Efikasi Diri Petani Milenial terhadap Motivasi Melanjutkan Usaha Tani Pasca Gagal Panen di Kabupaten Sleman
Bianca Florenza Puspaningrum, Ratih Ineke Wati, S.P., M.Agr., Ph.D.
2026 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIAN
Regenerasi petani menjadi permasalahan dalam keberlanjutan pertanian Indonesia, sebab generasi milenial khawatir akan risiko gagal panen. Gagal panen berpengaruh pada kondisi ekonomi dan psikologi, sehingga dapat menyebabkan petani milenial tidak ingin melanjutkan usaha tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efikasi diri petani milenial hortikultura pasca gagal panen, serta mengetahui pengaruh antara persepsi keberlanjutan usaha tani, interaksi sosial sesama petani, dan pemanfaatan teknologi terhadap efikasi diri dan motivasi melanjutkan usaha tani secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2025 di Kabupaten Sleman yang lokasinya ditentukan secara purposive. Metode dasar yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling yang diambil dari populasi anggota Forum Komunikasi Petani Milenial (FKPM) Sleman. Data penelitian diambil menggunakan kuesioner online dan diperoleh sejumlah 85 responden, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 60% petani milenial hortikultura memiliki efikasi diri yang tinggi pasca gagal panen untuk melanjutkan usaha tani. Faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap efikasi diri pasca gagal panen yaitu persepsi keberlanjutan usaha tani dan interaksi sosial sesama petani. Faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap motivasi melanjutkan usaha tani yaitu persepsi keberlanjutan usaha tani dan efikasi diri pasca gagal panen. Faktor yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap motivasi melanjutkan usaha tani melalui efikasi diri pasca gagal panen yaitu persepsi keberlanjutan usaha tani dan interaksi sosial sesama petani. Penelitian ini memberikan saran yaitu (1) Petani milenial perlu menerapkan lahan uji coba skala kecil saat kurang yakin mengambil keputusan baru. (2) BPP setempat perlu membuat program konsultasi online menggunakan WhatsApp agar dapat memudahkan petani milenial saat menghadapi permasalahan. (3) FKPM Sleman perlu membuat program yang menghubungkan petani milenial dengan pihak luar untuk melakukan kerjasama. (4) Petani milenial perlu menerapkan diversifikasi komoditas hortikultura agar pendapatan dapat lebih stabil.
Farmer regeneration is a problem in the sustainability of Indonesian agriculture, because the millennial generation is worried about the risk of crop failure. Crop failure affects economic and psychological conditions, so it can cause millennial farmers doesn’t want to continue farming. This research aims to determine the level of self-efficacy of millennial horticultural farmers after crop failure, as well as to determine the influence of perceptions of farming sustainability, social interactions among farmers, and the use of technology on self-efficacy and motivation to continue farming, directly and indirectly. This research was conducted from November to December 2025 in Sleman Regency, the location was determined purposively. The basic method is descriptive statistics with a quantitative approach. Sampling in this study used a convenience sampling technique taken from the population of members of the Forum Komunikasi Petani Milenial (FKPM) Sleman. The research data was collected using an online questionnaire and obtained by a total of 85 respondents, then analyzed using the SEM-PLS analysis method. The results showed that more than 60% of millennial horticultural farmers have high self-efficacy after crop failure to continue farming. Factors that directly influence self-efficacy after crop failure are perceptions of the sustainability of farming businesses and social interactions among farmers. Factors that directly influence motivation to continue farming businesses are perceptions of the sustainability of farming businesses and self-efficacy after crop failure. Factors that indirectly influence motivation to continue farming businesses through self-efficacy after crop failure are perceptions of the sustainability of farming businesses and social interactions among farmers. This research provides suggestions, namely (1) Millennial farmers need to implement small-scale trial plots when they are unsure about making new decisions. (2) The local BPP needs to create an online consultation program using WhatsApp to make it easier for millennial farmers when facing problems. (3) FKPM Sleman needs to create a program that connects millennial farmers with external parties for collaboration. (4) Millennial farmers need to implement diversification of horticultural commodities so that income can be more stable.
Kata Kunci : Efikasi Diri, Gagal Panen, Motivasi, Petani Milenial