Laporkan Masalah

POWER BALANCE AND TERRITORIAL DISPUTES: AN ANALYSIS OF THE SOUTH CHINA SEA DISPUTE AND ITS INFLUENCE ON THE RELATIONSHIP BETWEEN CHINA AND INDONESIA

Jason Prasetyo, Randy W. Nandyatama

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sengketa Laut China Selatan membentuk hubungan maritim Indonesia–China pada periode 2000 hingga 2020 dengan menitikberatkan pada respons Indonesia terhadap dinamika kawasan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menerapkan kerangka neorealisme yang merujuk pada pemikiran Kenneth Waltz untuk menjelaskan bagaimana perubahan kapabilitas relatif, kepentingan strategis, dan pertimbangan keamanan memengaruhi perilaku Indonesia. Analisis dibagi ke dalam dua periode utama, yaitu 2000–2010 yang relatif stabil dan 2010–2020 yang ditandai dengan meningkatnya ketegangan akibat meningkatnya asertivitas China di Laut China Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mempertahankan strategi otonomi strategis dengan menyeimbangkan kerja sama ekonomi dengan China serta upaya menjaga kedaulatan maritim, khususnya di wilayah perairan Natuna. Meskipun Indonesia bukan negara pengklaim utama, sengketa tersebut secara tidak langsung memengaruhi hubungan bilateral dengan mendorong sikap diplomatik dan keamanan yang lebih hati-hati dan tegas. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Indonesia mencerminkan praktik balancing yang pragmatis dalam sistem internasional yang anarkis, di mana kerja sama dan kompetisi dengan China berlangsung secara bersamaan dalam menghadapi tantangan maritim.

This thesis examines how the South China Sea dispute shaped Indonesia–China maritime relations between 2000 and 2020 by focusing on Indonesia’s responses to evolving regional tensions. Using a qualitative case study approach, the research applies a neorealist framework, drawing on the work of Kenneth Waltz, to analyze how shifts in relative capabilities, security concerns, and strategic interests influenced Indonesia’s behavior. The study compares two distinct periods—2000–2010, characterized by relative stability, and 2010–2020, marked by intensified confrontation following China’s growing assertiveness in the South China Sea. Findings indicate that Indonesia maintained a strategy of strategic autonomy by balancing economic engagement with China and safeguarding its maritime sovereignty, particularly around the Natuna waters. While Indonesia is not a claimant state, the dispute indirectly shaped bilateral relations by prompting a more cautious and assertive diplomatic and security posture. Overall, the thesis argues that Indonesia’s approach reflects pragmatic balancing within an anarchic international system, where cooperation and competition with China coexist in managing maritime challenges.


Kata Kunci : South China Sea dispute, Indonesia–China relations, maritime security, strategic autonomy, neorealism, balancing strategy, foreign policy, Natuna waters, regional stability, qualitative case study

  1. S1-2026-444328-abstract.pdf  
  2. S1-2026-444328-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-444328-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-444328-title.pdf