Kajian Penggunaan Tanaman Jagung Sebagai Tanaman Pengusir Bemisia tabaci Pada Tanaman Terong
Yasmin Dhuha Fadhilah, Prof. Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc.
2026 | Skripsi | ILMU HAMA & PENYAKIT TUMBUHAN
Terong
(Solanum melongena L.) merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia
yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi sebagai komoditas ekspor.
Namun produksinya terganggu oleh serangan kutu kebul Bemisia tabaci yang
juga berperan sebagai vektor Begomovirus. Pengendalian yang masih bergantung
pada insektisida mendorong perlunya alternatif ramah lingkungan melalui
pemanfaatan tanaman pengusir seperti jagung yang menghasilkan senyawa volatil.
Penelitian ini bertujuan mengetahui populasi B. tabaci serta menguji
pengaruh perbedaan umur jagung terhadap populasinya pada tanaman terong
menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan perlakuan kontrol, serta
jagung umur 6, 8, dan 10 MST. Hasil menunjukkan populasi B. tabaci berfluktuasi
selama pengamatan. Jagung umur 6 MST menurunkan populasi secara signifikan
sebelum panen dibanding setelah panen. Sedangkan perlakuan jagung umur 8 dan 10
MST tidak berpengaruh nyata. Secara umum, keberadaan jagung belum menekan
populasi secara konsisten, sehingga efektivitasnya dipengaruhi oleh umur
tanaman dan kondisi lingkungan.
Eggplant (Solanum melongena L.) is an important
horticultural crop in Indonesia with high economic value and export potential.
However, its production is constrained by infestations of the whitefly Bemisia
tabaci, which also acts as a vector of Begomovirus. The continued reliance
on synthetic insecticides highlights the need for environmentally friendly
alternatives, including the use of repellent plants such as maize that produce
volatile compounds. This study aimed to determine the population dynamics of B.
tabaci and to evaluate the effect of different maize planting ages on its
population in eggplant using a randomized complete block design with control
treatment and maize planted at 6, 8, and 10 weeks after planting. The results
showed that B. tabaci populations fluctuated during the observation
period. Maize at 6 weeks after planting significantly reduced the population
before harvest compared to after harvest, whereas maize at 8 and 10 weeks after
planting had no significant effect. Overall, the presence of maize did not
consistently suppress B. tabaci populations, indicating that its
effectiveness was influenced by plant age and environmental conditions.
Kata Kunci : Tanaman Terong, Tanaman Jagung, Volatil, Bemisia tabaci