Laporkan Masalah

Nilai Budaya Noken dan Kontribusinya Bagi Perdamaian di Tanah Papua dalam Perspektif Aksiologi.

Yuyun Hendrawati, Dr. Septiana Dwiputri Maharani, S.S., M. Hum.; Dr. Heri Santoso, S.S., M. Hum.

2026 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat

Penelitian ini berjudul Nilai Budaya Noken dan Kontribusinya bagi Perdamaian di Tanah Papua dalam Perspektif Aksiologi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perubahan dalam produksi dan pemaknaan budaya Noken akibat globalisasi, modernisasi, dan komersialisasi yang tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga berpotensi menggeser orientasi nilai yang berakar dalam praktik sosial dan kultural masyarakat Papua. Pergeseran tersebut menjadi penting dalam konteks masyarakat Papua yang rentan terhadap konflik horizontal berbasis identitas. Dalam situasi ini, budaya Noken dipandang memiliki potensi sebagai fondasi normatif dalam membangun dan memelihara perdamaian sosial melalui nilai yang dikandungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengertian dan kedudukan budaya Noken, menganalisis nilai budaya Noken dalam perspektif aksiologi, serta menganalisis kontribusi nilai budaya Noken bagi perdamaian di Tanah Papua.

Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis berbasis lapangan, dengan budaya Noken sebagai objek material dan aksiologi (filsafat nilai) sebagai objek formal. Data diperoleh melalui studi kepustakaan yang didukung oleh penelitian lapangan berupa observasi dan wawancara mendalam dengan pembuat Noken, tokoh adat, akademisi, tokoh perempuan, serta pejabat pemerintah daerah di Kota dan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode hermeneutika filosofis melalui empat unsur metodis, yaitu interpretasi, heuristika, penggunaan bahasa inklusif atau analogal, serta deskripsi. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, Noken dalam kehidupan masyarakat Tanah Papua tidak hanya berfungsi sebagai tas tradisional, tetapi berkedudukan sebagai medium budaya yang merepresentasikan identitas kolektif, pandangan hidup, serta relasi antara manusia, alam, dan Tuhan, sehingga melampaui fungsi materialnya. Kedua, budaya Noken memuat nilai keselarasan dengan alam, kebersamaan, solidaritas, perdamaian, nilai budaya, hidup dalam keragaman, dan religiusitas yang dihayati secara konkret dalam praktik kehidupan masyarakat Papua. Nilai-nilai tersebut bersifat objektif karena tidak bergantung pada bentuk material, melainkan pada makna yang dihayati secara kolektif, serta memperlihatkan keterpaduan antara nilai intrinsik dan instrumental dalam aktualisasinya. Dalam hierarki nilai Max Scheler, nilai-nilai tersebut tersusun ke dalam nilai vital, nilai spiritual, dan nilai religius sebagai puncak. Selain itu, menurut teori perubahan nilai Nicholas Rescher, nilai budaya Noken bersifat dinamis melalui mekanisme akuisisi, redistribusi, serta penekanan dan pengurangan penekanan nilai, tanpa kehilangan orientasi dasarnya. Ketiga, nilai budaya Noken berkontribusi dalam membangun dan memulihkan perdamaian di Tanah Papua melalui nilai kebersamaan dan solidaritas memperkuat kohesi sosial dan tanggung jawab kolektif, nilai hidup dalam keragaman yang mendorong sikap saling menghargai dan hidup berdampingan secara harmonis, serta nilai perdamaian dan religiusitas yang berperan sebagai sarana dialog, rekonsiliasi, serta landasan moral dalam menolak kekerasan dan menjaga martabat manusia.

This study is entitled The Cultural Values of Noken and Its Contribution to Peace in Papua: An Axiological Perspective. It is motivated by changes in the production and cultural meaning of Noken resulting from globalization, modernization, and commercialization, which have affected not only its technical aspects but also the value orientation embedded in the social and cultural practices of Papuan communities. This shift is particularly significant in the context of Papuan society, which remains vulnerable to identity-based horizontal conflict. In this situation, Noken culture is viewed as having the potential to serve as a normative foundation for building and sustaining social peace through the values it embodies. Accordingly, this study aims to describe the meaning and status of Noken culture, to analyze its cultural values from an axiological perspective, and to examine the contribution of those values to peace in Papua.

This study employs a field-based philosophical approach, with Noken culture as its material object and axiology (the philosophy of value) as its formal object. The data were collected through library research supported by fieldwork consisting of observation and in-depth interviews with Noken makers, customary leaders, academics, women leaders, and local government officials in the City and Regency of Jayapura, Papua Province. The data were analyzed using a philosophical hermeneutic method through four methodological elements: interpretation, heuristics, the use of inclusive or analogical language, and description.

The findings show that, first, in the life of Papuan communities, Noken functions not merely as a traditional bag but also holds a cultural position as a medium that represents collective identity, a worldview, and the relationship between human beings, nature, and God, thereby transcending its material function. Second, Noken culture embodies the values of harmony with nature, togetherness, solidarity, peace, cultural identity, living in diversity, and religiosity, all of which are concretely manifested in the everyday practices of Papuan society. These values are objective in nature because they do not depend on the material form of Noken, but rather on meanings collectively lived and shared, while also demonstrating the integration of intrinsic and instrumental values in their actualization. Within Max Scheler’s hierarchy of values, these are structured into vital values, spiritual values, and religious values as the highest level. Furthermore, according to Nicholas Rescher’s theory of value change, the cultural values of Noken are dynamic, developing through mechanisms of acquisition, redistribution, and the accentuation and de-accentuation of values, without losing their fundamental orientation. Third, the cultural values of Noken contribute to the construction and restoration of peace in Papua: the values of togetherness and solidarity strengthen social cohesion and collective responsibility; the value of living in diversity encourages mutual respect and harmonious coexistence; and the values of peace and religiosity function as means of dialogue and reconciliation, as well as a moral foundation for rejecting violence and upholding human dignity.

Kata Kunci : Noken, nilai budaya, aksiologi, perdamaian, Tanah Papua, konflik horizontal.

  1. S-3-2026-495115-tableofcontent.pdf  
  2. S3-2026-495115-abstract.pdf  
  3. S3-2026-495115-bibliography.pdf  
  4. S3-2026-495115-title.pdf