Laporkan Masalah

Mobilitas pekerjaan pasca gempa 27 Mei 2006 DIY (Kasus rumah tangga pengrajin pada industri gerabah desa Panjangrejo kecamatan Pundong kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta)

Wahyu Sundarko, Drs. Tukiran, M.A., Abdur Rofi, S.Si., M.Si.

2008 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Terjadinya gempa telah membuat perubahan yang besar dalam masyarakat, khususnya berkaitan dengan sektor ekonomi produktif (industri berbasis rumah tangga). Gempa merupakan faktor utama rusaknya atau terhentinya sektor produktif khususnya industri gerabah. Penelitian ini bertujuan untuk (!). Mengetahui mobilitas pekerjaan menurut jenis pekerjaan dari sebelum gempa, waktu antara (masa transisi), hingga sekarang, khususnya pada industri rumah tangga gerabah di desa Panjangrejo, kecamatan Pundong, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa. Yogyakarta, (2). Mengetahui tingkat penghasilan dari industri rumah tangga gerabah sebelum gempa dan pasca gempa, serta penghasilan pada pekerjaan yang baru selain di gcrabah, (3). Bahan baku yang sesuai untuk proses produksi agar kualitas hasilnya bagus dan dengan jumlah/kuantitas bahan baku yang sama mampu menghasilkan nilai yang lebih bagus. Penelitian ini dilakukan di desa Panjangrejo dipilih secara purposif, yaitu akibat terjadinya gempa maka sebagian besar tempat tinggal rusak yang diikuti rusaknya tempat produksi dan peralatan produksi. Padahal sektor ekonomi produktif tersebut sedang berkembang pesat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tabel frekuensi dan tabel silang. Dari 105 rumah tangga pengrajin gerabah terdapat 29 rumah tangga yang pernah ganti pekerjaan. Dari 29 tersebut, 17 rumah tangga kembali lagi ke industri gerabah dan hanya 12 rumah tangga yang bekerja diluar gerabah. Mobilitas pekerjaan tersebut sebagian besar terjadi dari industri gerabah ke jenis pekerjaan petani (37,9 persen), buruh bangunan (20,7 persen), dan buruh tani (17,2 persen.. Penghasilan yang diperoleh dari industri rumah tangga gerabah lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan sekarang. Rata-rata penghasilan tersebut sebesar Rp. 369.396, lebih rendah dibandingkan pekerjaan gerabah yang mempunyai rata-rata penghasilan sebesar Rp. 975.862,-. Dari 93 rumah tangga pengrajin yang saat ini menggeluti industri gerabah sebesar 74,2 persen (69 rumah tangga) menganggap bahan baku mudah untuk didapatkan meskipun dengan cara membeli, dan sebesar 25,8 persen (24 rumah tangga) menganggap bahan baku sudah sulit untuk didapatkan. Untuk itu perlu adanya peningkatan nilai jual hasil, dengan jumlah bahan baku yang sama mampu menghasilkan nilai jual yang lebih besar, yaitu dapat dilakukan dengan meningkatkan sentuhan seni dan meningkatkan teknologi.

The earthquake in May 27, 2006 has resulted in great changes in society, particularly in relation to productive economic sector (home-based industry). The earthquake was main factor causing damage and stoppage of productive sector, especially in earthenware industry. The aims of this research were (1) to identify working mobility in term of job types before earthquake, transition period, and until now, especially in earthenware home industry in Panjangrejo village, Pundong district, Bantul regency, DIY; (2) to identify income level of earthenware home industry before and after earthquake, and income from new job other than earthenware; and (3) to study material apt to production process to make good quality and to make better products with same amount of raw material. This research was carried out in Panjangrejo village that was selected purposively, considering destruction of settlement followed with damaged production site and equipment, whereas the productive economic sector has grown fast. Analysis of data in this research used frequency table and cross table. Of 105 households making earthenware, there were 29 households that replace work. Of the amount, 17 households return to earthenware and only 12 households work other than earthenware. Most job mobility occurred from earthenware industry to farming work (37.9%), construction labor (20.7%), and farming labor (17.2%). Income from earthenware home-industry was higher than current jobs. Average income from current job was Rp 369,396, lower than earthenware job whose average income was Rp 975,862. Of 93 make households currently involving in earthenware industry, 69 households (74.2%) considered that raw material was easy to get although by buying and 24 households (25.8%) considered raw material was difficult to get. Therefore, there should be an increase in product selling value, so same amount of raw material can result in higher selling value. It may be done by using art touch and technology improvement.

Kata Kunci : gempa, industri gerabah, mobilitas pekerjaan,earthquake, earthenware industry, job type

  1. S1-2008-167445-abstract.pdf  
  2. S1-2008-167445-bibliography.pdf  
  3. S1-2008-167445-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2008-167445-title.pdf