Bahasa Tasawuf Haji Hasan Mustafa dalam tinjauan pemikiran John Langshaw Austin
MUHLAS, Drs. Rizal Mustansyir, M.Hum
2005 | Tesis | S2 FilsafatTesis ini berpijak dari karya Haji Hasan Mustafa yang bercorak tasawuf, terutama pada naskah yang berjudul Gelaran Sasaka Dikaislaman, Martabat Tujuh, dan Patakonan jueng Jawaban. Penulisan tesis ini sejalan dengan tema filsafat abad XX yang lebih memfokuskan pada aspek bahasa/teks (logosentrisme). Dalam karyanya, Haji Hasan Mustafa mengemas ajaran tasawufnya dengan bahasa biasa/sehari-hari, meskipun corak tasawufnya tasawuf falsafi. Dengan memakai bahasa biasa, pemikiran tasawuf Haji Hasan Mustafa dapat dianalisa dengan filsafat bahasa biasa dengan memakai kerangka pemikiran John Langshaw Austin, karena mutatis mutandis dapat diterapkan juga pada bahasa Indonesia. Dengan demikian penelitian ini berobjek material bahasa tasawufnya Haji Hasan Mustafa, sementara objek formalnya adalah sebuah tinjauan filsafat bahasa biasa dengan menggunakan pemikiran John Langshaw Austin. Untuk lebih memfokuskan penelitian terhadap pemikiran Haji Hasan Mustafa, maka perumusan masalahnya meliputi: Pertama, mengapa Haji Hasan Mustafa mengungkapkan konsep tasawufnya menggunakan bahasa biasa. Kedua, bagaimana bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa dalam analisis tindakan bahasa (speech acts) John Langshaw Austin. Model penelitian ini adalah studi tokoh yang bersifat literer dengan sepenuhnya disandarkan pada penelitian kepustakaan terhadap hasil karya Haji Hasan Mustafa. Hasil penelitian ini selanjutnya dianalisa dengan menggunakan metode hermeneutika dengan melalui unsur-unsur metodis: deskripsi, kesinambungan historis, bahasa inklusif atau analogal, dan interpretasi. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa Haji Hasan Mustafa memakai bahasa biasa/sehari-hari dalam mengungkapkan ajaran tasawufnya, karena: Pertama, ia mengetahui kebudayaan dan kemampuan masyarakatnya dalam penyerapan pengetahuan. Kedua, dia ingin ajarannya diterima dan dijadikan tatanan nilai keagamaan yang lebih baru bagi masyarakat. Ketiga, bahasa tasawuf dapat menggunakan bahasa yang berkembang di suatu masyarakat. Menurut penulis, dalam tinjauan pemikiran John Langshaw Austin, bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa sangat sesuai dengan konsep performative utterances pada aspek happy or unhappy, sementara pada konsep speech act, sangat sesuai dengan locutionary act, illocotionary act, dan perlocutionary act.
This thesis derives from the mysticism of Haji Hasan Mustafa, especially on the scripts titled Gelaran Sasaka Dikaislaman, Martabat Tujuh, and Patakonan jeung Jawaban. The writing of this thesis is going on together with the philosophical theme in the 20th century which is focused on the aspect of language/text (logosentrism). On his work, Haji Hasan Mustafa framed his mysticism by daily/ordinary language, eventhough it’s lessons are philosophical one. By using ordinary language, the mysticism thought of Haji Hasan Mustafa can be analysed by the ordinary language philosophy in the frame of thought of John Langshaw Austin, because mutatis mutandis can also be practiced on Indonesian language. Therefore this research has it’s certain material object, that is the language of Haji Hasan Mustafa’s mysticism, meanwhile it’s formal object is a review of the ordinary language philosophy by using John Langshaw Austin’s thought. To focus the research more on Haji Hasan Mustafa’s thought, so the formulation of problem includes: First, why Haji Hasan Mustafa use the ordinary language in expressing his mysticism concept. Second, How the language of mysticism Haji Hasan Mustafa in speech acts analysis of John Langshaw Austin. This model of research is a literary study by laying literary research on Haji Hasan Mustafa’s works. The result of this research is on the next step analyzed by using hermeneutic’s method through methodical elements: description, historical continuity, inclusive language or analogal, and interpretation. The result of this research depicts that Haji Hasan Mustafa used ordinary/daily language to express his mysticisme lessons because: First, he knows the culture and the ability of his society in accepting knowledge. Second, he wants his mysticism lessons can be accepted and became a new religion norm of society anymore. Third, mysticism language can use a language which develops in the people. According to writer, on the review of John Langshaw Austin, the mysticism language of Haji Hasan Mustafa is suitable most with the concept of performative utterances on the aspect of happy or unhappy. While on the concept of speech acts, it is suitable most with the locutionary act, illocutionary act, and perlocutionary act.
Kata Kunci : Filsafat Analitik, Sufi Sunda, Haji Hasan Mustafa , Mysticism Language, Ordinary Language, Speech Acts