Laporkan Masalah

Kajian perbandingan karakteristik epigenetis populasi tengkorak manusia paleometalik Gilimanuk (Bali) dan Liang Bua, Lewoleba, Melolo dan Ntodo Leseh (Nusa Tenggara Timur

SURIYANTO, Rusyad Adi, Prof.Dr. T. Jacob, MS.,MD.,D.Sc

2005 | Tesis | S2 Antropologi

Karakteristik epigenetis populasi tengkorak manusia Paleometalik dari situs prasejarah Nusa Tenggara Timur, yaitu Liang Bua (Flores), Lewoleba (Lembata), Melolo (Sumba) dan Ntodo Leseh (Komodo), dan Gilimanuk (Bali) telah diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan yang signifikan dan kedekatan biologis di antara populasi. Subjek penelitian meliputi tengkorak dewasa dari situs prasejarah Gilimanuk (Bali), dan Liang Bua, Lewoleba, Melolo dan Ntodo Leseh (Nusa Tenggara Timur) dari periode transisi Neolitik Akhir ke permulaan Zaman Logam yang berantikuitas 1500-2000 tahun. Subjek terseleksi 20 tengkorak yang terdiri atas 13 laki-laki dan 7 perempuan dari Gilimanuk (Bali) dan 20 tengkorak dari Nusa Tenggara Timur terdiri dari 2 laki-laki dan 3 perempuan dari Liang Bua, 4 laki-laki dan 2 perempuan dari Lewoleba, 5 laki-laki dan 2 perempuan dari Melolo, dan masing-masing 1 laki-laki dan perempuan dari Ntodo Leseh. Analisis data menggunakan analisis statistis Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis. Bobot informatif, diskriminatif dan determinatif yang terdapat pada berbagai jenis variabel dapat dimanfaatkan untuk mengimbangi faktor-faktor yang mengurangi keterwakilan suatu variabel. Variabel bebas penelitian ini meliputi umur, seks, dan situs, serta variabel terikat penelitian ini meliputi 55 karakteristik epigenetis tengkorak. Hasil analisis diinterpretasikan untuk menjawab pertanyaan penelitian, dan rekonstruksi dilakukan pada beberapa tingkat, dan kemudian ekstrapolasi sampai beberapa jenjang dengan memanfaatkan hasil penelitian paleoantropologis, arkeologis dan geologis di situs-situs tersebut. Karakteristik epigenetis laki-laki dan perempuan di dalam populasi Gilimanuk (Bali) berbeda signifikan (p < 0,05) pada 11 karakteristik, dan Nusa Tenggara Timur pada 6 karakteristik. Karakteristik epigenetis laki-laki di antara Liang Bua, Lewoleba, Melolo dan Ntodo Leseh di dalam populasi Nusa Tenggara Timur berbeda signifikan (p < 0,05) pada 24 karakteristik, sedangkan perempuannya tidak berbeda signifikan. Faktor-faktor genetis, rasial dan lingkungan dapat mempengaruhi karakteristik epigenetis di antara laki-laki dan perempuan di dalam populasi Gilimanuk (Bali) dan Nusa Tenggara Timur. Perbedaan karakteristik epigenetis di antara Liang Bua, Lewoleba, Melolo dan Ntodo Leseh di dalam populasi Nusa Tenggara Timur dapat dipengaruhi oleh faktor kronologis migrasi, penghunian dan kebudayaannya, serta pemisahan geografis masing-masing populasi Nusa Tenggara Timur yang secara rasial menunjukkan karakteristik Australomelanesid. Kedekatan karakteristik epigenetis di antara populasi Gilimanuk dan Ntodo Leseh dapat dipengaruhi oleh faktor kronologis migrasi, penghunian dan kebudayaannya, geografis, serta proses Monggolidisasi yang makin ke timur. Karakteristik epigenetis populasi Melolo memperlihatkan paling berbeda dari Gilimanuk yang dapat dipengaruhi oleh faktor rasial, pemisahan karakteristik Australomelanesid Nusa Tenggara Timur secara geografis dari deretan situs yang diteliti, serta faktor kronologis migrasi, penghunian dan kebudayaannya.

The epigenetic characteristics of Paleometallic human skull’ populations from prehistoric sites of Nusa Tenggara Timur i.e. Liang Bua (Flores), Lewoleba (Lembata), Melolo (Sumba) and Ntodo Leseh (Komodo), and Gilimanuk (Bali) were studied. The aims of the study were to find wether there significant differences and biological contiguity among the populations. The subjects consisted of adult skulls from prehistoric sites of Gilimanuk (Bali), and Liang Bua, Lewoleba, Melolo and Ntodo Leseh (Nusa Tenggara Timur) from a period of transition of Late Neolithic to the beginning of Metallic Age that had an antiquity of 1500-2000 years. The subjects were selected from 20 skulls that consisted of 13 males and 7 females from Gilimanuk (Bali), and 20 skulls from Nusa Tenggara Timur consisted of 2 males and 3 females from Liang Bua, 4 males and 2 females from Lewoleba, 5 males and 2 females from Melolo, and 1 male and 1 female from Ntodo Leseh. Nonparametric statistical analysis i.e. Mann Whitney U test and Kruskal-Wallis, were used to compare the means of independent groups. Informative, discriminative, and determinative quality existed in various kinds of variables were used to make balance factors which reduced variable’s representativeness. Independent variables consisted of age, sex, and site, and dependent variables consisted of 55 characteristics. Statistical analysis results were interpreted to answer the study questions, and reconstruction and extrapolation were done in several levels by using the research results of archaeological, paleoanthropological and geological in the sites. Epigenetic characteristics between males and females within the population of Gilimanuk (Bali) were significantly different (p < 0,05) in 11 characteristics, and within the population of Nusa Tenggara Timur in 6 characteristics. Epigenetic characteristics of males among Liang Bua, Lewoleba, Melolo and Ntodo Leseh in Nusa Tenggara Timur populations were significantly different (p < 0,05) in 24 characteristics, while their females showed no difference. Epigenetic characteristics of males between populations of Gilimanuk (Bali), Liang Bua, Lewoleba, Melolo and Ntodo Leseh were significantly different (p < 0,05 and p < 0,01) respectively in 34 characteristics, while their females in 28 characteristics. Genetic, racial and environmental factors influenced epigenetic characteristics between males and females in the populations of Gilimanuk (Bali) and Nusa Tenggara Timur. The difference of epigenetic characteristics among Liang Bua, Lewoleba, Melolo and Ntodo Leseh in Nusa Tenggara Timur populations were influenced by chronological factors of migration, occupancy and culture, and geographical dissociation of each population of Nusa Tenggara Timur that racially showed an Australomelanesid characteristic. Contiguity of epigenetic characteristics between Gilimanuk and Ntodo Leseh populations were influenced by geographical factor, chronological factor of migration, occupancy and culture, and Mongolidisation process which showed a tendency of more to the east. Epigenetic characteristics of Melolo population which much differ towards Gilimanuk were influenced by racial factor, Australomelanesid characteristic dissociation in Nusa Tenggara Timur geographically from a set of studied sites, and chronological factor of migration, occupancy and culture

Kata Kunci : Paleantropologi, Epigenetis Populasi Tengkorak Manusia Bali dan NTT, Zaman 1500, 2000 Tahun, Epigenetic characteristics, Paleometallic, Gilimanuk, Nusa Tenggara Timur


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.