Peranan Kota Wates sebagai Pusat Pelayanan Sosial Ekonomi Terhadap Wilayah Hinterland
RR. Ritadiana Widiyaswati, Drs. R. Rijanta, M.Sc.
2002 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHKota Wates adalah ibukota Kabupaten Kulon Progo Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, pelayanan sosial baik dalam skala Kota Wates maupun wilayah hinterland dan sebagai permukiman bagi Kota Wates. Kota Wates adalah kota yang tidak berkembang pesat (stagnan), keterbelakangan ini makin nyata bila dibandingkan dengan pertumbuhan kota-kota utama di Propinsi DIY, dengan pertumbuhan penduduk periode tahun 1990-2000 sebesar 2,29% per tahun. Kota dapat dikatakan sebagai kota pertumbuhan apabila pertumbuhan penduduknya lebih besar 4-5% per tahun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkapkan peranan Kota Wates melalui keterkaitan fungsional dalam pemanfaatan fasilitas sosial ekonomi bagi wilayah hinterland dan menilai peranan sosial ekonomi terhadap wilayah hinterland melalui jarak relatif, aksesibilitas, keterkaitan wilayah dan pola kegiatan perdagangan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei melalui pengamatan, wawancara dan kuesioner. Jenis data adalah data primer dan data sekunder. Sampel yang digunakan dalam pengambilan data primer yaitu 29 responden yang mewakili wilayah hinterland Kota Wates dan 120 responden populasi pedagang yang ada di Kota Wates. Teknik analisis yang digunakan untuk penelitian ini melalui pendekatan analisa kualitatif deskriptif dan analisa kuantitatif dengan uji statistik Regresi Ganda dan Kai Kuadrat serta analisa Tabel Frekuensi Tunggal dan Ganda. Peranan Kota Wates sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi terlihat dari intensitas pemanfaatan pelayanan pendidikan, kesehatan, telekomunikasi, dan ekonomi. Hirarki pelayanan sosial ekonomi berpusat di Desa Wates sebagai hirarki 1, Desa Bendungan sebagai hirarki 2, dan Desa Pengasih sebagai hirarki 3. Faktor aksesibilitas yang paling berpengaruh terhadap pemanfaatan fasilitas pendidikan dan kesehatan adalah biaya dan waktu tempuh. Keterkaitan wilayah terlihat dari jangkauan pelayanan barang dagangan jenis makanan dan non makanan. Pola kegiatan perdagangan di Kota Wates ditunjukkan oleh kemampuan Kota Wates sebagai kota kecil dalam pendistribusian barang-barang pertanian dari desa dan pemasaran produk-produk non pertanian dari kota. meskipun pendistribusian barang-barang pertanian dari desa lebih mendominasi. Jenis pelayanan yang banyak digunakan oleh penduduk wilayah hinterland adalah jenis pelayanan yang bersifat non policy function yaitu fasilitas ekonomi. karena lebih disesuaikan dengan population threshold. Jarak relatif dan tingkat aksesibilitas mempengaruhi penduduk dalam berorientasi ke Kota Wates. Pengaruh Kota Yogyakarta terhadap wilayah pinggiran di Kabupaten Kulon Progo dan wilayah hinterland Kota Wates cukup kuat. Hal ini ditunjukkan oleh orientasi penduduk dalam pemanfaatan fasilitas pendidikan dan ekonomi di Kota Yogyakarta lebih tinggi. Ditunjang pula adanya sarana dan prasarana transportasi yang memadai dan jarak antara Kota Yogyakarta dan Kota Wates relatif dekat.
Wates is the capital city of Kulon Progo, one of the regency of Yogyakarta Special Province, functioning as the centre of government administration, the centre of trade and service, the centre of social service to both Wates and its hinterland, and also as settlement. Wates is a stagnant city. Population rate of growth is only 2.29% each tear on 1990-2000, it can be stated that Wates has a very low growth. It canbe categorized as an underdevelopment city if it is compared with the others in Yogyakarta Special Province. To be a growth city need the qualification 4-5% each year. This research us aimed to describe the function and role of Wates city through the functional links in using the economy and social to hinterland by the relative distance, accesibility, arca links and trading patterns. Method used in this research is called survey method. This is conducted by observation, interview and questioner. Data used is differentiated into the primary and the secondary one. The samples of the primary data are 30 respondents representating the hinterlands areaand 120 respondents consisting of merchants in analysis with multiple regression statistic, chi square and multiple analysis and single frequency table. One of Wates role as the centre of economy and social services, can be seen from the value of the use of economy, telecomunication, heath, and education service. The economy and social services hierarchy is second and the third grade. The most influenced factors in accesibility to use the health and education facilitiesare cost and time to take The range of the food and and nonfood commodities shows the area links. The trading pattern in Wates can be seen from its capacity to distribute the agriculture products from the village and themarketing of non agriculture product from the big city, even the distribution from the village is stil dominating. The kinds of service usually used by the hinterlands are non-policy function one, that is economy facilities synchronized by population threshold. The social distance and accesibility grade influence the society in population choosing their orientating to go Wates. The influence of Yogyakarta city to the high use of the society to education and economy facilities. This is supported by the good transportation media and the short distance between Yogyakarta city and Wates.
Kata Kunci : Peranan kota Wates, Pelayanan sosial, Wilayah hinterland, Kulonprogo,DIY