Kajian hubungan antara kualitas lingkungan permukiman dan tingkat kesehatan masyarakat melalui integrasi teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis
Puspitorini Dian Hartanti, Prof. Dr. Dulbahri; Drs. Yusron Halim
2003 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHPenelitian ini dilakukan di sebagian Kota Surabaya yaitu di Kecamatan Genteng, Tegalsari, Tambaksari, Gubeng, Tenggilis Mejoyo, Wonokromo dan Wonocolo. Tujuan penelitian ini adalah memperkirakan tingkat kesehatan masyarakat berdasarkan kualitas lingkungan permukiman melalui integrasi Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis serta untuk memetakan kualitas lingkungan permukiman yang dapat dimanfaatkan sebagai gambaran umum kondisi masyarakat di sebagian Kota Surabaya. Metode yang digunakan untuk menentukan kualitas lingkungan permukiman adalah metode pendekatan kuantitatif. Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini yaitu data berupa data penginderaan jauh, data sekunder dan data yang diperoleh dari kerja lapangan. Data penginderaan jauh berupa foto udara pankromatik hitam/putih skala 1:10.000 tahun 2001 yang digunakan untuk melakukan interpretasi varibel-variabel yang mempengaruhi kualitas lingkungan permukiman yaitu kepadatan rumah, tata letak dan keteraturan permukiman, pohon pelindung jalan, kondisi permukaan jalan masuk dan lokasi permukiman. Data yang diperoleh dari kerja lapangan yaitu variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan seperti banjir, prasarana air bersih, jamban keluarga, tempat pembuangan sampah dan saluran limbah rumah tangga. Penilaian juga dilakukan terhadap kesehatan masyarakat berdasarkan data sekunder yaitu angka kematian bayi (IMR), angka kematian kasar (CDR), angka kelahiran kasar (CBR) dan pola penyakit yang digunakan untuk mengetahui kesesuaian antara penilaian kualitas lingkungan permukiman dan tingkat kesehatan masyarakat. Hasil penilaian kemudian dikaitkan dengan peta dasar sehingga memperoleh hasil berupa peta tingkat kesehatan masyarakat dan analisis spasial dilakukan pada peta kualitas lingkungan permukiman dan peta tingkat kesehatan masyarakat. Hasil penelitian berupa sebaran kualitas lingkungan permukiman yaitu kualitas lingkungan permukiman kelas I menempati area seluas 562.5 ha (20.2%) dan sebagian besaar dijumpai di Kecamatan Wonocolo. Kualitas lingkungan permukiman kelas 11 seluas 1284.3 ha (46.2%) dan paling luas dijumpai di Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Kualitas lingkungan permukiman kelas III menempati luas 936.3 ha (33.6%) dan sebagian besar terdapat di Kecamatan Tambaksari dan Gubeng. Penilaian terhadap tingkat kesehatan masyarakat dengan menggunakan data sekunder diperoleh hasil berupa sebaran tingkat kesehatan masyarakat yaitu kelas I menempati luas 572.9 ha (20.6%) dan sebagian besar terdapat di Kecamatan Wonocolo, kelas II menempati area seluas 1121.2 ha (40.3%) dan paling luas dijumpai di Kecamatan Tenggilis Mejoyo sedangkan kelas III seluas 1088.9 ha (39.1%) dan sebagian besar terdapat di Kecamatan Gubeng dan Tambaksari. Analisis spasial terhadap peta kualitas lingkungan permukiman dan peta tingkat kesehatan masyarakat di daerah penelitian menunjukkan hubungan kesesuaian pada area seluas 2540,8 ha dan ketidaksesuaian seluas 242,2 ha sedangkan uji statistik pada daerah sampel menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0.635 yang menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki korelasi cukup sehingga dapat diasumsikan bahwa tingkat kesehatan masyarakat memiliki hubungan erat dengan kualitas lingkungan permukiman.
This research was carried out in a part of Surabaya Municipality which are Sub district of Gentng, Tegalsari, Tambaksari, Tenggilis Mejoyo, Wonokromo and Wonocolo. The aims of the research are to study the relation between quality of settlement environment and useful to give image about public health condition in a part of Surabaya municipality. The method to determine a quality of settlement environment is a quantitative approach. Data that were used in this research are remote sensing, secondary and terestrial data. Remote sensing data such as black/white panchromatic aerial photographs on a scale of 1: 10.000 in 2001th were used to interpreted variables that influence on the quality of settlement environment such assettlement density, the building pattern, percentage of trees coverage, street condition and settlement location. Terestrial data such as flood hazard, infrastructure of drinking water, garbage disposal, sewage disposal obtained in fieldwork. Public health evaluation was carried out based on secondary data such as Infant Mortality Rate (IMR), Crude Death Rate (CDR), Crude Birth Rate (CBR) and disease pattern used to know suitability between settlement environment quality and public health rate. The result of the estimation was related to base map to made public health condition map. Spatial analysis was done on the quality of settlement environment map and public health condition map. The product of this research in the form of distribution quality of settlement environment that are first class of quality of settlement environment occupies 562,5 ha (20,2%) and the majority founded in sub district of Wonocolo. Second class of quality of settlement environment occupies 1284,3 ha (46,2%) and the majority accupies in the sub district of Tenggilis Mejoyo. Third class of quality of settlement environment occupies 936.3 (33.6%) and the majority were founded in sub district of Tambaksari and Sub district Gubeng. Evaluation to public health condition used secondary data get public health distribution that are first class of public health condition occupies 572.9 ha (20.6%) and the majority were founded in Sub district of Wonocolo, second occupies 1121.2 ha (40.3%) and the majority were founded in Sub district of Tenggilis Mejoyo. Third class occupies 1088.9 ha (39.1%) and the majority were founded in Sub district of Gubeng and Tambaksari. The spatial analysis of relations between public health condition map and quality of settlement environment map in research area (2783 ha) showed that suitability occupies in 2540,8 ha and unsuitability occupies in 242,2 ha. Statistic test in sample area showed correlation coefficient 0,635 (good correlation). Because of the good correlation, it can be assumed that public health condition has good relations with a quality of settlement environment.
Kata Kunci : Kualitas lingkungan permukiman,kesehatan masyarakat,penginderaan jauh, sistem informasi geografis