Laporkan Masalah

Studi Permudaan Alam Pada Tegakan Areal Hutan Alam Primer dan Sekunder di PT Wana Bakti Persada Utama, Berau, Kalimantan Timur

Elang Falaq Yudhistira Wardhana, Prof. Ir. Widiyatno, S.Hut. M.Sc., Ph.D., IPM. ; Prof. Dr. Ir. Suryo Hardiwinoto, M.Agr.Sc.

2026 | Skripsi | KEHUTANAN

Hutan alam produksi memiliki peran strategis dalam penyediaan kayu bulat dan 

mendukung perekonomian nasional, namun pengelolaannya menghadapi tantangan dalam 

menjaga karakteristik multi umur, strata dan jenis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh 

lambatnya pertumbuhan permudaan alam pada hutan bekas tebangan (hutan sekunder) 

yang memerlukan waktu lama untuk mencapai diameter layak tebang. Tujuan dari 

penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis pohon, kondisi permudaan 

alam jenis pohon komersil, serta potensi tegakan komersil pada hutan alam primer dan 

sekunder di PT Wana Bakti Persada Utama, Berau, Kalimantan Timur. 

Pengambilan data dilakukan pada bulan April 2025 menggunakan metode line 

transek dengan intensitas sampling sebesar 0,8% sehingga jumlah plot ukur yang 

digunakan berjumlah 20 pada setiap tipe hutan dan menggunakan plot ukur yang diletakkan 

secara berselang-seling dengan jarak antar plot 20 metersepanjang 400 meter. Pengambilan 

data dilakukan dengan beberapa plot ukur, yaitu ukuran 20x20 m² untuk tingkat pohon, 

10x10 m² untuk tiang, 5x5 m² untuk pancang, dan 2x2 m² untuk semai pada setiap tipe 

hutan. Data primer yang dikumpulkan mencakup jenis, jumlah individu, diameter setinggi 

dada (DBH), dan tinggi total pohon. Analisis data dilakukan dengan menghitung Indeks 

Shannon untuk keanekaragaman, Indeks Evenness untuk kemerataan, Indeks Nilai Penting 

(INP) untuk dominansi jenis, jumlah invidu untuk mengetahui jumlah permudaan alam, 

serta perhitungan volume untuk mengetahui potensi tegakan per hektar. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman (Shannon) dan 

kemerataan (Evenness) pada tingkat semai, pancang, dan tiang tidak berbeda nyata antara 

hutan primer dan sekunder, namun berbeda signifikan pada tingkat pohon akibat aktivitas 

penebangan komersil. Pada perhitungan INP jenis non-komersil memiliki dominasi yang 

lebih tinggi pada hutan sekunder dibandingkan jenis komersil. Hasil permudaan alam 

menunjukkan penurunan jumlah jenis komersil yang tumbuh pada hutan sekunder 

dibandingkan hutan primer, namun memiliki jumlah individu permudaan yang masif. Pada 

perbandingan potensi jenis komersil kedua hutan, penurunan terjadi pada strata pohon dari 

85,16 m3/ha pada hutan primer hingga 39,94 m3/ha pada hutan sekunder. Namun terdapat 

peningkatan pada strata tiang dari 23,68 m3/ha pada hutan primer menjadi 32,01 m3/ha pada 

hutan sekunder.

Natural production forests play a strategic role in providing timber supply and 

supporting the national economy, yet their management faces challenges in maintaining 

multi-aged, multi-strata and multi-species structures. This research is motivated by the 

slow growth of natural regeneration in logged-over areas (secondary forests), which 

requires a long period to reach harvestable diameters. This study aims to analyze tree 

species diversity, the condition of natural regeneration of commercial species, and the 

potential of commercial stands in primary and secondary natural forests at PT Wana Bakti 

Persada Utama, Berau, East Kalimantan. 

Data collection was conducted in April 2025 using the line transect method with 

0,8% sampling intensity so the number of measurement plots used amounts to 20 in each 

forest type and alternating plots along a 400-meter line. Data collection was carried out 

using several measuring plots: 20x20 m² for trees, 10x10 m² for poles, 5x5 m² for saplings, 

and 2x2 m² for seedlings for each type of forest. Primary data collected included species, 

number of individuals, diameter at breast height (DBH), and total tree height. Data 

analysis involved calculating the Shannon-Wiener Diversity Index, Evenness Index, 

Importance Value Index (IVI) for species dominance, individual counts for natural 

regeneration assessment, and volume calculations to determine stand potential per 

hectare. 

The results indicated that Shannon diversity and Evenness indices at the seedling, 

sapling, and pole stages did not differ significantly between primary and secondary forests, 

but were significantly different at the tree stage due to commercial logging activities. Based 

on the calculation of the Importance Value Index (IVI), non-commercial species exhibit a 

higher dominance in secondary forests compared to commercial species. Observations of 

natural regeneration indicate a decline in the diversity of commercial species within 

secondary forests relative to primary forests, despite a massive abundance of individual 

seedlings and saplings. Furthermore, a comparative analysis of the standing stock of 

commercial species reveals a significant reduction in the tree strata, decreasing from 85,16 

m3/ha in primary forests to 39,94 m3/ha in secondary forests. In contrast, an increase was 

observed in the pole strata, which rose from 23,68 m3/ha in primary forests to 32,01 m3/ha 

in secondary forests.

Kata Kunci : Hutan Alam Sekunder, Permudaan Alam, Jenis Komersil, PT Wana Bakti Persada Utama

  1. S1-2026-478021-abstract.pdf  
  2. S1-2026-478021-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-478021-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-478021-title.pdf