Adaptasi Pelaku Usaha Jasa Angkut Sampah Terhadap Kebijakan Penutupan TPA Piyungan Studi Kasus : Kecamatan Gamping
Muhammad Fachri Abdual Majid, Prof., Drs., Torontuan Keban Yeremias, MURP., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebijakan
penutupan TPA Piyungan yang menimbulkan perubahan signifikan dalam sistem
pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya bagi pelaku usaha
jasa angkut sampah swasta. Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek
operasional, tetapi juga mempengaruhi aspek ekonomi dan sosial. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis strategi adaptasi yang dilakukan oleh pelaku usaha
jasa angkut sampah dalam menghadapi penutupan TPA Piyungan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan desain studi kasus yang berlokasi di Kecamatan Gamping, Kabupaten
Sleman. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara
mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan
mengacu pada kerangka teori strategi adaptasi organisasi Miles & Snow
(1978) serta didukung oleh perspektif street-level bureaucracy untuk memahami
peran aktor lapangan dalam implementasi kebijakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutupan TPA
Piyungan memberikan dampak signifikan terhadap pelaku usaha jasa angkut sampah,
meliputi peningkatan biaya operasional, keterbatasan akses lokasi pembuangan
alternatif, perubahan pola kerja, serta ketidakpastian dalam keberlanjutan
usaha. Dalam merespons kondisi tersebut, pelaku usaha menunjukkan variasi
strategi adaptasi. Sebagian pelaku usaha cenderung menggunakan strategi
defender dengan mempertahankan pelanggan dan menyesuaikan operasional secara
terbatas, sementara sebagian lainnya menggunakan strategi analyzer dengan kombinasi
upaya bertahan dan mencari peluang baru. Selain itu, terdapat pula pelaku usaha
yang menunjukkan karakteristik strategi reactor yang bersifat reaktif dan belum
terencana secara sistematis . Perbedaan strategi tersebut dipengaruhi oleh
faktor internal seperti kapasitas modal dan pengalaman usaha, serta faktor
eksternal seperti kebijakan pemerintah, akses terhadap lokasi alternatif, dan
jaringan sosial.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemampuan adaptasi
pelaku usaha jasa angkut sampah tidak bersifat homogen, melainkan dipengaruhi
oleh kapasitas sumber daya dan konteks lingkungan kebijakan. Temuan ini
menegaskan pentingnya peran pelaku usaha sebagai aktor lapangan dalam menjaga
keberlanjutan layanan pengelolaan sampah serta perlunya dukungan kebijakan yang
lebih inklusif dan adaptif dari pemerintah.
This research is motivated by the Piyungan Landfill
closure policy, which has resulted in significant changes in the waste
management system in the Special Region of Yogyakarta, particularly for private
waste collection services. This policy not only impacts operational aspects but
also economic and social aspects. This study aims to analyze the adaptation
strategies employed by waste collection service providers in response to the
Piyungan Landfill closure.
This research used a qualitative approach with a case
study design, located in Gamping District, Sleman Regency. Data collection
techniques included observation, in-depth interviews, and documentation. Data
analysis was conducted interactively, referring to Miles & Snow's (1978)
theoretical framework of organizational adaptation strategies, supported by a
street-level bureaucracy perspective to understand the role of field actors in
policy implementation.
The results indicate that the Piyungan Landfill closure
significantly impacted waste collection service providers, including increased
operational costs, limited access to alternative disposal sites, changes in
work patterns, and uncertainty about business continuity. In response to these
conditions, business providers demonstrated a variety of adaptation strategies.
Some businesses tend to employ a defender strategy, retaining customers and
making limited operational adjustments, while others employ an analyzer
strategy, combining survival efforts with the search for new opportunities.
Furthermore, some businesses exhibit characteristics of a reactor strategy,
which is reactive and lacks systematic planning. These differences in strategy
are influenced by internal factors such as capital capacity and business
experience, as well as external factors such as government policies, access to
alternative locations, and social networks.
This study concludes that the adaptability of waste
collection service providers is not homogeneous but is influenced by resource
capacity and the policy environment. These findings underscore the importance
of business actors as field actors in maintaining the sustainability of waste
management services and the need for more inclusive and adaptive policy support
from the government.
Kata Kunci : Strategi Adaptasi, Pelaku Usaha Jasa Angkut Sampah, TPA Piyungan, Miles & Snow, Street-Level Bureaucracy