Assessing Pharmacy Information Systems and Their Support for Pharmaceutical Service Standards: a Mixed Methods Study in East Kalimantan Primary Healthcare Centers
Nor Hamidah, Prof. Dr. apt. Susi Ari Kristina, M. Kes; Associate Prof. Vo Quang Trung, Ph.D
2026 | Tesis | Magister Manajemen Farmasi
Latar belakang: Puskesmas memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016, yang mencakup pengelolaan obat dan pelayanan farmasi klinik. Saat ini, Sistem Informasi Manajemen Farmasi (SIMFAR) telah digunakan untuk mendukung pelayanan tersebut. Namun, penerapan SIMFAR dan kontribusinya terhadap pemenuhan standar pelayanan kefarmasian masih belum berjalan secara merata.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberhasilan SIMFAR pada puskesmas di Kalimantan Timur serta mengeksplorasi kontribusinya dalam mendukung standar pelayanan kefarmasian.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods sequential explanatory. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei cross-sectional terhadap 136 tenaga kefarmasian di puskesmas yang telah menggunakan SIMFAR. Data dianalisis menggunakan Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean serta Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan 12 informan dari puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota.
Hasil: Model penelitian mampu menjelaskan 75,3% varians pada penggunaan sistem, 72,0% pada kepuasan pengguna, dan 57,0% pada manfaat bersih. Kualitas informasi berpengaruh signifikan terhadap penggunaan sistem dan kepuasan pengguna, sedangkan kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap keduanya. Kualitas sistem berpengaruh signifikan terhadap penggunaan sistem, tetapi tidak terhadap kepuasan pengguna. Penggunaan sistem juga berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna. Selanjutnya, kepuasan pengguna dan penggunaan sistem sama-sama berpengaruh signifikan terhadap manfaat bersih, dengan kepuasan pengguna sebagai prediktor yang lebih kuat (? = 0,425; p = 0,005). Temuan kualitatif memperkuat hasil tersebut dengan menunjukkan bahwa SIMFAR membantu tenaga kefarmasian dalam mengelola data resep, riwayat pengobatan pasien, informasi stok, penyerahan obat, monitoring, dan pelaporan. Namun, dukungan SIMFAR terhadap standar pelayanan kefarmasian masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa kegiatan, seperti perencanaan kebutuhan obat, penyusunan laporan penggunaan obat, integrasi dengan gudang farmasi, dokumentasi konseling, dan pemantauan terapi obat, masih sering dilakukan secara manual atau melalui sistem lain yang berjalan secara paralel.
Kesimpulan: SIMFAR di puskesmas Kalimantan Timur telah memberikan manfaat dalam mendukung pelayanan kefarmasian dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Namun, implementasinya masih berada dalam tahap transisi dan sangat dipengaruhi oleh konteks masing-masing fasilitas. Efektivitas SIMFAR masih dibatasi oleh fragmentasi sistem, fitur yang belum lengkap, interoperabilitas yang lemah, serta adanya duplikasi alur kerja.
Kata kunci: Sistem Informasi Manajemen Farmasi, Pelayanan Kefarmasian, Puskesmas, DeLone dan McLean, Mixed Methods
Background:
Primary healthcare centers (PHCs) are required to provide pharmaceutical
services according to Ministry of Health Regulation No. 74 of 2016, covering
medicine supply management and clinical pharmacy services. Although Pharmacy
Information Systems (PIS) have been implemented to support these services,
their adoption and contribution to pharmaceutical service standards remain
uneven.
Objective:
This study assessed the success of PIS in PHCs in East Kalimantan and examined
its contribution to pharmaceutical service standards.
Method:
A mixed-methods sequential explanatory design was applied. The quantitative
phase used a cross-sectional survey of 136 pharmaceutical personnel in PHCs
implementing PIS, analyzed with the DeLone and McLean Information Systems
Success Model and Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
The qualitative phase involved semi-structured interviews with 12 informants
from PHCs and district or city health offices.
Results: The model explained 75.3% of variance in system use, 72.0%
in user satisfaction, and 57.0% in net benefits. Information quality
significantly affected system use and user satisfaction, while service quality
affected both constructs. System quality significantly affected system use but
not user satisfaction. System use significantly affected user satisfaction, and
both user satisfaction and system use significantly influenced net benefits,
with user satisfaction as the stronger predictor (? = 0.425; p = 0.005).
Qualitative findings supported these results by showing that PIS was useful for
prescription data, medication history, stock information, dispensing,
monitoring, and reporting. However, its support for pharmaceutical service
standards remained partial because drug planning, medicine use report preparation,
warehouse integration, counseling documentation, and medication monitoring were
still often handled manually or through parallel systems.
Conclusion: PIS in East Kalimantan PHCs was useful and promising, but still transitional and context-dependent, with effectiveness constrained by fragmentation, incomplete features, weak interoperability, and duplicated workflows.
Kata Kunci : Pharmacy Information System, Pharmaceutical Services, Primary Healthcare, DeLone and McLean, Mixed Methods