Hubungan antara Pengetahuan Ibu Tentang Makanan Tambahan pada Batita dengan Pertumbuhan Batita di Puskesmas Ngemplak II
Ade Sigit Mayangkoro, dr. Djauhar Ismail, DSAK, MPH ; dr. Adi Utarini, M.Sc.
1997 | Skripsi | S1 KEDOKTERANBeberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa bayi di Indonesia lahir dengan berat badan yang normal. Pertumbuhan berat badan bayi tersebut tetap baik selama mendapat ASI eksklusif sampai usia 4-6 bulan. Tetapi setelah usia 6 bulan pertumbuhan berat badan bayi mulai menunjukkan kurva mendatar dan kemudian menurun. Bedasarkan data dari Puskesmas Ngemplak II tahun 1995, pertumbuhan berat badan bay1 di daerah tersebut mengalami hal yang serupa. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan berat badan bayi adalah pengetahuan ibu tentang makanan tambahan. Dengan menggunakan kuesioner sebagai data primer yang dibagikan kepada 100 ibu-ibu yang memiliki bayi di bawah tiga tahun (batita) secara acak, didapatkan hasil 76 dari 100 batita memiliki pertumbuhan berat badan yang baik dan 24 batita memiliki pertumbuhan kurang baik. Pengetahuan ibu tentang makanan tambahan relatif cukup baik dengan hasil 96 responden dapat menjawab dengan baik sedangkan sisanya 4 responden tidak dapat menjawab dengan baik. Hasil analisa dengan metode statistik deskriptif dan menggunakan uji kemaknaan kai-kwadrat dengan batas kemaknaan ?<0,05 didapatkan X2=0,416 (p=0,519), sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan tambahan dan pertumbuhan batita di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak II. Karena perilaku ibu lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan berat badan batita, maka akan lebih baik jika pendidikan ibu tentang makanan tambahan ditekankan pada perubahan perilaku pemberian makanan tambahan.
Kata Kunci : batita, makanan tambahan, pengetahuan