RESISTANSI DAN NEGOSIASI IDENTITAS BUDAYA INDONESIA KE DALAM BUDAYA ARAB PADA PENERJEMAHAN NOVEL GADIS KRETEK
Muhamad Saiful Mukminin, Prof. Dr. Drs. Sajarwa, M.Hum.
2026 | Tesis | S2 Linguistik
Kesulitan dalam mengalihbahasakan identitas budaya membuat penerjemah dihadapkan pada dua pilihan, yakni memilih antara mendekati budaya sumber atau menyesuaikan dengan karakteristik budaya sasaran. Akibatnya, penerjemah perlu melakukan upaya pemertahanan (resistansi) atau membuat kompromi (negosiasi) terhadap identitas budaya yang hendak diterjemahkan. Sejalan dengan fakta tersebut, penelitian ini mengkaji resistansi dan negosiasi identitas budaya Indonesia ke dalam budaya Arab pada penerjemahan novel Gadis Kretek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi identitas budaya Indonesia, merumuskan pola resistansi dan negosiasi, serta merumuskan implikasi resistansi dan negosiasi terhadap kesepadanan budaya. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu kualitatif, dengan metode deskriptif dan komparatif. Data berupa kata, frasa, maupun kalimat yang merepresentasikan identitas budaya Indonesia diperoleh dari novel Gadis Kretek serta versi terjemahannya dalam bahasa Arab berjudul Fat?tu As-Saj?ir. Data dikumpulkan dengan serangkaian langkah sistematis, kemudian dianalisis dengan kombinasi dua model analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas budaya Indonesia dalam novel Gadis Kretek direpresentasikan melalui budaya sosial, budaya material, organisasi sosial-politik, ekologi, religi, serta gerak tubuh dan kebiasaan. Dalam menerjemahkan identitas budaya, penerjemah menerapkan resistansi untuk mempertahankan budaya sumber, negosiasi untuk menyesuaikannya dengan budaya sasaran, serta kombinasi keduanya secara bersamaan. Sebagai implikasi dari proses penerjemahan budaya, derajat kesepadanan budaya ditentukan oleh cara penerjemah mengelola dua budaya melalui resistansi, negosiasi, atau kombinasi keduanya. Sehingga, didapatkan bahwa kesepadanan total cenderung dihasilkan melalui resistansi, kesepadanan parsial melalui negosiasi dan kombinasi keduanya, sedangkan ketidaksepadanan tercapai melalui negosiasi.
The difficulty of translating cultural identity places translators before two choices: moving closer to the source culture or adapting to the characteristics of the target culture. Consequently, translators need to either preserve (resistance) or compromise (negotiation) the cultural identity being translated. In line with this issue, this study examines the resistance and negotiation of Indonesian cultural identity into Arab culture in the translation of the novel Gadis Kretek. The present research aims to identify Indonesian cultural identities, formulate patterns of resistance and negotiation, and determine their implications for cultural equivalence. The present research employs a qualitative approach using descriptive and comparative methods. The data consist of words, phrases, and sentences representing Indonesian cultural identity, taken from the novel Gadis Kretek and its Arabic translation titled Fat?tu As-Saj?ir. The data were collected through systematic procedures and analyzed using a combination of two qualitative data analysis models. The findings reveal that Indonesian cultural identity in Gadis Kretek is represented through social culture, material culture, socio-political organization, ecology, religion, as well as gestures and habits. In translating these cultural identities, the translator applies resistance to preserve the source culture, negotiation to adapt it to the target culture, and a combination of both simultaneously. As an implication of cultural translation, the degree of cultural equivalence is determined by how the translator manages the two cultures through resistance, negotiation, or their combination. Thus, total equivalence tends to result from resistance, partial equivalence from negotiation and their combination, while non-equivalence is primarily achieved through negotiation.
Kata Kunci : identitas budaya, resistansi, negosiasi, kesepadanan budaya, penerjemahan