Pemilu legislatif dan meningkatnya dukungan partai berbasis massa Islam :: Studi kasus hasil Pemilu 2004 di Kabupaten Bima
KHALDUN, Ibnu, Dr. I Ketut Putra Erawan, MA
2005 | Tesis | S2 Ilmu PolitikKehidupan sosial kultural masyarakat Bima secara historis syarat dengan nuansa religius. Visualisasi tersebut sangat mempengaruhi corak, gerak dan sikap politik masyarakat khususnya apa yang menjadi pilihannya selama periodesasi pemilu. Indikasi kuatnya nuansya religius dibuktikan dengan perolehan suara Partai politik Islam pada pemilu 1955 yakni Partai Indonesia Raya (PIR) 53,1%, Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) 30,4 % dan Nahdatul Ulama (NU) 26,3 %. Pada pemilu 1971-1977, terjadi pergeseran ditandai dengan pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru dimana kuatnya tekanan rezim dalam melakukan depolitisasi dan berimpilkasi pada fluktuasi proposisi suara PPP dari 5 kali pelaksanaan pemilu hanya pada tahun 1977 PPP mampu menyamai keunggulan suara Golkar. Pada pemilu 1999 menjadi ruang ekpresif yang sangat memberikan keberpihakan pada Partai berbasis massa Islam, terbukti dengan suara yang diperoleh PBB 4,6 %, PPP 8,5% PAN 7,5 % dan lainnya 15,5 % Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif , penelitian ini juga menggunakan pendekatan deskriptif kompratif historis yang menekankan pada pengungkapan fakta untuk memberikan gambaran yang objektif tentang keadaan sebenarnya melalui wawancara mendalam, dokumentasi dan kepustakaan. Data penelitian merupakan data primer yang didapatkan melalui wawancara dengan Caleg terpilih dari 4 Daerah Pemilihan di kabupaten Bima, beberapa stakeholder dan anggota KPUD Kabupaten. Data sekunder yang berupa dokumen hasil pemilu 1999, 2004, sarta lainya yang relefan Meningkatnya dukungan suara partai berbasis massa Islam disebabkan oleh arus besar perubahan yang ditandai dengan perubahan sistim politik yang terjadi bersamaan lahirnya UU RI No 12 tahun 2003 dan UU No. 31 tahun 2002. Perubahan dari sistim proposional menjadi semi distrik. Konsolidasi internal menjadi faktor yang ikut menentukan serta adanya pertimbangan faktor kekerabatan dan keterwakilan .
Social cultural of Bima Community was historically full with religius nuance. It influnced pattern, movement and attitude especially what their choice during election period. Indication of the strong religious nuance proved with vote of Islamic political parties in the 1955 Election: Partai Indonesia Raya (PIR) 53,1%, Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) 30,4% and Mahdatul Ulama (NU) 26,3%. In 1971-1977 elections, there were shifts following change in regime from Old Order to the New Order where the regim’s strong emphasized in depoliticing and implied on fluctuation of proposition of PPP vote from five times election only in 1977 PPP can gain vote equal to Golkar. The 1999 election became expressive space giving support to Islamic parties, proved with their vote, PBB 4,6%, PPP 8,5% PAN 7,5 % and others 15,5%. This research used descriptive qualitative method. It also used descriptive comparative historical research emphasizing on presenting fact to give objective description on the true condition through dept interview, documentation and literary studt. Data were primary data obtained through interview with elected legislator from four election area in bima district, stakeholders and members of district KPUD. Secondary data was document of result of 1999. 2004 election and other relevant document. The increased vote of Islamic parties was caused by change marked with change political system occurred along with act No12/2003 Act No 31/2002. The change in election system was from propotional to seme-district. Internal consolidation become factor determining and there were also kinship and representative factor.
Kata Kunci : Pemilu 2004,Partai Politik Islam,Kabupaten Bima, Change in political system, internal consolidation of Islamic parties, genealogical factor (kinship) and representativness (region)