Gender dan Setengah Pengangguran di Propinsi Banten ( Analisis Data Sakernas Tahun 2007)
Ratih Paramitha, Abdur Rofi, S.Si., M.Si.
2009 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANAdanya persamaan hak antara perempuan dan laki-laki serta semakin meningkatnya pendidikan perempuan, mengakibatkan kini tidak sedikit perempuan yang turut bekerja di sektor publik. Namun sesuai kodrat sebagai perempuan dan pandangan masyarakat umum tentang peran domestik perempuan, maka pekerja perempuan memiliki waktu bekerja yang lebih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi setengah pengangguran di Propinsi Banten dengan menggunakan perspektif gender, kemudian mengetahui seberapa besar pekerja setengah pengangguran yang dapat ditingkatkan menjadi pekerja penuh. Selain itu juga untuk mengetahui tingkat upah menurut gender. Penelitian ini menggunakan data sekunder Sakernas Tahun 2007. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis tabel silang dan chi-kuadrat yang diolah dengan menggunakan program SPSS. Selain itu juga digunakan analisis spasial untuk menggambarkan persebaran setengah pengangguran di Propinsi Banten. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa angka setengah pengangguran aktif paling tinggi untuk laki-laki adalah di Kabupaten Lebak sedangkan untuk perempuan adalah di Kota Tangerang. Sementara itu angka setengah pengangguran pasif paling tinggi untuk laki-laki adalah di Kabupaten Pandeglang sedangkan untuk perempuan adalah di Kabupaten Lebak. Angka setengah pengangguran sukarela paling tinggi untuk laki-laki adalah di Kota Tangerang sedangkan untuk perempuan adalah di Kota Cilegon. Selain itu diperoleh hasil setengah pengangguran aktif yang bersedia menjadi pekerja penuh didominasi oleh pekerja laki-laki berumur tua, pendidikan menengah, bekerja di sektor informal, lapangan pekerjaan manufaktur, sebagai pekerja terampil, dan berstatus belum kawin. Sementara itu setengah pengangguran pasif didominasi oleh pekerja laki-laki berumur menengah, pendidikan rendah, bekerja di sektor informal, pada lapangan pekerjaan pertanian, sebagai pekerja tidak terampil, dan berstatus kawin. Terakhir, setengah pengangguran sukarela didominasi oleh pekerja perempuan berumur menengah, pendidikan menengah, bekerja di sektor informal, pada lapangan pekerjaan pertanian, sebagai pekerja tidak terampil, dan berstatus kawin. Mereka tidak bersedia menerima tawaran pekerjaan dengan beberapa alasan yaitu karena mengurus rumah tangga, sudah memiliki pekerjaan, dan sudah merasa cukup. Diketahui pula bahwa upah pekerja perempuan lebih rendah daripada pekerja laki-laki pada jenis pekerjaan yang sama.
Because of equality of rights between woman and man and also increasing of female's education, make many woman could work in the public sector. But, as a woman and the interpretation of public society about domestic role of woman, make woman has the limited time to work. This research's purpose are to know the proportion of under employed in Province of Banten based on gender perspective and also to know how far the under employed can be developed become the full time workers. Also to know rate of salary based on gender. This research uses the secondary data of Sakernas 2007. The analysis technnique used is a cross-table and chi-square analysis which is processed by using the programme of SPSS for windows version 16.0. Besides, also used spatial analysis to describe the distribution of under-employed in Banten. Results of this research show that the highest rate of active under employed for man is in Lebak Regency and for woman is in Tangerang City. Meanwhile, the higest rate of passive under employed for man is in Pandeglang Regency and for woman is in Lebak Regency. The highest rate of voluntary under employed for man is in Tangerang City and for woman is in Cilegon City. Another results are about active under employed which are willing to be the full time workers. It is dominantly by man worker in the old-aged, with middle-education, working in manufacture sector, being the informal and white collar workers, and not marriage status yet. Meanwhile, the passive under employed who are ready to fill the vocation are dominantly by middle-aged man workers, with low-education, working in agricultural sector, being the informal and blue collar workers, and marriage status. The last, voluntary under employed dominantly by woman. workers in the middle-aged, middle-education, working in agricultural sector, being informal and blue collar workers, and marriage status. They didn't try to find any job because of some reasons, such as they have a daily works as house wife; they already have a job; and they already felt satisfied with their life. Beside that, the other result of this research is the woman salary is lower than man at the same occupation.
Kata Kunci : Gender, Setengah Pengangguran, Gender, Under Employed