahwa khitan perempuan adalah tradisi masyarakat zaman dulu yang tidak terkait dengan ajaran agama. Dari sini nampak jelas, bahwa pada saat ini terjadi perbedaan yang signifikan antara teks-teks fiqih dengan konteks masyarakat desa Pager dalam memaknai praktek khitan perempuan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh tiga faktor, yaitu terjadinya perubahan sosial dan budaya masyarakat desa Pager, perubahan pola pikir masyarakat desa Pager, dan keawaman mereka terhadap teks-teks fiqih yang memuat penjelasan tentang hukum khitan perempuan
This research aims to describe a discourse of female circumcision in desa Pager kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruan. There are two discourses that are described in this research; discourse of fiqih text that consists of books written by Moslem scholar of Syafi'iyah and discourse of social context in desa Pager kecamatan Purwosari kabupaten Pasuruan. Election to books written by Moslem scholar of Syafi'iyah is based on the reality that most of societies in desa Pager are traditional Moslem group who follow to Syafi'iyah School. Then, those two discourses are compared to find equation and difference. In this research is found, that no all fiqih books, which are spread over in society explain about female circumcision. The explanation is only found in advanced fiqih books that seldom be touched by civil society. In fiqih books expressed that majority of Moslem scholar see that female circumcision is religious obligatory either for men and woman. For a while other minority Moslem scholar see that it is obliged to men and recommended to woman. Suggested procedure is cutting part of the clitoral foreskin above the vagina, the fewer is assumed better. While in social context in desa Pager, female circumcision is not experienced again although some of them is still assuming that female circumcision is obliged to or recommended. In 1960th, female circumcision has been entrenched among society in desa Pager in which female dukun of female circumcision was found. The procedure is as those that suggested in fiqih books. After the female dukun died, this practice is continued by dukun bayi with different procedure, that is only symbolic gestures. And at that time, social attention to female circumcision became loose. When the childbirth care taken over by midwife, this tradition is lose by it without feeling commit sin because of leaving it, that’s because they assume that female circumcision is tradition of ancient society, which is not related to religious teaching. Here has been clear, that at the moment, there is a significant difference between the fiqih text and the social context in desa Pager in explaining the meaning of female circumcision practice. There are three factors that cause the difference; the social and cultural change in the society, the change of pattern of notion in the society, and they’re unknowing to the fiqih text that explains female circumcision.
Kata Kunci : Masyarakat dan Tradisi, Khitan Perempuan, Teks Fiqih, Female circumcision, fiqih text , social context, tradition.