Laporkan Masalah

Aktivisme Crowdfunding Digital EXOL di Twitter untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

ANNA MAYKE MEGA FRANSHINE SIAGIAN, Fina Itriyati, Ph.D.

2026 | Skripsi | Sosiologi

Penelitian ini menyelidiki cara penggemar EXO-L Indonesia, menggunakan akun EXOUNIONINA, menumbuhkan empati dan mengorganisir solidaritas digital melalui penggalangan dana berbasis Twitter untuk korban Tragedi Kanjuruhan (1 Oktober 2022). Analisis ini ditempatkan dalam diskusi tentang clicktivism, yang biasanya didefinisikan sebagai aktivisme online berbiaya rendah (misalnya, menyukai, me-retweet, menggunakan hashtag, dan berbagi tautan) yang sering dikutuk karena hanya bersifat simbolis, namun berpotensi menjadi pintu gerbang menuju keterlibatan yang lebih signifikan. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, dengan memanfaatkan Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk, dengan penekanan pada dimensi tekstual (makrostruktur, superstruktur, mikrostruktur), kognisi sosial, dan konteks sosial. Data tersebut mencakup unggahan Twitter EXOUNIONINA berjudul "EXOL Indonesia untuk Korban Kanjuruhan," beserta fitur-fitur terkaitnya (tagar, tautan donasi, dan visual/tangkapan layar kampanye), ditambah dengan wawancara dengan anggota komunitas untuk meningkatkan interpretasi kognisi sosial dan dinamika kontekstual. Hasilnya menunjukkan bahwa unggahan tersebut menggambarkan Kanjuruhan sebagai tragedi kemanusiaan kolektif dan secara sistematis menyusun kontennya untuk mengubah respons emosional menjadi tindakan nyata. Temuan ini menunjukkan bahwa Twitter berfungsi sebagai media utama yang ampuh untuk mengubah empati pribadi menjadi tindakan kolektif melalui taktik clicktivism yang ekstensif. Meskipun dianggap sebagai mode keterlibatan yang dangkal, data menunjukkan bahwa, dalam konteks Tragedi Kanjuruhan, tindakan digital dasar ini secara efektif diubah menjadi dukungan sosial yang signifikan karena "emosi konektif" dan kepercayaan pada transparansi administrasi.Akun @EXOUNIONINA menggunakan metode "pembingkaian empati" untuk menumbuhkan keintiman emosional sambil menghindari perpecahan. Gerakan ini menandai transformasi posisi para penggemar menjadi agen sosial yang mampu melakukan pengawasan terhadap lambatnya respons pihak berwenang terhadap situasi kemanusiaan. Studi ini menunjukkan bahwa aktivisme daring (clicktivism) yang terstruktur secara efektif memiliki potensi besar untuk mengubah "banyak klik" menjadi "dampak jangka panjang"dalam keterlibatan publik di era digital.

This research investigates the manner in which the Indonesian EXO-L fans, utilizing the EXOUNIONINA account, cultivates empathy and orchestrates digital solidarity through Twitter-based fundraisers for the victims of the Kanjuruhan Tragedy (1 October 2022). The analysis is positioned within discussions on clicktivism, typically defined as low-cost online activism (liking, retweeting, hashtag, and link-sharing) that is frequently condemned for being merely symbolic, yet may potentially serve as a gateway to more significant engagement. The research employs a qualitative methodology, utilizing Teun A. Van Dijk’s Critical Discourse Analysis, with an emphasis on textual dimensions (macrostructure, superstructure, microstructure), social cognition, and social context. The data include EXOUNIONINA's Twitter post titled "EXOL Indonesia for Kanjuruhan Victims," together with its associated features (hashtag, donation link, and campaign visual/screenshot), supplemented by interviews with community members to enhance interpretations of social cognition and contextual dynamics. The results indicate that the post characterizes Kanjuruhan as a collective humanitarian tragedy and systematically arranges its content to transform emotional responses into tangible action. The findings demonstrate that Twitter functions as a potent primary medium for converting personal empathy into collective action via extensive clicktivism tactics. Despite being regarded as a superficial mode of engagement, the data demonstrate that, in the context of the Kanjuruhan Tragedy, these basic digital acts were effectively transformed into significant social support owing to "connective emotions" and confidence in administrative transparency. The @EXOUNIONINA account employed an "empathy framing" method to foster emotional intimacy while avoiding divisiveness. This movement signifies a transformation in the fandom's position into social agents capable of exerting oversight over the authorities' sluggish response to the humanitarian situation. This study indicates that effectively structured clicktivism possesses considerable potential to transform "many clicks" into "lasting impact" in public engagement during the digital age.

Kata Kunci : Aktivisme Digital, Kliktivisme, Crowdfunding, EXO-L, Twitter, Tragedi Kanjuruhan

  1. S1-2026-462920-abstract.pdf  
  2. S1-2026-462920-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-462920-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-462920-title.pdf