Partisipasi Wanita Tani pada Budidaya Padi Sawah dalam Perspektif Hegemonic Masculinity di Desa Gesikan Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen
Xenia Ezra Amanta, Dr. Dyah Woro Untari, S.P., M.P.
2026 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIANPertanian padi sawah seringkali dikonstruksikan sebagai ranah maskulin yang menempatkan pria sebagai aktor utama, sedangkan wanita cenderung terpinggirkan dan dianggap sebagai pendukung. Kondisi yang berakar dari budaya patriarki ini mengindikasikan adanya praktik hegemonic masculinity dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi wanita tani serta mengungkap kehadiran hegemonic masculinity dalam budidaya padi sawah. Penelitian ini berbentuk kualitatif-deskriptif yang dilaksanakan selama 3 bulan di Desa Gesikan, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Pengumpulan data dilaksanakan menggunakan teknik wawancara, observasi, serta studi dokumentasi terhadap wanita tani, petani pria, ketua kelompok tani, PPL, dan Koordinator Penyuluh BPP. Analisis data meliputi pengumpulan, reduksi, dan penyajian data, serta penyimpulan hasil penelitian dengan uji keabsahan data melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita tani berpartisipasi aktif pada hampir semua tahapan budidaya padi, tetapi tersegmentasi pada kegiatan yang dianggap ringan dan menuntut ketelitian. Manifestasi hegemonic masculinity ditemukan dalam empat dimensi utama: (1) Narasi dan simbolisme, di mana identitas “petani sejati” dilekatkan kepada pria dan alat pertanian yang bias gender; (2) Pembagian kerja yang menempatkan wanita pada pekerjaan kurang bernilai, sedangkan pria mendominasi pekerjaan bernilai; (3) Pengambilan keputusan yang didominasi pria, baik pengambilan keputusan ranah teknis dan ekonomi di rumah tangga tani maupun pengambilan keputusan kelompok tani; (4) Interaksi dengan institusi yang secara administratif dan praktik menempatkan pria sebagai representasi sah rumah tangga tani dan aktor utama pertanian. Dengan demikian, partisipasi wanita tani pada budidaya padi sawah di Desa Gesikan terjadi dalam kerangka hegemonic masculinity yang bekerja secara halus dan menyeluruh dari ranah simbolik hingga institusional.
Wetland rice farming is frequently constructed as a masculine domain that positions men as the primary actors, while women tend to be marginalized and regarded as mere supporters. This condition, rooted in patriarchal culture, indicates the practice of hegemonic masculinity within rural communities. This study aims to analyze the participation of female farmers and uncover the presence of hegemonic masculinity in wetland rice cultivation. This research employs a descriptive qualitative method, conducted over three months in Gesikan Village, Kebumen District, Kebumen Regency. Data collection was carried out through interviews, observations, and documentary studies involving female farmers, male farmers, heads of farmer groups, field agricultural officers (PPL), and the Extension Coordinator of the Agricultural Extension Center (BPP). Data analysis included data collection, reduction, display, and drawing conclusions, with data validity ensured through source and method triangulation. The results indicate that female farmers participate actively in nearly all stages of rice cultivation, yet their involvement is segmented into tasks perceived as "light" and requiring "meticulousness." The manifestation of hegemonic masculinity was identified across four primary dimensions; (1) Narrative and Symbolism: Where the identity of a "true farmer" is exclusively attached to men and agricultural tools remain gender-biased; (2) Division of Labor: Which relegates women to lower-valued tasks while men dominate high-value labor; (3) Decision-Making: Dominated by men in both technical and economic spheres within the farm household, as well as in farmer group organizations; (4) Institutional Interaction: Where administrative and practical frameworks position men as the legitimate representatives of the farm household and the lead actors in agriculture. In conclusion, the participation of female farmers in wetland rice cultivation in Gesikan Village occurs within a framework of hegemonic masculinity that operates subtly and pervasively, ranging from the symbolic to the institutional realm.
Kata Kunci : Budidaya Padi, Gender, Hegemonic Masculinity, Partisipasi, Wanita Tani