Laporkan Masalah

BHINNEKA TUNGGAL IKA SEBAGAI METAFISIKA POLITIK SUKARNO: SEBUAH USAHA PEMAKNAAN ULANG ATAS PANCASILA DAN UUD 1945

Norbertus Antoin Binsasi, Dr. Heri Santoso

2026 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat

Secara historis-kultural Bhinneka Tunggal Ika adalah formula Sanskrit dari Mpu Tantular untuk membangun semangat “kesatuan dalam perbedaan” antara Hindu dan Budha di Kerajaan Majapahit. Kemudian, Sukarno, pada tahun 1950, memakai formula itu sebagai semboyan negara Indonesia yang majemuk suku dan agama, tetapi tidak dimuat di dalam UUD 1945. Adapun yang dimuat di dalam UUD 1945 hanya Pancasila, sedangkan Bhinneka Tunggal Ika baru dimuat di dalam UUD 1945 hasil amandemen 2000-2002, di mana Pasal 36A mengatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara Indonesia dan tidak menyebutnya sebagai metafisika politik Indonesia. Oleh karena itu, masalah penelitian ini menyangkut tiga pertanyaan: (1) Apa arti metafisik Bhinneka Tunggal Ika? (2) Bagaimana Sukarno mengartikulasikan metafisika politik Bhinneka Tunggal Ika itu dalam kebijakan politiknya? (3) Bagaimana dengan penerapan metafisika politik Bhinneka Tunggal Ika dapat memberikan kontribusi bagi pemaknaan ulang atas Pancasila dan UUD 1945? Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk menjawab gap antara metafisika politik dengan perwujudannya dalam kebijakan-kebijakan politik Sukarno.


Penelitian ini menggunakan metode penelitian filsafat, dengan unsur-unsur metodis pokok, sebagai berikut: (1) Interpretasi: Menangkap isi filosofis pemikiran Sukarno berdasarkan kebijakan politiknya; (2) Induksi dan Deduksi: Menganalisis enam kebijakan politik Sukarno untuk menemukan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika; (3) Koherensi Intern: Menggali apakah kemajemukan harus meniadakan ketunggalan?; (4) Holistika: Menganalisis Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks Filsafat Barat dan Filsafat Nusantara; (5) Kesinambungan Historis: Menganalisis Bhinneka Tunggal Ika dari konteks Majapahit sampai konteks perjuangan Sukarno; (6) Idealisasi: Melakukan sebuah rekonstruksi secara teoretis suatu sistem etika politik yang dianut oleh Sukarno: (7) Komparasi: Membandingkan Bhinneka Tunggal Ika dengan metafisika politik Barat; dan (8) Heuristika: Berdasarkan semua itu, akhirnya ditemukan sebuah pemahaman baru. 

Peneliti akhirnya menemukan hasilnya dalam wujud pemaknaan ulang atas Pancasila dan UUD 1945: Pertama, dalam terang metafisika politik Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia dapat mewujudkan Sila Persatuan dari Pancasila sebagai semangat “kesatuan dalam perbedaan”. Kedua, bangsa Indonesia memahami pasal 36A itu tidak lagi sekadar semboyan negara Indonesia melainkan sebuah metafisika politik bangsa Indonesia, yaitu metafisika tentang hubungan dialektis antara “Yang Satu” (Tunggal) dan “Yang Banyak” (Bhinneka). Bertitik tolak dari sini jelaslah bahwa hanya satu optio fundamentalis politik Sukarno, yakni kesatuan. Akan tetapi kesatuan yang dimaksud bukanlah kesatuan dalam pengertian monisme (ex unitatis unum), melainkan kesatuan dalam pengertian pluralisme (ex pluribus unum, atau Bhinneka Tunggal Ika).

Historically and culturally, Bhinneka Tunggal Ika is a Sanskrit formula from Mpu Tantular to build the spirit of “unity in diversity” between Hindus and Buddhists in the Majapahit Kingdom. Then, in 1950, Sukarno adopted the formula as the motto of the Indonesian state, which is diverse in ethnicity and religion, but it was not included in the 1945 Constitution. What was included in the 1945 Constitution was only Pancasila, while Bhinneka Tunggal Ika was included only in the 1945 Constitution as amended in 2000-2002, where Article 36A states that Bhinneka Tunggal Ika is the motto of the Indonesian state and does not constitute Indonesia’s political metaphysics. Therefore, the problem of this research concerns three questions: (1) What is the metaphysical meaning of Bhinneka Tunggal Ika? (2) How did Sukarno articulate the political metaphysics of Bhinneka Tunggal Ika in his political policies? (3) How can the application of the political metaphysics of Bhinneka Tunggal Ika contribute to the reinterpretation of Pancasila and the 1945 Constitution? The research aims to address the gap between political metaphysics and its realization in Sukarno's political policies.

The researcher uses a philosophical research method, with the following main methodological elements: (1) Interpretation: Capturing the philosophical content of Sukarno’s thoughts based on his political policies; (2) Induction and Deduction: Analysing Sukarno’s six political policies to find the values ??of Bhinneka Tunggal Ika; (3) Internal Coherence: Exploring whether diversity must eliminate unity?; (4) Holistic: Analysing Bhinneka Tunggal Ika in the context of Western Philosophy and Nusantara Philosophy; (5) Historical Continuity: Analysing Bhinneka Tunggal Ika from the context of Majapahit to the context of Sukarno’s struggle; (6) Idealization: Carrying out a theoretical reconstruction of a political ethics system adopted by Sukarno: (7) Comparison: Comparing Bhinneka Tunggal Ika with Western political metaphysics; and (8) Heuristics: Based on all of that, a new understanding was finally found.

The researcher finally found the result in the form of a reinterpretation of Pancasila and the 1945 Constitution: First, in the light of the political metaphysics of Bhinneka Tunggal Ika, the Indonesian nation can realize the Unity Principle of Pancasila as the spirit of “unity in diversity.” Second, the Indonesian nation understands that Article 36A is no longer just a motto of the Indonesian state but a political metaphysics of the Indonesian nation, namely the metaphysics of the dialectical relationship between “The One” (Tunggal) and “The Many” (Bhinneka). Starting from this, it is clear that there is only one fundamentalist option in Sukarno's politics: unity. However, the unity in question is not unity in the sense of monism (ex unitatis unum), but unity in the sense of pluralism (ex pluribus unum, or Bhinneka Tunggal Ika).

Kata Kunci : Kesatuan, kemajemukan, metafisika politik, metafisika tradisional, Sukarno

  1. S3-2026-501937-abstract.pdf  
  2. S3-2026-501937-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-501937-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-501937-title.pdf