Pengaruh Kejang Demam Terhadap Prestasi Belajar Anak Di Sekolah Dasar
Eggi Arguni, Dr. Sunartini Iman, DSAK, Ph.D. ; Dr. Hari Kusnanto, SU, Ph.D.
1996 | Skripsi | S1 KEDOKTERANKejang demam merupakan kejadian yang sering terjadi pada bayi dan anak usia 6 bulan-4 tahun atau terutama pada 2 tahun pertama kehidupan anak disaat pertumbuhan dan perkembangan otaknya sedang berlangsung dengan cepat. Kejang yang terjadi dapat menyebabkan kerusakan scl-sel otak yang akan mengganggu perkembangan fungsi otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kejang demam terhadap prestasi belajar anak di sekolah dasar. Subyek penelitian diambil dari penderita kejang demam yang pernah dirawat di RSUP dr Sardjito, yogyakarta periode 1 Januari 1990 - 31 Desember 1992, berumur 2-4 tahun. Data diambil dari rekam medik serta hasil wawancara dengan orang tua dan dengan anak sendiri. Diambil satu kontrol anak sehat secara acak untuk setiap kasus dengan kendali umur dan jenis kelamin yang sama. Prestasi akademik dilihat dari nilai rapot dan dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas. Data dianalisis dengan chi square dan eksak Fischer. Dari 33 penderita, hanya 20 anak masuk dalam penelitian. Dari 20 anak ini satu orang mengalami retardasi mental dan satu lagi drop out dari sekolah, sedang sisanya bersckolah di sekolah dasar biasa. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara prestasi belajar anak kejang demam dengan kontrol anak sehat untuk nilai keseluruhan /nilai rata-rata (P>0,1), tapi cenderung bermakna untuk pelajaran hitungan (matematika) dan hapalan; seperti Bahasa Indonesia/IPA/IPS (0,05
0,1) | tapi memiliki resiko 4 kali lebih tinggi untuk mendapat prestasi akademik yang jelek dibandingkan dengan anak kejang demam sederhana.
The febrile convulsions are among the more frequently occuring neurologic of childhood, during which time the growth and development of the brain is taking place. Convulsions might cause of the damage of the neuron in brain cells that can produced functional abnormalities of brain development. With this study, the author tried to ascertain the influence of febrile convulsions to the learning performance of elementary school children. The study populations are patients aged 2-4 years old in RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, on January Ist, 1990 - December 31th, 1992 period. Questionaires were administered to parents and their children with the history of febrile convulsion. A control group was randomly selected from among the classmates of the case group. Cases and control were compared for the learning performance that was detected from the school report. Their marks were compared with the average of the class. Data were analyzed with chi square and Fischer’s exact. From the 33 of patients, 20 children were included in the study. One of them was an retardated child and the other one was droped out from school at the first grade, the rest were mostly in public elementary school. The data support the hypothesis that the history of febrile convulsion may cause the decrease of learning capability for specific task (mathematics and Bahasa Indonesia/IPA/IPS). There are a tendency of statistical defferences which were detected between cases and control groups (0,05
Kata Kunci : Kejang demam, prestasi belajar