Investasi asing dan kebijakan Community Development :: Tinjauan pelaksanaan Program pembinaan masyarakat desa hutan oleh PT Youlim Sari di Desa Sentosa dan Wamo-Yadaw Kabupaten Jayapura
PUGU, Melyana Ratana, Drs. Riza Noer Arfani, MA
2005 | Tesis | S2 Ilmu PolitikPenelitian ini menganalisa tentang pelaksaan program pembinaan masyarakat desa hutan oleh investor asing yang bergerak di bidang hak pengusahaan hutan yaitu PT Youlim Sari dalam kaitannya dengan kebijakan community development. Menganalisa keadaan Desa Sentosa dan Wamo-Yadaw setelah masuknya investor asing milik Korea ini dan dampak yang ditimbulkan. Hasil studi menunjukan bahwa sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 165 tahun 1998 maka pemegang hak Pengusahaan hutan diwajibkan memberdayakan penduduk di sekitar atau di dalam hutan areal tebangan. Namun dalam prakteknya dilapangan, pelaksanaan program pembinaan masyarakat desa hutan yang bertujuan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat pemilik hutan ternyata oleh investor asing dalam hal ini PT Youlim Sari tidak memberikan kesejahteraan yang berarti bahkan masyarakat bertambah sengsara karena hutan sebagai tempat berlindung, mencari makan dan kebutuhan sehari-hari telah habis ditebang sementara masyarakat tidak diberdayakan sebagaimana ketentuan perundangan yang berlaku. Dari studi ini, tampak jelas bahwa investor asing yang bergerak di bidang hak pengusahaan hutan terkesan melakukan pembinaan masyarakat desa karena kewajiban untuk memperoleh persetujuan rencana karya tahunan dan rencana karya lima tahun oleh pemerintah yang dalam prakteknya pelaksanaan program tidak berjalan dengan baik yang terlihat dengan tidak adanya peningkatan taraf hidup dan pendapatan masyarakat karena masyarakat tetap dengan kondisi semula yang miskin dan semakin sengsara sementara hutannya telah hilang.
There are two objectives of this research. The first objectives is to analyze the effectiveness of plural forest community development programme execusion by foreign investor as a forest concession holder that is PT Youlim Sari relased with the community development policy. Second objective is to analyze the condition of village Sentosa and Wamo-Yadaw after a foreign investor owned by Korean entered the village. It also analyze the impact caused by it. The result of the study shows that in accordance with the government policy issued by Ministry of Forestry in 1998 number 165, forest concession holder has obligation to empower people aroud the forest or in the forest. In reality, the execution of plural forest community development programme, which is intended to give prosperity to the society as the forest owner, does not run like what is expressed. PT Youlim Sari as the forest concession holder does not carry out the programme. People as the forest owner do not get prosperty even they suffer more because the forest as their place to line and the place to look for food has run out. PT Youlim sari makes programme just to get government approval for its annual or 5 year plan. Because the programme is not effective, people in those villages remain poor and get worse while their forest has gone.
Kata Kunci : Investasi Asing, Community Development, Foreign Investment, Community Development