Laporkan Masalah

The Portrayal Of Historical Trauma From Japanese Colonization To Korea As Analyzed Through Japanese Character In The Wailing (2016)

NAURA NAJELA, Atin Prabandari, MA, Ph.D

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Studi ini meneliti bagaimana film The Wailing (2016) merepresentasikan trauma historis akibat penjajahan Jepang melalui penggambaran The Japanese Man. Dengan menggunakan teori trauma budaya dan kolektif bersamaan dengan analisis sinematik yang mendalam, studi ini mengeksplorasi bagaimana elemen visual dan naratif membangun karakter tersebut sebagai perwujudan simbolis dari kekerasan kolonial. Analisis ini mengidentifikasi empat ciri utama: perilaku kebinatangan, penyimpangan seksual, manipulasi, dan penindasan budaya. Ciri-ciri ini dikaitkan dengan pengalaman historis di bawah pemerintahan Jepang, termasuk kekerasan ekstrem, sistem wanita penghibur, kolaborasi dengan otoritas kolonial, dan kebijakan asimilasi linguistik seperti naisen ittai. Melalui teknik-teknik seperti hierarki spasial, kontras warna, dan penggunaan bahasa, film ini mengubah memori sejarah menjadi horor afektif, menekankan rasa takut, dominasi, dan trauma yang belum terselesaikan. Alih-alih menyajikan catatan sejarah secara langsung, The Wailing mengaktifkan kembali trauma kolonial dalam konteks budaya kontemporer. Studi ini berpendapat bahwa Pria Jepang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai antagonis individu, tetapi juga sebagai representasi sinematik dari memori kolektif dan dampak psikologis serta budaya yang abadi dari penjajahan Jepang terhadap masyarakat Korea.


Studi ini meneliti bagaimana film The Wailing (2016) merepresentasikan trauma historis akibat penjajahan Jepang melalui penggambaran The Japanese Man. Dengan menggunakan teori trauma budaya dan kolektif bersamaan dengan analisis sinematik yang mendalam, studi ini mengeksplorasi bagaimana elemen visual dan naratif membangun karakter tersebut sebagai perwujudan simbolis dari kekerasan kolonial. Analisis ini mengidentifikasi empat ciri utama: perilaku kebinatangan, penyimpangan seksual, manipulasi, dan penindasan budaya. Ciri-ciri ini dikaitkan dengan pengalaman historis di bawah pemerintahan Jepang, termasuk kekerasan ekstrem, sistem wanita penghibur, kolaborasi dengan otoritas kolonial, dan kebijakan asimilasi linguistik seperti naisen ittai. Melalui teknik-teknik seperti hierarki spasial, kontras warna, dan penggunaan bahasa, film ini mengubah memori sejarah menjadi horor afektif, menekankan rasa takut, dominasi, dan trauma yang belum terselesaikan. Alih-alih menyajikan catatan sejarah secara langsung, The Wailing mengaktifkan kembali trauma kolonial dalam konteks budaya kontemporer. Studi ini berpendapat bahwa Pria Jepang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai antagonis individu, tetapi juga sebagai representasi sinematik dari memori kolektif dan dampak psikologis serta budaya yang abadi dari penjajahan Jepang terhadap masyarakat Korea.

Kata Kunci : cultural trauma, collective memory, Japanese colonization, horror film, cinematic analysis

  1. S1-2026-457817-abstract.pdf  
  2. S1-2026-457817-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-457817-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-457817-title.pdf