Berjuang dalam Senyap: Pengalaman Strategis Mahasiswa Perempuan Universitas Gadjah Mada yang Bekerja terhadap Tantangan Pengelolaan Menstruasi
Agrifina Kurnela Jalasita, Milda Longgeita Br. Pinem, S.Sos., M. A., Ph. D.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Menstruasi merupakan siklus rutin yang dialami oleh sebagian besar perempuan di dunia. Fenomena ini kerap dikaitkan sebagai tanda pendewasaan atau kematangan organ reproduksi perempuan. Meskipun menstruasi bersifat alamiah dan terjadi hampir setiap bulan, perempuan masih harus berhadapan dengan berbagai macam tantangan. Stigma buruk terhadap menstruasi dan terbatasnya fasilitas kesehatan reproduksi kerap menjadi tantangan dalam proses pengelolaan menstruasi. Sebagai mahasiswa perempuan yang bekerja, tantangan pengelolaan menstruasi menciptakan beban baru di samping banyaknya tanggung jawab yang mesti diemban atas peran sosial mereka di masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi dan memaknai kompleksitas pengalaman mahasiswa perempuan yang bekerja dalam menghadapi tantangan pengelolaan menstruasi. Penelitian ditulis secara naratif menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini melibatkan empat informan yang seluruhnya merupakan mahasiswa UGM. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Pengalaman strategis mahasiswa perempuan yang bekerja akan dibaca menggunakan kerangka teori interseksionalitas yang dikembangkan oleh Kimberle Crenshaw.
Hasil penelitian menunjukkan, aspek identitas, struktur sosial, dan relasi kuasa perlu dilihat sebagai satu kesatuan, sehingga pengalaman atau respon informan dapat dipahami. Identitas mahasiswa perempuan yang bekerja bersifat konstitutif, di mana beberapa identitas saling membentuk dan memberi “kesan” pada pengalaman atau kehidupan mereka. Sementara itu, sejumlah nilai-norma maupun sistem menempatkan mahasiswa perempuan yang bekerja dalam posisi sulit sekaligus dilematis. Hambatan yang dijumpai oleh mahasiswa perempuan yang bekerja, kaitannya dengan manajemen kebersihan menstruasi, disebabkan oleh keterbatasan sistem dalam membaca identitas secara utuh. Mahasiswa perempuan yang bekerja, memperlihatkan respon dan strategi yang berbeda-beda. Mereka memproduksi nilai dan sudut pandang baru, juga memberi kontribusi sosial guna mencegah praktik ketidakadilan gender dan mewujudkan sistem yang lebih baik. Strategi mereka dimaknai sebagai upaya memperjuangkan kebebasan, ruang aman, tubuh, dan nilai kemanusiaan.
Menstruation is a regular cycle experienced by most women around the world. This phenomenon is often seen as a sign of the maturation of a woman’s reproductive organs. Although menstruation is a natural process that occurs almost every month, women still face a variety of challenges. The challenges women frequently face in managing their menstruation are related to the negative stigma surrounding menstruation and the limited availability of reproductive health facilities. For working female students, the challenges of managing menstruation create an additional burden alongside the many responsibilities they must shoulder due to their social roles in society. This study was conducted to explore and interpret the complexities of the experiences of working female students in facing the challenges of managing menstruation. The study was written in a narrative style using qualitative methods. It involved four informants, all of whom are students at UGM. Data collection was conducted through interviews and documentation. The strategic experiences of working female students will be analyzed using the intersectionality framework developed by Kimberle Crenshaw.
Research shows that aspects of identity, social structure, and power relations must be viewed as an integrated whole in order to understand the informants’ experiences or responses. The identity of working female students is constitutive, in that multiple identities mutually shape one another and leave an “imprint” on their experiences or lives. Meanwhile, certain values, norms, and systems place working female students in a difficult and dilemmatic position. The barriers encountered by working female students, particularly regarding menstrual hygiene management, stem from the system’s limitations in comprehensively acknowledging identity. Working female students demonstrate diverse responses and strategies. They produce new values and perspectives, and also contribute socially to prevent gender-based injustices and create a better system. Their strategies are interpreted as efforts to fight for freedom, safe spaces, bodily autonomy, and human dignity.
Kata Kunci : Pekerja, mahasiswa, interseksionalitas, peran ganda, kesehatan reproduksi, Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM)