Laporkan Masalah

KERENTANAN AIRTANAH TERHADAP PENCEMARAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RENCANA POLA RUANG DI KAPANEWON GODEAN, KABUPATEN SLEMAN

Wahyu Handayani, Dr. Ahmad Cahyadi, S.Si., M.Sc.

2026 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Kapanewon Godean merupakan salah satu wilayah yang mengalami perkembangan kawasan perkotaan sebagai bagian dari ekspansi Kota Yogyakarta. Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sumber daya airtanah akibat perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya aktivitas manusia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan airtanah terhadap pencemaran di Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman dan menganalisis kesesuaian rencana pola ruang Kapanewon Godean berdasarkan pola sebaran kerentanan airtanah.

Kerentanan airtanah terhadap pencemaran diperoleh melalui metode DRASTIC dengan tujuh parameter hidrogeologi, yaitu kedalaman muka airtanah (depth to water table), imbuhan airtanah (recharge), media akuifer (aquifer media), media tanah (soil media), kemiringan lereng (topography), zona tidak jenuh (impact of vadose zone), dan konduktivitas hidrolik (hydraulic conductivity). Parameter tersebut diberikan nilai (rating) dan bobot (weight) sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap kerentanan airtanah, kemudian dianalisis melalui teknik overlay secara spasial menggunakan software GIS (Geographic Information System) untuk menghasilkan peta kerentanan airtanah. Validasi dilakukan dengan membandingkan kelas kerentanan dengan konsentrasi parameter kualitas air, yaitu nitrat, sulfat, klorida, dan amonia menggunakan analisis matriks perbandingan dan uji korelasi Spearman’s Rho. Analisis kesesuaian rencana pola ruang dengan tingkat kerentanan airtanah selanjutnya dilakukan melalui overlay antara peta kerentanan airtanah dengan peta rencana pola ruang Kapanewon Godean.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan airtanah di Kapanewon Godean terdiri atas tiga kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Kelas kerentanan tinggi mendominasi wilayah penelitian dengan luasan sekitar 25,32 km² atau 95,46?ri total wilayah, sedangkan kelas kerentanan rendah dan sedang masing-masing memiliki luasan 1,08 km² (4,08%) dan 0,12 km² (0,46%). Analisis kesesuaian rencana pola ruang dengan tingkat kerentanan airtanah menunjukkan dominasi kelas tidak sesuai sebesar 67%, diikuti kelas sesuai dan cukup sesuai masing-masing sebesar 17%. Ketidaksesuaian terdapat pada wilayah dengan tingkat kerentanan airtanah tinggi yang difungsikan sebagai kawasan budidaya dengan aktivitas manusia yang intensif, sehingga diperlukan strategi pengelolaan yang tepat dan integrasi aspek kerentanan airtanah dalam penyusunan rencana tata ruang untuk mendukung perlindungan dan pengelolaan sumber daya airtanah secara berkelanjutan.

Godean Sub-district is one of the areas undergoing urban development as part of the expansion of the City of Yogyakarta. This development has the potential to increase pressure on groundwater resources due to changes in land use and increased human activity. Therefore, this study aims to analyse the level of groundwater vulnerability to pollution in Godean Sub-district, Sleman Regency, and to assess the suitability of the Godean Sub-district spatial plan based on the distribution pattern of groundwater vulnerability.

Groundwater vulnerability to pollution was determined using the DRASTIC method with seven hydrogeological parameters: depth to water table, recharge, aquifer media, soil media, topography, impact of vadose zone, and hydraulic conductivity. These parameters were assigned ratings and weights according to their level of influence on groundwater vulnerability, and were then analysed using spatial overlay techniques via GIS (Geographic Information System) software to produce a groundwater vulnerability map. Validation was carried out by comparing the vulnerability classes with the concentrations of water quality parameters, namely nitrate, sulphate, chloride, and ammonia, using a comparison matrix analysis and Spearman’s Rho correlation test. An analysis of the alignment of the spatial planning scheme with groundwater vulnerability levels was subsequently conducted through an overlay of the groundwater vulnerability map with the spatial planning map of Godean Sub-district.

The results of the study indicate that groundwater vulnerability levels in Godean Sub-district comprise three classes: low, moderate, and high. The high vulnerability class dominates the study area, covering an area of approximately 25.32 km² or 95.46% of the total area, whilst the low and moderate vulnerability classes cover 1.08 km² (4.08%) and 0.12 km² (0.46%) respectively. Analysis of the suitability of the spatial planning scheme with groundwater vulnerability levels indicates a dominance of the ‘unsuitable’ class at 67%, followed by the ‘suitable’ and ‘moderately suitable’ classes at 17?ch. Incompatibility is found in areas with high groundwater vulnerability that are utilised as cultivation zones with intensive human activity; therefore, appropriate management strategies and the integration of groundwater vulnerability aspects into spatial planning are required to support the sustainable protection and management of groundwater resources.

Kata Kunci : Kapanewon Godean, kerentanan airtanah, kesesuaian rencana pola ruang, metode DRASTIC, pencemaran airtanah / Kapanewon Godean, groundwater vulnerability, spatial planning suitability, DRASTIC method, groundwater contamination

  1. S1-2026-492508-abstract.pdf  
  2. S1-2026-492508-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-492508-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-492508-title.pdf