Analisis Ketimpangan Pembangunan Antarwilayah di Provinsi Bali
Putu Krisna Adhipramana, Prof. Dr. Lutfi Muta’ali, S.Si., M.T.
2026 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketimpangan pembangunan antarwilayah di Provinsi Bali, menganalisis faktor-faktor dominan yang membentuk ketimpangan tersebut, serta merumuskan strategi pengurangan disparitas pembangunan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis jarak ekonomi untuk melihat kedekatan struktural antar kabupaten/kota terhadap wilayah acuan, analisis Indeks Bonet untuk mengukur disparitas relatif antarwilayah, serta analisis faktor untuk mengidentifikasi determinan utama ketimpangan. Data yang digunakan merupakan data sekunder kabupaten/kota di Provinsi Bali periode 2014–2024 yang meliputi indikator ekonomi, sosial, dan demografi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pembangunan di Provinsi Bali masih terpolarisasi antara wilayah selatan, khususnya Kabupaten Badung dan Kota Denpasar sebagai pusat pertumbuhan, dengan wilayah utara dan timur Bali. Nilai Indeks Bonet dan jarak ekonomi mengindikasikan bahwa disparitas bersifat struktural dan belum menunjukkan konvergensi yang signifikan. Analisis faktor mengidentifikasi tiga faktor utama pembentuk ketimpangan, yaitu faktor ekonomi produktif, faktor sosial-kesejahteraan, dan faktor demografi-ruang, dengan faktor ekonomi produktif sebagai determinan paling dominan. Oleh karena itu, strategi pengurangan ketimpangan perlu diarahkan pada penguatan pusat pertumbuhan baru di luar koridor selatan, diversifikasi ekonomi berbasis potensi lokal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan konektivitas antarwilayah guna mendorong pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan spasial.
This study aims to identify the level of interregional development inequality in Bali Province, analyze the dominant factors that shape the inequality, and formulate strategies to reduce development gaps. The research applies a quantitative approach using economic distance analysis to examine structural proximity among regencies and cities relative to the reference region, the Bonet Index to measure relative interregional disparities, and factor analysis to identify the main determinants of inequality. The study utilizes secondary data from regencies and cities in Bali Province for the period 2014–2024, covering economic, social, and demographic indicators.
The results indicate that regional development inequality in Bali remains spatially polarized between the southern region, particularly Badung Regency and Denpasar City as growth centers, and the northern and eastern parts of Bali. The Bonet Index and economic distance values suggest that disparities are structural in nature and have not shown significant convergence over time. Factor analysis identifies three main determinants of inequality, namely productive economic factors, socio-welfare factors, and demographic-spatial factors, with productive economic factors being the most dominant. Therefore, strategies to reduce inequality should focus on strengthening new growth centers outside the southern corridor, promoting local-based economic diversification, improving human capital quality, and enhancing interregional connectivity to achieve more inclusive and spatially equitable development.
Kata Kunci : Ketimpangan Wilayah, Jarak Ekonomi, Indeks Bonet, Analisis Faktor, Pembangunan Regional, Provinsi Bali.