Ketimpangan Global dan Ketertinggalan Adaptasi Domestik: Analisis Wacana Kritis atas Diskursus Digital #KaburAjaDulu pada Tenaga Kerja di Indonesia
Muhammad Machio Alviraj, Dr. Atin Prabandari, S.IP., M.A(IR).
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini menganalisis diskursus digital #KaburAjaDulu sebagai artikulasi kolektif tenaga kerja muda Indonesia dalam merespons ketimpangan global dan keterbatasan adaptasi domestik. Dengan menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) model Fairclough dan kerangka Teori Sistem Dunia, penelitian ini menunjukkan bahwa narasi tersebut tidak hanya merefleksikan ketidakpuasan terhadap kondisi domestik, tetapi juga membentuk rasionalitas mobilitas global sebagai solusi yang dinormalisasi.
Temuan menunjukkan bahwa Indonesia direpresentasikan sebagai ruang stagnan, sementara luar negeri dikonstruksikan sebagai ruang meritokratis, yang mencerminkan internalisasi hierarki sistem dunia dalam kesadaran individu. Di sisi lain, diskursus ini bersifat ambivalen karena, meskipun mengandung kritik terhadap negara, ia tidak menantang struktur global yang timpang, melainkan justru mereproduksinya melalui normalisasi mobilitas individual. Dengan demikian, #KaburAjaDulu tidak hanya merupakan fenomena digital, tetapi juga refleksi posisi Indonesia dalam ekonomi politik global serta transformasi nilai dan orientasi generasi muda terhadap mobilitas dan masa depan.
This study examines the digital discourse of #KaburAjaDulu as a collective articulation of Indonesian young workers in response to global inequality and limited domestic adaptive capacity. Employing Critical Discourse Analysis (CDA) following Fairclough and grounded in World-System Theory, the study finds that the discourse not only reflects dissatisfaction with domestic conditions but also normalizes global labor mobility as a rational solution.
The findings reveal that Indonesia is represented as a stagnant space, while foreign countries are constructed as meritocratic opportunities, indicating the internalization of global hierarchical structures within individual consciousness. At the same time, the discourse exhibits a fundamental ambivalence, as it critiques the state without challenging the unequal global system, instead reproducing it through the normalization of individual mobility. Therefore, #KaburAjaDulu should be understood not merely as a digital phenomenon, but as a reflection of Indonesia’s position in the global political economy and the shifting values of younger generations regarding mobility and future aspirations.
Kata Kunci : #KaburAjaDulu, Mobilitas Tenaga Kerja, Ketimpangan Global, Teori Sistem Dunia, Critical Discourse Analysis, Ekonomi Politik Internasional