Mahkamah Syar'iyah dalam pemerintahan daerah Provinsi Nanggroe Aceh darussalam
USRIYA, Ervi, Prof.Dr. Riswandha Imawan, MA
2005 | Tesis | S2 Ilmu PolitikSalah satu implementasi otonomi khusus bagi provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tercermin dari pembentukan lembaga peradilan yang berdasarkan syariat Islam yaitu Mahkamah Syar’iyah. Penelitian ini menganalisis posisi Mahkamah Syar’iyah pada Pemerintahan Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Rumusan masalah penelitian ini adalah “bagaimana posisi Mahkamah Syar’iyah dalam Pemerintahan Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam�, sehingga tujuan penelitian ini adalah mengetahui posisi Mahkamah Syar’iyah dalam Pemerintahan Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Posisi Mahkamah Syar’iyah dibagi dalam tiga indikator yaitu kekuasaan Mahkamah Syar’iyah dalam sistem peradilan nasional, termasuk bagaimana kekuasaan yang dijalankan oleh Mahkamah Syar’iyah diantara empat peradilan lainnya, Kedudukan dan peran dalam pemerintahan termasuk kewenangan yang dimiliki oleh Mahkamah Syar’iyah, dan sarana Pendukung Mahkamah Syar’iyah yang dibagi menjadi ketentuan Hukum yang dipakai termasuk di dalamnya hukum materiil dan hukum formil yang berlaku pada Mahkamah Syar’iyah, hakim, jaksa dan polisi yang mendukung berjalannya pelaksanaan peradilan Mahkamah Syar’iyah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Mahkamah Syar’iyah berkedudukan sebagai lembaga peradilan Islam yang merupakan perluasan tugas dari pengadilan agama yang telah ada sebelumnya, namun tetap merupakan bagian yang integral dari sistem peradilan nasional. Kewenangan yang dimiliki Mahkamah Syar’iyah menggantikan seluruh kewenangan dalam pengadilan agama, namun kewenangan Mahkamah Syar'iyah yang ditetapkan dalam Qanun Nomor 10 tahun 2002 mencakup pula seluruh aspek hukum yang memerlukan penyelesaiannya melalui lembaga peradilan. Posisi Mahkamah Syar’iyah dalam pemerintahan daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih kurang jelas terkait dengan hubungannya dengan lembagalembaga pada pemerintah daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hal yang kurang jelas terutama adalah bagaimana mekanisme hubungan kelembagaan antar lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, misalnya bagaimana mekanisme yang harus dijalankan dalam hal pemberian fatwa hukum oleh Mahkamah Syar’iyah kepada DPRD. Berbagai perangkat pendukung, terutama ketentuan hukum syari’at Islam belum banyak dibuat sehingga belum bisa menangani berbagai perkara yang mensyaratkan adanya pelaksanaan syari’at Islam. Penyiapan aparat kepolisian dan kejaksaan serta hakim yang akan menangani perkara juga bukan perkara yang mudah, karena hakim, jaksa dan kepolisian harus berjalan searah dalam pelaksanaan syari’at Islam dan aturan-aturan operasional mengenai pelaksanaan tugas kepolisian, kejaksaan dan kehakiman juga belum dibuat.
One of the special authonomy implementation in Nanggroe Aceh Darussalam Province is in the founding of judicature institution based on syariat Islam, i.e Mahkamah Syar’iyah. This research analyzes the position of Mahkamah Syar’iyah in local government of Nanggroe Aceh Darussalam Province. The problem formulation of this research is “what is the position of Mahkamah Syar’iyah in local government of Nanggroe Aceh Darussalam Province?, so the purpose of this research is to determine the position of Mahkamah Syar’iyah in local government of Nanggroe Aceh Darussalam Province. The position of Mahkamah Syar’iyah position divided into three indicators. They are the power of Mahkamah Syar’iyah in national judicature system, including how the power will be run by the Mahkamah Syar’iyah between the four judicature institutions, the role in government including the authorities of Mahkamah Syar’iyah dan supporting medium of Mahkamah Syar’iyah, including the material and formal law in Mahkamah Syar’iyah, judges, district attorney and police that support the Mahkamah Syar’iyah. The type of this research is descriptive research. The location of this research is in Nanggroe Aceh Darussalam Province. The data analisis technique used is qualitative-descriptive. Mahkamah Syar’iyah is an Islamic judicature institution that extends the duties of religion judicature that has been there before, but it’s still the integral part of nasional judicature system. The authorities of Mahkamah Syar’iyah replace all the authorities of religion judicature, but the authorities of Mahkamah Syar’iyah given by the Qanun Number 10 year 2002 consists of all law aspect that need resolution through judicature institution. The position of Mahkamah Syar’iyah in the regional government of Nanggroe Aceh Province hasn’t been clear yet, including the relationship of Mahkamah Syar’iyah with the institutions in regional government of Nanggroe Aceh Darussalam. The one is how the mechanism of institutional relationship among the executive, legislative and judicative is done. For example, what’s the mechanism that must be done in relation to give the law suggestion to DPRD. Many supporting medium, especially the syariat Islam law hasn’t been much made so it hasn’t been able to resolve the case requiring the implementation of syariat Islam. The preparation of police and district attorney and judges that will handle the case isn’t an easy problem, because judges, attorney and police must run in the same way with the syariat Islam implementation and the operational arrangement about the implementation of police, attorney and judges duties hasn’t also been made.
Kata Kunci : Otonomi Khusus,Mahkamah Syariah,Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Mahkamah Syar’iyah, Syari’at Islam, Special Authonomy