Laporkan Masalah

Kapabilitas dan Partisipasi Winisatawan sebagai Penopang Implementasi Community Based Tourism pada Desa Wisata Sendangasri

Nabila Rizquna Nur Hidayah, Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D.

2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengimplementasian Community Based Tourism (CBT) dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Implementasi CBT yang menjadi tolak ukur keberhasilan pengembangan pariwisata di daerah tersebut Pada konteks pengembangan pariwisata yang didukung oleh program Corporate Social Responsibility, implementasi CBT sangat ditentukan oleh faktor internal masyarakat, yaitu dari segi kapabilitas dan partisipasi winisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat kapabilitas winisatawan dan tingkat partisipasi winisatawan terhadap tingkat implementasi Community Based Tourism pada Desa Wisata Sendangasri. Desa Wisata Sendangasri merupakan desa di bawah naungan program CSR PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Rembang, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui metode korelasional. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, penyebaran kuesioner, dan wawancara. Data yang telah didapatkan melalui kuesioner kemudian diolah dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi, dan regresi linier berganda. Analisis statistik deskriptif pun diperjelas dengan data wawancara. 


Tingkat kapabilitas winisatawan diukur dengan asumsi seluruh responden memiliki kemampuan melayani winisatawan, kemampuan mengolah cinderamata, dan kemampuan mengelola atraksi wisata. Secara umum, temuan penelitian menunjukkan bahwa winisatawan di Desa Sendangasri memiliki tingkat kapabilitas yang tinggi. Data yang diperoleh dari wawancara menjelaskan faktor yang memengaruhi tinggi rendahnya tingkat kapabilitas winisatawan. Tingginya tingkat kapabilitas winisatawan dipengaruhi oleh meratanya kesadaran masyarakat dan pola keterlibatan aktif yang mendorong masyarakat beradaptasi menjadi winisatawan. Meskipun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa kondisi yang justru dapat memengaruhi penurunan kapabilitas pada aspek tertentu. Salah satu faktor yang ditemukan adalah adanya pembagian tugas yang cukup kaku, di mana individu hanya terlibat pada peran tertentu sesuai dengan tugasnya. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga secara tidak langsung dapat membatasi peningkatan kapabilitas secara menyeluruh.  


Selanjutnya, tingkat partisipasi diukur dengan 4 indikator utama yaitu partisipasi dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, menikmati hasil, dan evaluasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa partisipasi winisatawan di Desa Sendangasri tergolong tinggi yang kemudian diperjelas dengan hasil wawancara. Tingginya tingkat partisipasi disebabkan oleh keterlibatan aktif dalam pelaksanaan dan menikmati hasil. Meskipun tingkat partisipasi winisatawan secara umum berada pada kategori tinggi, terdapat indikasi bahwa integrasi antar masyarakat mulai mengalami penurunan yang dapat memengaruhi tingkat partisipasi tersebut. Melemahnya integrasi ini terlihat dari keterlibatan masyarakat yang cenderung tidak merata dan lebih terfokus pada individu tertentu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar masyarakat masih aktif dalam beberapa kegiatan, tetapi kohesi dan kerja sama antar anggota masyarakat tidak sekuat sebelumnya, sehingga berpotensi menurunkan partisipasi secara kolektif dalam jangka panjang.  


Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kapabilitas winisatawan dan tingkat partisipasi berada pada kategori tinggi dan memberikan pengaruh secara statistik terhadap implementasi CBT. Kedua variabel memberikan pengaruh signifikan terhadap tingkat implementasi CBT, baik secara simultan maupun parsial. Penelitian ini berimplikasi bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya ditentukan dari seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi juga dari kapabilitas dan partisipasi winisatawan sebagai pelaku utama.

This study is motivated by the importance of implementing Community-Based Tourism (CBT) in sustainable tourism development. The implementation of Community Based Tourism (CBT) serves as a benchmark for the success of tourism development in the area. In the context of tourism development supported by Corporate Social Responsibility (CSR) programs, the implementation of CBT is largely determined by internal community factors, namely the capability and participation of tourism hosts. This study analyzes the influence of tourism host capability and participation levels on the implementation of Community-Based Tourism in Sendangasri Tourism Village. Sendangasri Tourism Village is part of the CSR program by PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Rembang, Central Java. This research used a quantitative approach with correlational methods. Data were collected through literature review, questionnaires, and interviews. The data obtained through the questionnaires were then processed and analyzed using descriptive statistics, correlation, and multiple linear regression. Descriptive statistical analysis was also clarified with interview data. 


The level of tourism host capability was measured based on the assumption that all respondents were able to serve tourists, process souvenirs, and manage tourist attractions. In general, the research findings indicate that tourists in Sendangasri Village have a high level of capability. Data obtained from interviews explains the factors that influence the level of tourism host capability. The high level of tourism host capability is influenced by widespread public awareness and active involvement patterns that encourage people to adapt to become tourists. However, the results suggest that several factors may contribute to declines in capability across certain aspects. One factor identified is a fairly rigid division of tasks, in which individuals are only involved in certain roles according to their duties. This condition results in some residents having limited opportunity to develop skills outside their areas of responsibility, thus indirectly limiting the overall increase in capability. 


Furthermore, the level of participation was measured using four main indicators: participation in decision-making, implementation, benefit sharing, and evaluation. The research findings indicate that tourism host participation in Sendangasri Village is relatively high, as further confirmed by the interview results. This high level of participation is due to active involvement in implementation and benefit sharing. Although the level of tourism host participation is generally high, community integration shows signs of decline, which could affect this level of participation. This weakening integration is evident in community involvement, which tends to be uneven and more focused on certain individuals. This condition indicates that although the majority of the community remained active in some activities, cohesion and cooperation among community members are not as strong as before, potentially reducing collective participation in the long term.


The results indicate that the levels of tourism host capability and participation are in the high category and have a statistically significant influence on the implementation of CBT. Both variables significantly influence the level of CBT implementation, both simultaneously and partially. This study implies that the success of CSR programs in tourism development is determined not only by the amount of assistance provided but also by the capability and participation of the community as the main actors.


Kata Kunci : Kapabilitas winisatawan, partisipasi winisatawan, dan Community Based Tourism.

  1. S1-2026-496791-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496791-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496791-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496791-title.pdf