Laporkan Masalah

Negeri Kecil di Negeri Besar :: Studi tentang upacara ritual komunitas Maiyah di Bantul Yogyakarta

ROZI, Mohammad, Prof.Dr. Sjafri Sairin, MA

2005 | Tesis | S2 Antropologi

Setelah kegiatan Pengajian Padang Bulan berlangsung secara mapan hampir selama delapan tahun, di masa transisi reformasi atau tepatnya tahun 2001, Emha Ainun Nadjib mencetuskan kegiatan Maiyah, sebuah tindakan yang – pada perspektif tertentu – tidak populer, meskipun hingga kini tetap menjadi magnet ribuan massa untuk menghadirinya. Dengan jumlah jamaah yang begitu besar, wajar kegiatan ini dicurigai sebagai sebuah cara berunjuk kekuatan. Alih-alih tampak sebagai kegiatan politik praktis, Maiyah memperlihatkan diri lebih sebagai sebuah ritus. Bila dikaitkan dengan tindakan politik, kegiatan Maiyah lebih tampak sebatas kegiatan pemberdayaan atau pendidikan politik (empowering). Lebih dari itu, karena telah berjalan secara kontinyu dalam rentang waktu cukup panjang, kegiatan ini bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial budaya. Di sinilah kajian Antropologi diperlukan. Adapun permasalahan yang diajukan dalam kajian ini adalah: apa sesungguhnya makna tersembunyi yang ada di balik keberlangsungan kegiatan ini? Kajian ini mengambil pendekatan yang diperkenalkan Clifford Geertz, yaitu bahwa kebudayaan dianggap sebagai sesuatu yang analog dengan teks. Kebudayaan merupakan paduan dari teks-teks, suatu sarana untuk “mengatakan sesuatu tentang sesuatu yang lain”. Dengan demikian, fenomena sosial-budaya selain dianggap sebagai suatu “teks” yang dapat dibaca, sekaligus juga dapat posisikan sebagai sign atau tanda yang menunjukkan sesuatu yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, tugas ilmuwan sosial bukan lagi menjelaskan ataupun mencari hubungan sebab-akibat antar unsur dalam teks atau menentukan hubungan antar teks, tetapi memahami atau mungkin lebih tepat lagi memaknai teks sosial-budaya yang dihadapinya. Setelah melakukan pengumpulan data – menggunakan metode observasi partisipasi, wawancara dan penelusuran dokumentasi – yang cukup lama, kajian ini memperlihatkan bahwa Maiyah adalah fenomena umat Islam atau kaum santri kontemporer. Kegiatan yang menekankan aspek ritual ini pada akhirnya memang tak sekadar sebuah kegiatan ritus keagamaan belaka. Aspirasi yang muncul di dalamnya – terlihat mulai dari muatan makna dzikir, doa, hingga tema-tema yang dikembangkan dalam dialog – menunjukkan kegiatan ini lebih tampak sebagai sebuah gerakan sosial yang dilakukan oleh kaum santri. Dengan ciri khasnya yang kuat, di mana unsur ketokohan memegang peranan sangat penting di dalamnya, demikian juga massa jamaah yang bersifat komunal, gerakan ini mewujud menjadi sebuah gerakan Islam yang berpola komunal. Inilah yang menjadi kesimpulan terpenting kajian ini, bahwa makna di balik berlangsungnya kegiatan ini adalah adanya revivalisme atau kebangkitan kembali gerakan Islam yang bercorak komunal, sebuah antitesa terhadap gerakan Islam yang selama ini berpola assosiasional.

After Pengajian Padang Bulan established since 8 years ago, in the reformation period in 2001, Emha Ainun Nadjib launched an activity named Maiyah, an action – on a certain perspective – that was not popular, although now it is becoming a magnet for thousands of moslems. Followed by a huge number of jamaah (the followers), it is not strange that suspiciously this activity seems to be showing power. On the contrary, this activity reveals itself as a rites activity. If connected to practical politics, it seems to be empowering or political education. Maiyah could be seen as a social-culture phenomenon based on its continuity, in which relevant anthropological research is to be done. Thus, the main research problem is: what is the real meaning hidden behind the Maiyah activity? This discussion is based on a theory recognized by Clifford Geertz, that culture could be assumed as a matter analogically connected to a text. Culture is the harmony of texts, a medium to say about something else. In this theory as like it, the social scientist job is not to make the explanation nor search a causal relation of elements in the text or make certain a relation of texts, but to understand or more accurately to give meaning to the texts. By doing research – using some methods such as participation observatory, interviews and documentation studies – in various periods, this discussion shows that Maiyah was the phenomenon of the contemporary Islamic society (umat Islam) or kaum santri. The activity attempting ritual aspect was not just for the sake of an activity of religious rites. The aspiration turned up on the meaning of wirid, prayer, and themes of dialog - shows that this activity is not more than a social movement of Islamic society. The movement is transformed to be a communal Islamic movement that has special characteristics such as the existence of the central figure, who has a strong role in the community, and the existence of communal jamaah. Finally, this research revealed that the meaning behind the activity of the community is the existence of revivalism of a communal Islamic movement, an antithesis of associational Islamic movement.

Kata Kunci : Antropologi,Dakwah Islam,Upacara Ritual,Komunitas Maiyah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.